TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Belakangan riuh di media sosial perdebatan tentang pelaksanaan Nyepi.
Bahkan perdebatan kian memanas dan mengarah ke arah politisasi dan meninggalkan esensi Nyepi itu sendiri.
Budayawan Bali, Kadek Wahyudita pun menyoroti fenomena pergeseran nilai dalam memperlakukan sastra agama di Bali, yang kini dinilai telah terjebak dalam ruang "kalah-menang" demi ego semata.
Baca juga: Siswi SMK Meninggal, Amanda Lihat Langsung Sahabat Berpulang, Tabrakan 2 Sepeda Motor
Wahyudita menyampaikan keprihatinan atas hilangnya kesakralan literasi agama yang kini kerap dijadikan alat politik dan senjata perdebatan.
Ia pun mengingatkan kembali pada esensi dasar sastra agama di Bali.
Menurutnya, lontar-lontar suci sejatinya lahir dari proses tapa brata, keheningan, dan laku sunyi untuk menuntun batin menuju kebijaksanaan, bukan untuk diperdebatkan secara liar.
Baca juga: DLHK Denpasar Bali Lakukan Penanaman Pohon Perindang di Pinggir Jalan, Tersedia 500 Bibit
"Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang menggetarkan nurani, runtuhnya kemuliaan sastra agama di ruang publik. Ruang yang seharusnya menjadi tempat berbagi pengetahuan berubah menjadi arena adu menang dan kalah," ungkap Wahyudita.
Ia mengkritik keras para pemuka wacana dan pihak-pihak yang mengatasnamakan kebijaksanaan, namun justru terjebak dalam pertarungan kebenaran yang menanggalkan kesantunan.
Tafsir agama kini seolah berlomba menjadi hakim bagi orang lain.
Poin paling krusial dalam renungan ini adalah analogi yang ditarik Wahyudita antara kondisi sastra agama saat ini dengan kisah tragis dalam wiracarita Mahabharata.
Ia menyamakan nasib sastra suci dengan Drupadi, simbol kehormatan yang ditelanjangi bukan oleh musuh, melainkan akibat perjudian kaum bijaksana (Panca Pandawa).
"Sastra agama berada pada posisi yang serupa. Ia tidak bersalah, namun dijadikan objek pertaruhan demi ego, kuasa, dan pengaruh," tulisnya.
Peringatan ini menurutnya menjadi sinyal bahaya bagi peradaban Bali.
Wahyudita mempertanyakan apakah masyarakat sedang mengulang kesalahan sejarah, di mana mereka yang merasa paling dharmika justru tanpa sadar merobek dharma itu sendiri dengan menjadikan kesucian sebagai taruhan politik dan popularitas.
Wahyudita pun menekankan bahwa Bali tidak sedang kekurangan orang pintar atau cendekiawan, melainkan kekurangan kerendahan hati.
Jika fenomena memelintir sastra demi pembenaran diri ini terus berlanjut, ia memperingatkan bahwa yang runtuh bukan hanya wibawa teks suci tersebut, melainkan martabat kebijaksanaan masyarakat itu sendiri.
"Sastra agama tidak menuntut untuk dimenangkan. Ia menuntut untuk dipahami, dijaga, dan dihayati. Sebab ketika kesucian dijadikan alat pertarungan, yang kalah bukan lawan debat kita, melainkan peradaban kita sendiri," pungkasnya. (*)