Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)
Sejarah spiritual dalam Islam tidak pernah bertumbuh dari kenyamanan. Isra Mikraj tidak hadir di puncak kejayaan, melainkan turun ketika kehidupan Rasulullah SAW berada pada fase paling sunyi dan berat.
Peristiwa agung ini secara historis terjadi pada tahun ke-10 kenabian, sekitar 621 Masehi, setahun sebelum hijrah ke Madinah.
Tahun tersebut dikenal sebagai Aamul Huzni, tahun kesedihan, ketika Nabi kehilangan dua pilar utama hidup dan dakwahnya: Khadijah RA, penopang emosional dan spiritual, serta Abu Thalib, pelindung sosial yang selama ini meredam tekanan Quraisy.
Dalam fase kehilangan ini, Allah menegaskan bahwa jalan para rasul selalu ditempa oleh ujian panjang, dan keteguhan hanya lahir dari kesabaran yang mendalam (Q.S. Hud: 120).
Kesedihan itu mencapai titik nadir ketika Rasulullah SAW melangkah menuju Thaif, berharap menemukan ruang baru bagi dakwah setelah Makkah menutup diri.
Namun yang menanti bukan penerimaan, melainkan penolakan paling menyakitkan sepanjang hidup beliau.
Para pemuka Thaif menggerakkan anak-anak dan budak untuk melempari Nabi dengan batu hingga tubuh beliau terluka dan berdarah.
Dalam kondisi terasing dan tak berdaya, Rasulullah berlindung seorang diri di sebuah kebun anggur.
Pada saat harapan manusiawi runtuh sepenuhnya, Nabi tidak mengadukan dendam, tetapi menyerahkan diri secara total kepada Allah, menegaskan bahwa selama Allah tidak murka, penderitaan tetap berada dalam lingkaran kasih-Nya (Q.S. Al-An‘am: 54). Saat itulah bumi terasa benar-benar menutup pintu bagi risalah.
Baca juga: Bukan Sekadar Perjalanan Spiritual Rasulullah, UAH Ungkap Pelajaran Besar dari Isra dan Miraj
Namun justru dari luka yang paling dalam itulah Allah tidak menghadirkan pelarian duniawi. Tidak ada kekuasaan, tidak pula kemenangan instan atau hiburan material.
Yang Allah berikan adalah perjalanan melampaui batas bumi dan langit (Q.S. Al-Isra: 1), mengangkat Rasulullah dari ruang hidup yang menyempit menuju keluasan makna di sisi Sang Khaliq.
Isra Mikraj menegaskan bahwa luka terdalam sering menjadi pintu kenaikan derajat, dan bahwa penolakan manusia bukan akhir dari kemuliaan seorang hamba.
Dari perjalanan itulah Rasulullah SAW menerima perintah shalat, ibadah yang menghubungkan langit dan bumi, penderitaan dan harapan. Shalat tidak hanya menenangkan batin, tetapi mengangkat martabat kehidupan manusia.
Pesan teologisnya tegas: kenaikan derajat tidak lahir tanpa ujian terdalam, dan kemuliaan spiritual tumbuh dari keteguhan di tengah kesempitan.
Kini, pada peringatan Isra Mikraj 2026, umat Islam mengenang sekitar 1.405 tahun peristiwa yang menembus batas nalar.
Namun peringatan ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia adalah undangan reflektif untuk membaca ulang relasi antara penderitaan, iman, dan kebangkitan—terutama saat bencana kembali menyapa Sumatra, khususnya Aceh.
Banjir, longsor, dan kerusakan ekologis yang terjadi bukan semata gejala alam. Ia mengguncang rasa aman, memori kolektif, dan ketahanan sosial masyarakat.
Air yang meluap seolah mengulang bahasa luka lama. Aceh, daerah yang telah lama berdamai dengan tragedi, kembali diuji.
Dalam kacamata spiritual Islam, Aceh sedang berada dalam Aamul Huzni kolektif, sebuah fase kesedihan bersama yang menuntut perenungan makna, bukan sekadar empati sesaat.
Islam tidak pernah memandang musibah sebagai peristiwa tanpa hikmah. Al-Qur’an menegaskan bahwa ujian adalah bagian tak terpisahkan dari sunnatullah kehidupan (Q.S. Al-Baqarah: 155).
Penderitaan bukan semata hukuman, melainkan mekanisme penyadaran. Isra Mikraj mengajarkan bahwa setelah kesedihan terdalam, Allah membuka ruang kenaikan, tetapi kenaikan itu hanya bermakna jika disertai kesiapan batin dan keberanian untuk mengubah arah hidup.
Perintah shalat yang diterima Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha bukan sekadar ritual personal. Ia merupakan fondasi peradaban.
Shalat melatih disiplin waktu, ketundukan moral, dan kesetaraan sosial. Semua berdiri sejajar dalam satu saf, tanpa sekat status dan hierarki.
Karena itu Isra Mikraj tidak berhenti di langit, melainkan harus terwujud dalam tata kehidupan di bumi.
Menariknya, Isra Mikraj juga menandai lonjakan imajinasi peradaban yang lahir dari krisis.
Perjalanan Nabi dengan Buraq mengajarkan bahwa keluar dari kesempitan memerlukan ikhtiar luar biasa, bukan langkah biasa.
Shalat tidak ditunggu turun, tetapi dijemput melalui cara yang cepat, tepat, dan terarah.
Dalam konteks bencana, pesan ini menegaskan bahwa penderitaan tidak cukup dihadapi dengan doa dan kesabaran saja, melainkan harus disertai usaha serius, cerdas, dan terencana.
Islam mendorong penggunaan akal, ilmu, dan teknologi sebagai sarana keluar dari musibah—mulai dari mitigasi bencana hingga pengelolaan lingkungan.
Namun semua ikhtiar itu harus berpijak pada kedewasaan spiritual, sebab kecepatan tanpa kompas moral hanya akan melahirkan krisis baru.
Di titik inilah bencana Aceh menemukan makna reflektifnya. Jika musibah hanya melahirkan ratapan, ia akan menjadi beban sejarah.
Namun jika ia dipahami sebagai ummul ‘ibrah, sumber pelajaran, dan melahirkan transformasi spiritual serta sosial, maka ia dapat menjadi jalan kenaikan derajat kolektif, sebagaimana Isra Mikraj mengalir dari Aamul Huzni menuju fase penuh keberkahan.
Pertama, kenaikan derajat spiritual. Bencana seharusnya melembutkan hati dan meruntuhkan ilusi dominasi manusia atas alam.
Islam menempatkan manusia sebagai khalifah, bukan penguasa mutlak (Q.S. Al-Baqarah: 30). Dalam konteks ini, shalat, doa, dan dzikir bukan pelarian, melainkan rekonstruksi etika manusia terhadap ciptaan Tuhan.
Kedua, kenaikan derajat sosial. Dalam musibah, ukhuwah diuji secara nyata. Solidaritas bukan jargon, melainkan tindakan konkret.
Seperti shalat yang menyatukan individu dalam satu barisan, bencana seharusnya memperkuat persaudaraan lintas kelas dan kepentingan.
Ketiga, kenaikan derajat kelembagaan. Isra Mikraj melahirkan sistem ibadah yang terstruktur; bencana pun seharusnya melahirkan tata kelola yang adil, berbasis ilmu, dan berkelanjutan.
Mitigasi dan keadilan lingkungan merupakan bagian dari ibadah sosial (Q.S. Al-A’raf: 56).
Keempat, kenaikan derajat moral dan kepemimpinan. Setiap musibah membuka ujian amanah. Nabi diangkat derajatnya karena akhlaknya teruji justru di masa sulit.
Aceh pun hanya akan naik derajat jika kesedihan ini melahirkan kejujuran, integritas, dan tanggung jawab kolektif.
Isra Mikraj menyampaikan pesan yang lembut sekaligus tegas: Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang terluka. Ketika bumi terasa menyempit, langit dibukakan.
Namun penghiburan Ilahi selalu datang bersama tanggung jawab. Rasulullah tidak tinggal di langit setelah Mikraj; beliau kembali ke bumi untuk memikul risalah yang lebih berat.
Begitu pula Aceh. Kesedihan ini bukan tempat berhenti, melainkan titik berangkat.
Dari air mata harus lahir kebijaksanaan, dari kehilangan harus tumbuh komitmen, dan dari bencana harus muncul keberanian untuk memperbaiki diri.
Jika Isra Mikraj adalah jawaban Tuhan atas ummul huzni Rasulullah, maka bencana Aceh adalah pertanyaan Tuhan kepada kita semua: apakah kesedihan ini akan kita jawab dengan perubahan, atau kita biarkan berlalu tanpa makna?
Dalam Islam, musibah bukan tanda kehancuran, melainkan undangan untuk naik lebih tinggi, selama manusia bersedia membaca tanda-tanda-Nya dan kembali ke jalan yang lurus.
*) PENULIS adalah profesor di bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK). E-mail: mshabri@usk.ac.id