Kisah Edwar Afriatna Si Raja Tonase dari Tangerang, Pengusaha Muda Lawan Sampah Plastik
January 17, 2026 03:07 PM

Laporan wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan

TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG-Seorang pengusaha muda berusia 28 tahun di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, membuktikan bahwa sampah plastik tak hanya sekadar limbah, melainkan peluang bagi masyarakat untuk menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga bumi.

Pemuda itu bernama Edwar Afriatna, mendapat julukan sebagai 'Raja Tonase'.

Julukan itu tidak datang begitu saja, sebab sejak tahun 2024 Edwar mampu mengurangi sekitar 120 ton sampah plastik setiap bulan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kesadaran pemuda lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) itu terhadap kondisi lingkungan sudah muncul sejak dirinya mengenyam bangku sekolah menengah atas (SMA).

Prihatin Lihat Kondisi Lingkungan

Saat itu pemuda asli Kabupaten Tangerang tersebut merasa prihatin, akan kondisi sungai, jalan, dan selokan dekat rumahnya yang dipenuhi tumpukan sampah.

Padahal, baginya sampah merupakan barang yang memiliki nilai ekonomis, jika mampu dikelola dengan baik.

Hal itu lah yang kemudian mendorong nya untuk menjalani bisnis berbasis lingkungan, sebagai bentuk rasa cinta dan kepedulian, agar generasi berikutnya tidak diwarisi sebuah daerah yang kotor.

Dalam menjalani bisnisnya tersebut, Edwar memilih sampah plastik jenis High Density Polyethylene (HDPE) seperti bekas botol oli, shampo, sabun, dan detergen cair.

Plastik jenis itu dipilih, lantaran memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan jarang ditekuni oleh penguasa lain.

Namun demikian, beragam jenis sampah lainnya seperti kardus, maupun sampah plastik lainnya juga ia kumpulkan melalui bank sampah bentukannya untuk disalurkan ke pengepul sampah lainnya.

Sebulan Kelola 120 Ton Sampah Plastik

Edwar mengaku, dalam satu bulan dirinya mampu mengelola sebanyak 120 ton sampah plastik jenis HDPE, yang ia beli dari sejumlah pengepul yang ada di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan.

"Per minggu saya ngirim 30 ton sampah ke sebuah perusahaan mitra, artinya satu bulan itu 120 ton sampah yang saya serap dan didaur ulang kembali, hingga endingnya tidak masuk ke TPA," kata Edwar, saat ditemui di kantornya, Sabtu (17/1/2026).

Menurutnya, dalam mengelola sampah yang dibutuhkan adalah konsistensi dan ketekunan.

Sebab kata dia, sampah merupakan barang bekas yang kerap dipandang menjijikan dan dibuang begitu saja oleh masyarakat.

"Karena ketika sampah itu masuk ke tempat kita pun, itu harus kita pilah dulu sebelum dikirim ke perusahaan mitra," ucapnya.

Baca juga: Ditegur Wakil Wali Kota Tangsel Karena Absen Rapat Darurat Sampah, Camat Pondok Aren Minta Maaf

Ia pun berharap, industri pengelolaan sampah di Indonesia khususnya di Kabupaten Tangerang dapat mendapat dukungan dari sisi regulasi pemerintah.
 
Sebab, lanjut Edwar, kehadiran pengusaha pengelola sampah seperti dirinya tidak bisa terlalu diandalkan untuk menampung seluruh sampah yang ada, tanpa dukungan pemerintah.

Apalagi saat ini, isu terkait pengelolaan sampah merupakan hal yang sedang ramai dibicarakan publik.

"Dukungan yang dibutuhkan itu bisa berbentuk finansial, karena saya saja sekarang ini modal keringat sendiri, kadang harus minjem bank supaya bisa nampung sampah lebih banyak. Dan itu beda cerita kalau kami dibantu atau diberikan dana investasi," katanya.

"Belum lagi kita juga terbatas dari sisi armada pengangkuta. Kemudian dari sisi regulasi juga dibutuhkan, seperti dibuatkan rumah pemilahan sampah dan aturan hari pengakutan sampah. Misal Senin- Rabu untuk sampah organik, Kamis-Minggu nya non organik," tambahnya.

"Jadi intinya saya sih inginnya ada kolaborasi dengan pemerintah, supaya penanganan sampah ini bisa benar-benar selesai," tutup Edwar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.