Banjir Landa Jawa, 21 Hektare Sawah Banten Terancam Puso, Viral Jenazah Dibawa Pakai Perahu di Pati
January 17, 2026 03:31 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah wilayah di Pulau Jawa dilanda banjir yang menggenangi pemukiman hingga persawahan.

Di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, banjir turut berdampak pada sektor pertanian. Sebanyak 2.165 hektare lahan sawah terendam air.

Peristiwa yang dipicu hujan deras akhir-akhir ini menambah daftar panjang bencana banjir yang melanda wilayah di Indonesia sejak awal tahun 2026. Termasuk wilayah di luar Pulau Jawa. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem terjadi wilayah Indonesia pada bulan Januari 2026. Kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi memicu banjir, tanah longsor, serta banjir bandang.

Dilihat pada situs resmi BMKG pada Selasa (16/1/2026), sejumlah daerah termasuk Jawa Tengah diprediksi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat (level Siaga) tiga hari ini. 

Wilayah-wilayah tersebut berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem. 

21 Hektare Sawah di Pandeglang, Banten Terancam Puso

Dikutip dari Tribun Banten, banjir berdampak pada 2.165 hektare lahan sawah di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar, menjelaskan luasan sawah yang terendam banjir tersebar di 13 kecamatan.

“Berdasarkan hasil pendataan petugas di lapangan, sekitar 2.165 hektare sawah terdampak banjir. Sebarannya berada di 13 kecamatan di Pandeglang,” ujar Uun, Kamis (15/1/2026).

Selain terendam banjir, puluhan hektare sawah terancam mengalami gagal panen atau puso. 

Baca juga: Menteri PU Dody Hanggodo: Sudah Tak Ada Lagi Daerah di Sumatera yang Terisolir akibat Banjir Bandang

Meski begitu, lahan yang berpotensi gagal panen tercatat sekitar 21 hektare dan masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah.

Uun mengatakan usia tanaman padi yang terdampak banjir bervariasi. Mulai dari 30 hingga 100 hari. Bahkan, menurutnya, sebagian tanaman sudah mendekati masa panen saat banjir terjadi.

“Ada tanaman yang usianya sudah mendekati panen, namun terendam banjir,” ungkapnya. 

Dinas Pertanian Pandeglang pun telah mengajukan permohonan bantuan benih padi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten serta mengusulkan bantuan beras bagi para petani terdampak.

Hal itu sebagai upaya penanganan menanggulangi dampak banjir pada sektor pertanian.

Namun, kata Uun, untuk lahan yang telah masuk kategori puso, hingga kini belum tersedia skema bantuan langsung dari pemerintah pusat maupun daerah.

Banjir di Jateng, Jasad Warga Pati Diantar Pakai Perahu

Banjir melanda tiga kabupaten di Jawa Tengah, yakni Pati, Jepara, dan Kudus.

Penanganan bencana banjir dan tanah longsor terus dilakukan di wilayah Tim gabungan bersama pemerintah daerah.

Mulai dari evakuasi warga, pendistribusian bantuan, serta pembersihan material longsor demi memulihkan kondisi masyarakat terdampak. Wilayah terdampak banjir meliputi:

Kabupaten Kudus
Kecamatan: Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Dawe, Gebog, Kaliwungu, Jati

Kabupaten Jepara
Kecamatan: Donorojo, Keling, Kembang, Bangsri, Mlonggo, Pakis Aji, Jepara, Tahunan, Batealit, Kedung Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari

Kabupaten Pati 
Kecamatan: Pati, Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Dukuhseti, Tlogowungu, Margorejo, Tambakromo, Gabus, Winong, Batangan, Juwana, Pucakwangi, Jakenan. 

Di Pati, genangan air yang merendam permukiman menghadirkan suasana duka bagi warga.

Selain menimbulkan kerugian materi dan masalah kesehatan, banjir mengganggu aktivitas warga.

Bahkan, warga Desa Mintobasuki, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, yang meninggal hendak dimakamkan terpaksa jenazahnya dibawa menggunakan perahu kayu. Momen tersebut, viral di media sosial.

Perahu kayu bermesin tempel bergerak perlahan di atas air keruh yang mencapai ketinggian paha orang dewasa pada Kamis pagi (15/1/2026).

Perahu tersebut difungsikan sebagai ambulans air darurat untuk mengantarkan jenazah warga menuju pemakaman.

Masih mengutip Tribun Jateng, jenazah Warsono, warga setempat, dibaringkan di dalam keranda dan ditutup terpal biru di atas perahu.

Sejumlah pengantar jenazah duduk di perahu sambil memegang payung, melindungi jasad almarhum dari rintik hujan. Sementara beberapa warga berjalan mengawal laju perahu agar tetap aman.

Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, mengatakan proses membawa jenazah menggunakan perahu berdasarkan keputusan bersama antara keluarga dan warga setempat.

Sebab, mobil jenazah di wilayah tersebut, tidak dapat digunakan dalam situasi tersebut.

"Tadi kontak mobil jenazah ternyata sedang dipakai. Akhirnya pihak keluarga dan masyarakat sepakat diantar melalui perahu."

"Karena lokasi makamnya melewati jalur sawah yang semuanya sudah terendam, jadi memungkinkan untuk dilewati perahu," kata Abdul Mustaji saat dikonfirmasi.

Baca juga: Pemerintah Mulai Rehabilitasi Lahan Sawah Terdampak Banjir Bandang Sumatera

Mustaji menjelaskan jalur yang dilalui perahu melewati area persawahan yang kini telah berubah menjadi genangan air luas.

Meski begitu, Mustaji memastikan ada area tanah yang relatif lebih tinggi di lokasi pemakaman untuk proses penguburan jenazah.

Banjir di Desa Mintobasuki mulai terjadi sejak Sabtu sore (10/1/2026) akibat luapan Sungai Silugonggo. 

Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam, dengan dampak mencapai 313 KK atau sekitar 800 jiwa.

Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter.

Tak hanya merendam permukiman, banjir melumpuhkan sektor pertanian. Tercatat, 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen terendam air.

Adapun kerugian materiel akibat kerusakan lahan pertanian ini diperkirakan mencapai Rp515 juta.

Banjir di Lamongan, Harga Kebutuhan Pokok Naik

Banjir juga melanda wilayah di Lamongan, Jawa Timur. Akibat air yang tak kunjung surut, harga kebutuhan pokok naik.

Hal tersebut semakin membebankan warga yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero ini.

Kepala Dusun Glagah, Kecamatan Glagah, Suparjo, menjelaskan kondisi wilayah yang terisolasi dan sulitnya akses transportasi menyebabkan distribusi barang terhambat sehingga berdampak pada kenaikan harga barang.

"Banjir sudah berjalan 2 bulan, ekonomi, sembako dan yang lain mengalama kenaikan, akses jalan terendam hanya bisa dilewati dengan perahu," kata Suparjo, Jumat (16/1/2026), dilansir TribunJatim.com.

Suparjo membeberkan kenaikan harga terjadi pada berbagai komoditas dapur.

Menurutnya, rata-rata kenaikan berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 dari harga normal.

Kenaikan tersebut, dinilai sangat signifikan bagi warga yang saat ini aktivitas ekonominya juga terhenti akibat banjir.

Sementara itu, debit air di wilayah Bengawan Jero masih fluktuatif tergantung intensitas curah hujan. 

Warga pun diimbau tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air susulan sembari menunggu bantuan logistik dan normalisasi harga di pasar lokal.

(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, TribunBanten.com/Misbahudin, TribunJateng.com/Lyz, TribunJatim.com/Hanif Manshuri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.