Penjelasan Polda Jambi Soal Kasus Agus Saputra Guru SMK di Dikeroyok Siswa: Sedang Proses 
January 17, 2026 04:45 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jambi, Kombes Pol Jimy Chiristian Samma menyebut kasus siswa yang mengeroyok guru SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, sedang diproses.

Kombes Pol Jimy Chiristian mengatakan saat ini sedang melakukan proses pemanggilan saksi dan pemeriksaan korban atas laporan Agus Saputra, guru Bahasa Inggris Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, yang dikeroyok siswanya. 

"Laporannya baru kemarin, jadi saat ini sedang proses pemanggilan saksi dan pemeriksaan korban," kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jambi, Kombes Pol Jimy Chiristian Samma, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Sabtu (17/1/2026), dikutip Kompas.com

Namun, menurut Jimy, saat ini antara korban dan pelapor sedang melakukan proses mediasi. 

Sebelumnya, Agus melaporkan dugaan pengeroyokan tersebut ke Polda Jambi pada Kamis, 15 Januari 2026.

Didampingi oleh kakak kandungnya Nasir, Agus membuat laporan dugaan penganiayaan yang dialaminya.

Baca juga: Ditampar Guru Agus, Siswa SMK di Jambi Lapor Polisi, Sang Kakak Tak Terima Minta Polisi Usut Tuntas

Saat membuat laporan itu, pihak Kepolisian meminta keterangan Agus hingga lima jam. 

"Benar, kita melaporkan tentang pengeroyokan yang dilakukan siswa," kata Nasir saat diwawancarai awak media di Polda Jambi, Kamis malam. 

"Secara psikis dia (Agus) terganggu, nama baiknya tercoreng di media sosial dan warga. Jadi kami sebagai warga negara berhak untuk melaporkan tindakan pengeroyokan ini," ujarnya.

Nasir mengatakan, akibat dugaan pengeroyokan itu, Agus mengalami lebam di bagian tubuhnya seperti punggung, tangan, dan pipi. 

Dia menyebut, Agus telah melakukan visum sebagai pendukung dari laporan tersebut. 

"Kondisinya paling pegal-pegal pasti, mungkin teman-teman bisa lihat di video yang beredar," kata Nasir.

Siswa Lapor Polis

Terbaru, MLP siswa SMK Negeri 3 Berbak Tanjung  Jabung Timur, Jambi yang menjadi korban penganiaya terhadap guru Agus Saputra melapor ke polisi.

Kakak kandung MLP, Muhammad Ardi mengungkapkan bahwa pihak keluarga telah membuat laporan ke Polsek Berbak.

"Kemarin baru kami masukkan laporan ke Polsek Berbak. Kita lapor yang terdekat dulu,” katanya, dikutip Tribunjambi.com

Menurutnya, laporan tersebut dibuat pada malam sebelumnya, dan pihak keluarga akan mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan.

“Nanti kalau ada tindak lanjut, baru kita ke atas lagi,” ujarnya.

Ia meminta pihak kepolisian mengusut tuntas dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan SMK Negeri Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Muhammad Ardi, menyatakan pihak keluarga mempercayakan sepenuhnya penanganan kasus tersebut kepada aparat kepolisian.

“Intinya kita percaya kepada Kapolri dan kepada pihak kepolisian supaya permasalahan ini ditindaklanjuti,” ujar Muhammad Ardi.

Ia mengaku keberatan dengan tindakan yang dialami adiknya, terutama saat dikejar menggunakan dua bilah sabit.

“Saya tidak berkenan adik saya dikejar pakai dua sabit seolah-olah mau dibunuh. Padahal adik saya datang ke sekolah cuma ingin belajar, menimba ilmu,” katanya.

Muhammad Ardi menegaskan pihak keluarga tidak menutup mata apabila adiknya memang terbukti bersalah. Namun ia meminta proses hukum tetap berjalan secara adil.

“Kalau memang adik saya bersalah silakan, kalau memang sebaliknya juga bersalah, silakan dihukum sesuai hukum yang ada di Indonesia,” tegasnya.

Terkait upaya mediasi yang dilakukan, Muhammad Ardi menyebut pihak keluarga tidak menolak penyelesaian secara kekeluargaan, namun meminta penegakan hukum tetap dijalankan.

"Kalau untuk berdamai ya berdamai. Tapi untuk hukum, saya mohon hukum tetap berjalan. Perdamaian jalan, hukum juga jalan,” ujarnya.

Pengakuan Siswa

Sebelumnya, seorang siswa berinisial MLP yang terlibat pengeroyokan guru bernama Agus Saputra sang guru rupanya memiliki panggilan tersendiri di sekolah tersebut.

Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan pak melainkan prince alias pangeran.

"Dia mau dipanggil prince (pangeran) karena kalau dipanggil bapak dia gak mau marah," tuturnya.

MLP, siswa yang menjadi korban penganiayaan mengaku ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai. 

Situasi kelas yang bising membuat MLP spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.

Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.

MLP mengaku terkejut saat Agus tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.

"Awal mulanya saya sedang belajar di dalam kelas, pelajaran hampir selesai, siswa dalam kelas ini agak sedikit ribut terus saya bilang 'woi diam' saya tidak tahu beliau (Agus) ada di depan kelas, setelah itu beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi dengan guru yang di dalam langsung nanya siapa yang bilang woi, terus saya jawab 'saya prince' saya spontan langsung ke depan saya ditampar," kata MLP lewat Instagram @ seputarjambi.info, dikutip Tribun Sumsel, Sabtu (17/1/2026).

Diakui MLP, Agus Saputra rupanya memiliki panggilan tersendiri di sekolah tersebut.

Ia meminta siswa memanggilnya bukan dengan sebutan pak melainkan prince alias pangeran.

"Dia mau dipanggil prince (pangeran) karena kalau dipanggil bapak dia gak mau marah," tuturnya.

Agus Saputra Didesak Minta Maaf Hina Ortu Siswa

Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. 

Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.

Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite. 

MLP mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. 

Saat MLP mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.

Melihat aksi Agus yang meninju itulah membuat siswa meradang hingga mengeroyok sang guru.

"Kalau pengeroyokan itu dimulai kami minta beliau minta maaf karena sudah menghina orang tua siswa tetapi beliau tidak mau, dibantu dengan guru lain minta beliau minta maaf disuruh ke depan, pas dia mau pidato di depan yang dibahasnya lain bukan tentang minta maaf itu. Tiba-tiba dibawa bapak komite ke kantor dia kissbye seperti mengejek kami sambil senyum-senyum. Spontan kami lari mendekati dia semua agar dia bisa ngomong lagi di depan itu dengan jujur mengakui kesalahannya. Pas saya sampai di depan muka dia langsung meninju saya di bagian hidung, pas ditinju kebetulan teman-teman melihat semua spontan langsung mengeroyok dia. Itulah terjadi pengeroyokan," ujarnya.

MLP menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor. 

Pengakuan Agus Saputra

Agus Saputra, guru Bahasa Inggri di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur mengaku sempat lakukan kekerasa terhadap siswa hingga berujung dikeroyok.

Bukan tanpa sebab, diakui Agus Saputra hal itu dilakukannnya karena refleks diteriaki siswa dengan kata yang tidak pantas.

Agus mengatakan , kejadian bermula saat dirinya ditegur oleh seorang siswa.

Dia ditegur siswa tersebut dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya.

"Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).

Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.

“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya, melansir dari TribunJambi.

Agus menuturkan tidak ada niat menganiaya siswa. Dia bilang tamparan yang dilakukan sebagai bentuk pembinaan spontan.

"Saya tidak melawan, hanya membela diri. Bisa dilihat di video," katanya.

Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.

Sementara, dalam salah satu potongan video, Agus pun terlihat membawa celurit.

Menanggapi video tersebut, Agus menjelaskan celurit itu merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah, karena SMKN 3 Tanjab Timur merupakan SMK Pertanian.

"Saya hanya menggertak agar mereka bubar, tidak ada niat menyakiti," tegasnya.

Agus juga mengaku mendapat lemparan batu dan benda keras lainnya. 

Akibat kejadian itu, dia mengalami bengkak di tangan dan memar di punggung.

Penyebab Keroyok

Agus pun mengakui dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.

Adapun kata tersebut menyinggung soal ekonomi siswa yang kurang mampu.

"Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.

Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.

“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.