Teknisi HP Internasional Berbagi Ilmu Reparasi Tingkat Lanjut di Yogyakarta
January 17, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kesempatan belajar langsung dari teknisi internasional jarang datang dua kali.

Itulah yang dirasakan para teknisi yang mengikuti YCS Repair Knowledge Sharing di Yogyakarta, 17–18 Januari 2026.

Dalam forum berbasis mentoring ini, peserta tidak hanya mendalami teknik reparasi tingkat lanjut, tetapi juga diajak memahami bagaimana profesi teknisi dapat berkembang dan berkelanjutan.

Selama dua hari, para teknisi dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul untuk mengikuti sesi berbagi pengetahuan yang menghadirkan teknisi internasional dari YCS (YongChangSheng).

Salah satu sosok utama dalam kegiatan ini adalah Mr. Yang, teknisi internasional YCS yang dikenal luas di dunia reparasi perangkat elektronik dan smartphone.

Kehadiran teknisi internasional tersebut menjadi daya tarik utama acara.

Peserta mendapatkan kesempatan mempelajari teknik terbaru secara langsung, termasuk penanganan kasus-kasus perbaikan tingkat lanjut yang saat ini banyak berkembang di luar negeri, tetapi belum banyak dikuasai teknisi di Indonesia.

Penyelenggara YCS Repair Knowledge Sharing, Kasno, menegaskan bahwa penyelenggaraan di Yogyakarta memiliki makna tersendiri.

Selain menjadi yang pertama digelar di kota ini, konsep yang diusung juga berbeda dari kegiatan sebelumnya.

“Acara ini spesial karena diselenggarakan di Jogja, dan ini pertama kalinya kami mengadakan acara di Jogja dengan konsep yang berbeda. Kali ini kami lebih memfokuskan pada kualitas,” ujar Kasno.

Fokus pada kualitas tersebut diwujudkan melalui materi yang tidak hanya menitikberatkan pada keterampilan teknis, tetapi juga pengembangan soft skill dan pendampingan secara intensif.

“Misalnya, ada pembelajaran tentang iPhone 17 Pro Max, iPad, lalu ada juga sharing mengenai soft skill seperti media sosial, bagaimana seorang teknisi bisa naik kelas, dan bagaimana profesi teknisi itu bisa berkembang. Selama dua hari, para peserta juga mendapatkan mentoring secara langsung,” kata Kasno.

Baca juga: Kronologi Bus yang Ditumpangi Mahasiswa KKN UGM Terbalik di Maluku, 3 Orang Terluka

Forum ini dirancang sebagai ruang berbagi ilmu yang interaktif.

Peserta tidak hanya menerima paparan materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses mentoring yang menyesuaikan dengan karakter dan kemampuan masing-masing teknisi.

Menurut Kasno, setiap teknisi memiliki cara dan pendekatan perbaikan yang berbeda. Dari perbedaan itulah, penyelenggara berupaya mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu ditingkatkan.

“Para teknisi sebenarnya memiliki trik dan cara perbaikan yang berbeda-beda. Dari situ kami melihat apa saja yang perlu ditambahkan dan ditingkatkan,” ujarnya.

Jumlah peserta dalam kegiatan ini dibatasi agar proses pembelajaran lebih efektif dan interaktif. Pada pelaksanaan kali ini, tercatat sekitar 62 peserta, termasuk mereka yang mendaftar langsung di lokasi acara.

“Untuk kali ini total pesertanya sekitar 62 orang. Dan itu pun masih ada yang datang langsung di tempat (on the spot),” kata Kasno.

Para peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Latar belakang mereka pun beragam.

“Peserta datang dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, NTB, Sulawesi, Jawa Tengah, tentu saja dari Jogja juga. Selain itu, mereka berasal dari berbagai komunitas teknisi handphone, laptop, dan teknisi lainnya. Bahkan ada juga mahasiswa yang ikut berpartisipasi,” ujar Kasno.

Kasno menilai, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi teknisi Indonesia saat ini adalah keterbatasan akses informasi, terutama terkait kasus-kasus terbaru yang sudah banyak ditemukan di luar negeri.

“Hambatan utamanya adalah informasi. Misalnya, di luar negeri sekarang sudah banyak kasus-kasus iPhone 17, seperti masalah kamera atau CPU. Namun di Indonesia, orang yang benar-benar memahami dan menguasai kasus tersebut masih sangat sedikit,” katanya.

Melalui forum ini, peserta diajak memahami bahwa perbaikan tingkat lanjut memerlukan teknik dan ketelitian khusus.

“Dengan adanya transfer ilmu seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa mengangkat IC itu sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Tetapi memang ada banyak trik yang harus diperhatikan. Misalnya, pada satu IC kecil, bagian mana yang harus dipanaskan lebih banyak dan bagian mana yang lebih sedikit,” ujar Kasno.

Selain Mr. Yang, penyelenggara juga menghadirkan teknisi internasional lain, termasuk dari India yang dihadirkan sebagai bagian dari sistem berbagi ilmu lintas negara. 

“Fokus kami pada acara kali ini adalah menciptakan sistem berbagi ilmu. Misalnya, kami menghadirkan teknisi dari luar negeri, termasuk dari India. Dari situ ilmunya bisa ditransfer atau ‘di-copy-paste’ dari teknisi internasional ke teknisi Indonesia,” kata Kasno.

Ia berharap, peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi penghubung pengetahuan bagi teknisi lain di daerah masing-masing.

“Harapannya, para teknisi Indonesia yang hadir—yang notabene sudah berada di kelas menengah ke atas—nantinya juga bisa membagikan ilmunya kembali ke teknisi lain. Jadi dari satu acara ini, misalnya ada 100 peserta, dampaknya bisa meluas hingga 10.000 teknisi lain yang ikut naik kelas,” ujarnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya kebutuhan perangkat elektronik, Kasno menilai profesi teknisi memiliki prospek yang besar dan berkelanjutan. 

Melalui kegiatan seperti YCS Repair Knowledge Sharing, penyelenggara berharap kualitas teknisi Indonesia terus meningkat, sekaligus membuka peluang agar teknisi lokal mampu bersaing dan berkiprah di tingkat global. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.