Jelang Ramadan, Harga Cabai dan Ayam di Banyumas Turun, Pasokan Bahan Pokok Aman
January 17, 2026 11:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Menjelang bulan suci Ramadhan, pemerintah Kabupaten Banyumas memastikan ketersediaan bahan pangan pokok masih dalam kondisi aman.

Bahkan sejumlah komoditas strategis tercatat mengalami penurunan harga usai libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Berdasarkan data Sigaokmas per Jumat (16/1/2026), harga cabai rawit merah rata - rata di berbagai pasar Banyumas tercatat Rp36.200 per kilogram, setelah sebelumnya sempat menembus kisaran Rp80.000 per kilogram menjelang Nataru.

Sementara itu, cabai merah besar dan cabai merah keriting berada di kisaran Rp29.500 per kilogram. 

Cabai rawit hijau tercatat Rp38.640 per kilogram, turun dari sebelumnya yang sempat berada di atas Rp50.000 per kilogram.

Adapun harga daging ayam ras berada di kisaran Rp38.760 per kilogram dari sebelumnya Rp41.000 per kilogram. 

Telur ayam ras juga turun menjadi Rp29.500 per kilogram setelah sempat menyentuh Rp31.000 per kilogram. 

Baca juga: "Kami Berteriak Peringatkan Warga," Kesaksian Korban Puting Beliung di Kotayasa Banyumas

Pemerintah daerah melalui Pemerintah Kabupaten Banyumas terus mengintensifkan pemantauan harga dan pasokan bahan pokok di pasar-pasar tradisional guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan konsumsi masyarakat saat Ramadhan.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, mengatakan monitoring dilakukan secara rutin meskipun jarak antara perayaan Nataru dan Ramadhan tahun ini relatif berdekatan.

"Kami rutin melakukan monitoring. Kalau ada kenaikan harga tapi masih dalam batas wajar, kami tidak langsung melakukan intervensi. 

Yang terpenting saat ini adalah memastikan ketersediaan pasokan tetap aman," kata Gatot kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (16/1/2026).

Apabila dari hasil pemantauan ditemukan potensi risiko terhadap ketersediaan bahan pokok, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, seperti Dinas Pertanian dan instansi pengampu lainnya, untuk memastikan sumber pasokan tetap terjaga.

Menurut Gatot, hingga saat ini pasokan sejumlah komoditas utama seperti telur ayam, daging ayam, dan daging sapi masih mencukupi kebutuhan pasar. 

Bahkan, stok beberapa komoditas sebelumnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat lebih dari satu bulan, khususnya saat masa libur Nataru.

"Sekarang jaraknya belum sampai satu bulan dari Nataru, jadi sampai hari ini kami pastikan semua kebutuhan pasar masih aman. 

Bulan berikutnya akan kami evaluasi kembali setelah dilakukan pemantauan harga dan pasokan," ujarnya.

Gatot juga menyebutkan, fluktuasi harga pasca-Nataru cenderung stabil. 

Bahkan, beberapa komoditas justru mengalami penurunan seiring dengan normalisasi permintaan masyarakat.

"Setelah Nataru harga relatif kembali normal. Untuk Ramadhan pengaruhnya lebih pada peningkatan permintaan. Kalau pasokannya aman, fluktuasi harga tidak akan terlalu besar," katanya.

Pemantauan harga dan pasokan, lanjut dia, akan lebih diintensifkan sekitar sepekan menjelang Ramadhan. 

Evaluasi akan dilakukan langsung ke distributor dan sumber-sumber pasokan bahan pokok.

Apabila dalam evaluasi ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan khusus, Pemkab Banyumas akan mengambil langkah strategis dengan melibatkan kepala daerah.

"Kalau ada situasi yang kami anggap penting, nanti bisa dilakukan pemantauan khusus bersama Pak Bupati, Sadewo Tri Lastiono, dan pengambilan langkah yang diperlukan," tegas Gatot.

Ia menambahkan, masyarakat dapat memantau perkembangan harga bahan pokok melalui laman Sistem Informasi Harga Bahan Pokok Banyumas (Sigaokmas). 

Selain itu, media sosial resmi Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Banyumas juga akan menyajikan informasi terbaru terkait harga dan ketersediaan pasokan.

"Insyaallah harga dan ketersediaan pasokan kebutuhan pokok masyarakat masih aman. Bahkan, beberapa komoditas seperti cabai, daging ayam ras, dan telur ayam ras cenderung turun," katanya. 

Salah seorang pedagang daging ayam ras di Pasar Jatilawang, Muji Lestari mengatakan meskipun ayam dalam harga yang turun tapi tidak sama dengan tingkat kelarisannya. 

"Sekarang itu asal habis saja dagangannya sudah mending, karena pedagang sudah banyak di pasar-pasar desa yang kecil. Jadi tingkat kunjungan ke pasar sedikit menurun," katanya. 

Dalam sehari di hari biasa paling hanya laku sekitar 30 kilogram ayam potong. 

"Kalau tidak laku di pasar, ya kita bawa rumah, lalu di frozen dan dijual buat warga atau tetangga biasanya," tutupnya. (jti) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.