TRIBUNNEWS.COM - Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menggelar kegiatan Golek Garwa, sebuah ikhtiar mempertemukan jodoh secara aman, terarah, dan sesuai dengan syariat di tengah tantangan pencarian pasangan pada era digital.
Program ini lahir dari diskusi internal pengurus masjid dan berbagai masukan masyarakat, khususnya melihat fenomena banyaknya warga lajang di Kota Solo.
Golek Garwa juga diinisiasi kerja sama Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dengan Fortais dan Kemenag Surakarta.
Direktur Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Munajat, menjelaskan kegiatan ini berawal dari inisiatif yang juga terinspirasi dari kegiatan serupa di Yogyakarta.
Kala itu, pada 2025, tema besar Masjid Raya Sheikh Zayed Solo adalah keluarga sehingga muncul gagasan menghadirkan forum pencarian jodoh yang lebih aman dan terarah.
“Ini hasil diskusi dengan para pengurus dan berbagai masukan, di Solo itu banyak yang jomblo. Kegiatan ini juga atas inisiasi Jogja. Tahun 2025 itu tema kita adalah ‘keluarga’, jadi membuat acara Golek Garwa,” ujar Munajat kepada Tribunnews.com, Jumat (1/1/2026).
Ia menilai kemajuan teknologi dan media sosial tidak selalu memudahkan seseorang mendapatkan pasangan.
Bahkan, tidak jarang muncul kasus penipuan dan penyalahgunaan identitas di ruang digital.
"Kita menilai era digital pun tidak menjamin mereka untuk bisa dengan mudah mendapatkan pasangan. Malah kadang di sosial media sering ada penipuan, kasus-kasus, dan lain sebagainya. Akhirnya kita buat Golek Garwa," ujar Munajat.
Munajat menegaskan Golek Garwa dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta mengedepankan kerahasiaan terkait identitas diri.
Para peserta mengikuti proses taaruf dengan menyerahkan data diri kepada panitia dan dilengkapi dengan beberap berkas sesuai aturan pemerintah.
Baca juga: Alasan di Balik Adaptasi Novel Tak Kenal Maka Taaruf ke Layar Lebar
Peserta yang ingin berpoligami tidak diperkenankan mengikuti kegiatan ini.
"Semua data kita screening dulu. Semua harus lajang, kalaupun duda atau janda harus melampirkan surat perceraian atau akta meninggal. Mereka juga akan menandatangani pakta integritas," jelasnya.
"Data diri para pendaftar sangat dirahasiakan dalam kegiatan ini, kecuali jika sudah resmi menyatakan cocok dan bersama, itu pun jika yang bersangkutan mau juga," ujarnya.
Para peserta juga diminta terbuka mengenai kekurangan dan kendala yang selama ini membuat mereka belum mendapatkan pasangan.
Meski demikian, Munajat memastikan seluruh data pribadi pendaftar dijaga kerahasiaannya.
Sejak pertama kali digelar, antusiasme masyarakat pada kegiatan Golek Garwa ini sangat tinggi.
Pada kegiatan perdananya yang digelar pada tahun 2025, dengan acara ta'aruf perdana dilaksanakan pada Sabtu-Minggu, 8-9 Maret 2025, sekitar 700 orang mendaftar.
Antusiasme juga terjadi pada acara Golek Garwa kedua, 5–6 Juli 2025.
pADA sesi ketiga yang akan digelar pada 28 Februari–1 Maret 2026 ini, sudah ada 250 orang yang mendaftar.
"Sampai hari ini (16 Januari) belum banyak, tapi sudah ada sekitar 250-an orang yang mendaftar (acara Golek Garwa)," kata Irine, Office Staff Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Jumat, kepada Tribunnews.com.
Adapun Munajat menambahi sampai saat ini sudah ada total 2.000 peserta yang ikut mendaftarkan diri, itu belum dikurangi orang-orang yang mundur karena sudah mendapatkan jodoh di tempat lain.
Usia peserta Golek Garwa sangat beragam, mulai dari 20 hingga 78 tahun.
Munajat menjelaskan tidak ada sistem perjodohan dalam kegiatan ini.
Setiap peserta bebas memilih sendiri pasangannya saat sesi pengenalan.
“Tidak ada sistem perjodohan, mereka akan memilih sendiri-sendiri pasangannya. Satu orang boleh memilih lebih dari satu, nanti mana yang saling terhubung,” kata Munajat.
Ia mencontohkan pernah terjadi satu peserta dipilih oleh puluhan orang sekaligus.
“Dulu sempat ada 50 orang sama-sama memilih satu orang yang sama. Tinggal orang tersebut cocok yang mana,” ujarnya.
Selanjutnya, jika sudah saling berkenalan, mereka menandai pilihannya dan melakukan follow up kepada panitia.
Panitia kemudian melakukan pencocokan terhadap peserta yang saling menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan pendalaman masing-masing.
Hasilnya pun bisa beragam.
“Ada yang jadi, ada yang tidak, dan itu biasa terjadi,” tambah Munajat.
Dalam pelaksanaannya, Golek Garwa juga memiliki sesi penyampaian perasaan yang dilakukan secara tertutup.
Munajat menyebut pernah ada lima pasangan yang resmi menjalin hubungan pada hari tersebut.
Dari kedua kegiatan yang sudah berjalan, tercatat sekitar 40 pasangan yang melaporkan telah resmi bersama.
Bahkan, pada 2 Desember lalu, enam pasangan yang bertemu melalui Golek Garwa telah dinikahkan di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo dengan fasilitas lengkap.
“Kita nikahkan di Masjid Zayed, fasilitasnya honeymoon di hotel Solo bintang empat, rias, cincin kawin, mahar 100 dirham,” ungkap Munajat.
Hingga kini pihak masjid belum menerima keluhan dari para peserta.
“Sejauh ini tidak ada komplain,” katanya.
Munajat berharap Golek Garwa terus membawa keberkahan dan semakin banyak membersamai peserta untuk menemukan jodohnya pada 2026.
“Harapannya semoga banyak yang berjodoh di 2026. Kita diniati baik untuk menyempurnakan ibadah. Kalau niatnya baik, kebaikan akan bergulir,” katanya.
(Tribunnews.com/Galuh Widya Wardani)