BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Bangunan tempat pelaku usaha kecil menengah (UKM) di atas gorong-gorong Kampung Jawa Kota Mentok Kabupaten Bangka Barat dibongkar pada Sabtu (17/1/2026).
Pembongkaran tempat pelaku UKM berjualan dilakukan saat gotong royong melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.
Pemerintah Kecamatan Mentok bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH), BPBD, Satpol PP, Anggota DPRD Babar, serta unsur masyarakat melakukan kegiatan gotong royong membersihkan drainase di kawasan Kampung Jawa Mentok untuk mengantisipasi banjir.
Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan saluran air dan lingkungan sekitar, SPBU, pinggir jalan raya yang dekat dengan lapak pedagang dan pemukiman warga.
Pelaku UKM yang lapaknya dibongkar mengaku pasrah.
"Kita pasrah saja, ingin bagaimana lagi, kita di sini cuma menumpang," kata Nursanti (63) kepada Bangkapos.co.
Nursanti mengikuti kebijakan pemerintah terkait penertiban dan pembersihan kawasan tersebut.
Namun, ia berharap ke depan ada solusi terbaik agar para pedagang tetap dapat berjualan dan mencari nafkah seperti sebelumnya.
"Pemerintah ingin membersihkan kita turut saja, apa yang terbaik. Semoga ada solusi kedepan bagi kami agar bisa berjualan lagi," kata Nursanti.
Senada Rosiati (20) pedagang lainnya, mendukung kegiatan pembersihan drainase di sekitar lapaknya.
Karena menurutnya, sudah 20 tahun berjualan, lokasi tersebut sering tergenang banjir.
"Kami mengucapkan banyak terimakasih telah dibersihkan saluran airnya. Selama ini banjir, tersumbat gotnya, semoga tidak ada lagi banjir di sini," kata Rosiati.
Terpisah, Anggota DPRD Kabupaten Bangka Barat, Eddy Arif, mengatakan, kegiatan ini merupakan inisiatif dirinya sebagai upaya antisipasi genangan air yang kerap terjadi saat hujan turun akibat aliran air tidak lancar.
Eddy yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat.
“Kita kegiatan bersih-bersih ini sangat penting. Ketika saluran air bersih dan lancar, air hujan bisa mengalir dengan baik sehingga potensi genangan maupun banjir dapat dikurangi,” kata Eddy.
Ia menambahkan, persoalan lingkungan tidak bisa ditangani oleh pemerintah saja, tetapi membutuhkan keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat setempat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan secara rutin. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama agar kawasan pemukiman tetap aman dan nyaman,” katanya.
Politisi Gerindra ini mengatakan gotong royong menjadi bukti sinergi antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus meminimalisir dampak bencana di wilayah Kabupaten Bangka Barat.
Bupati Bangka Barat, Markus, mengatakan sejumlah daerah di Bangka Barat rawan banjir.
Untuk itu, dirinya telah menyampaikan usulan penanganan banjir ke pemerintah pusat dapat segera disetujui agar penataan wilayah rawan banjir bisa dilakukan lebih baik.
“Saya sudah mengusulkan pembangunan embung dan kita berharap bisa dibantu oleh pemerintah pusat. Ini pekerjaan bernilai besar yang tidak mampu ditanggung APBD,” kata Markus belum lama ini.
Dia menjelaskan, Mentok dan Parittiga menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Untuk memperkuat pengajuan tersebut, Markus telah memerintahkan menyusun master plan dan studi kelayakan secara komprehensif.
“Ini lintas sektoral. Tidak mungkin Pemkab mengatasi sendiri di tengah keterbatasan anggaran. Usulan sudah kita sampaikan ke Bappenas dan kementerian terkait,” ujarnya.
Menurut Markus, salah satu opsi yang mungkin dipertimbangkan ke depan adalah relokasi permukiman yang berada di wilayah sangat rendah dan berhadapan langsung dengan laut, seperti di Kelurahan Tanjung, Mentok dan sekitarnya.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)