Kisah ini semakin memilukan karena Yamanaka dan Kawashima ternyata sahabat lama sejak SMA.
SERAMBINEWS.COM, TOKYO - Sebuah tragedi mengejutkan mengguncang ibu kota Jepang yakni di Kota Tokyo.
Seorang manajer penjualan berusia 45 tahun, Masahiro Yamanaka, ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan terhadap atasannya, Presiden Direktur (Presdir) perusahaan peralatan audio, Akihiro Kawashima (44).
Motif yang diduga sederhana--bonus akhir tahun yang dipotong--berubah menjadi pemicu aksi brutal yang merenggut nyawa seorang sahabat lama.
Insiden terjadi di apartemen Kawashima di Distrik Ota, Tokyo, antara Rabu malam (7/1/2026) hingga Kamis pagi.
Berdasarkan penyelidikan, Yamanaka menyemprotkan insektisida ke wajah korban sebelum menikamnya dengan pisau buah yang dibawa dari rumah.
Kawashima ditemukan dengan lebih dari 10 luka tusukan di leher, perut, dan paha, serta luka di jari yang menunjukkan ia sempat melawan.
Baca juga: Penikaman Terjadi di Tel Aviv, Penyerang Ditembak Mati, Korban Alami Luka Tusuk Dilarikan ke RS
Rekaman CCTV memperlihatkan Yamanaka meninggalkan rumahnya pukul 17.00, masuk ke apartemen korban sekitar 17.40, dan keluar sekitar 19.30.
Polisi juga menemukan jejak kaki berlumuran darah serta dugaan pergantian pakaian untuk menghilangkan jejak.
Setelah meninggalkan lokasi, Yamanaka sempat bertemu seorang teman di restoran dan berpindah-pindah bar hingga dini hari.
Dalam pemeriksaan, Yamanaka mengaku sakit hati karena bonus akhir tahunnya dipotong dari 1,5 bulan gaji menjadi hanya satu bulan.
Slip gaji yang ditemukan di rumahnya memperkuat pengakuan tersebut.
Ia juga mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kondisi kerja dan sikap atasannya.
“Jika kata-kata tidak mempan, saya harus membuatnya berubah pikiran, meski itu berarti membuatnya menderita,” katanya kepada penyidik.
Baca juga: Fakta-fakta Penikaman Aktor Sandy Permana: Diduga Dendam Tetangga hingga Tewas Karena Luka Tusuk
Meski demikian, Yamanaka bersikeras tidak berniat membunuh.
“Saya memang menikamnya, tetapi saya tidak berniat membunuh,” ujarnya dalam pemeriksaan lanjutan.
Kisah ini semakin memilukan karena Yamanaka dan Kawashima ternyata sahabat lama sejak SMA.
Kawashima bahkan yang mengajak Yamanaka bergabung ke perusahaannya empat tahun lalu, berharap ia bisa menjadi penghubung antara manajemen dan karyawan.
Keduanya sering bepergian bersama untuk urusan pekerjaan, dan Kawashima disebut menangis haru saat menghadiri pernikahan Yamanaka delapan tahun lalu.
Ibu Yamanaka, berusia 72 tahun, menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Ia menggambarkan putranya sebagai anak ceria dan lembut yang tidak menyukai kekerasan.
Baca juga: Remaja 18 Tahun Lakukan Penikaman Massal di Masjid Turki, 5 Orang Terluka, Pelaku Ditangkap
“Jika dia punya masalah di tempat kerja, seharusnya dia pergi saja. Sekarang dia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki,” katanya penuh penyesalan.
Baca juga: Terungkap Indentitas Korban dan Pelaku Pembunuhan di Peureulak Barat Aceh Timur
Polisi masih menyelidiki apakah pembunuhan ini direncanakan dan memastikan apakah pemotongan bonus benar-benar menjadi pemicu utama.
Sementara itu, masyarakat Jepang kembali diingatkan bahwa tekanan di dunia kerja bisa berujung pada tragedi tak terduga.(*)