Ketika Murid Kehilangan Hormat: Tragedi SMK Negeri 3 Berbak Tanjabtim sebagai Alarm Pendidikan
January 17, 2026 04:48 PM

Dr. M. Junaidi Habe, M.Si – Akademisi

TRIBUNJAMBI.COM - Pendidikan sejatinya tidak pernah berhenti pada urusan transfer pengetahuan. Ia adalah proses panjang pembentukan karakter, penanaman etika, serta pewarisan nilai-nilai sosial yang memungkinkan sebuah masyarakat bertahan secara beradab. Di ruang kelas, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai kurikulum, melainkan sebagai figur otoritas moral yang menghadirkan makna disiplin, penghormatan, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, ketika seorang murid melontarkan kata-kata kasar kepada gurunya, yang runtuh bukan semata etika personal, melainkan fondasi sosial pendidikan itu sendiri.

Tragedi yang terjadi di SMK Negeri 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur, patut dibaca sebagai alarm keras bagi dunia pendidikan. Peristiwa ini tidak dapat disederhanakan sebagai kenakalan remaja atau kegagalan individu. Ia adalah gejala sosial yang mencerminkan krisis relasi antara guru dan siswa, sekaligus penanda melemahnya nilai-nilai yang selama ini menopang proses pendidikan.

Dalam perspektif sosiologi, tindakan verbal kasar terhadap guru merupakan bentuk anomali sosial. Émile Durkheim menyebut kondisi semacam ini sebagai anomie, yaitu situasi ketika norma dan nilai sosial kehilangan daya ikatnya. Dalam konteks sekolah, anomie tampak ketika penghormatan kepada guru tidak lagi dianggap penting, sementara aturan hanya hadir sebagai formalitas administratif tanpa legitimasi moral. Sekolah tetap berjalan secara struktural, namun gagal menjalankan fungsinya sebagai institusi moral.

Baca juga: 12 Siswa SMK yang Keroyok Guru di Tanjabtim Jambi Disanksi, Bagaimana Nasib Guru Agus?

Fenomena ini juga mengungkap rapuhnya ikatan sosial antara siswa dan guru. Relasi pendidikan yang idealnya bersifat dialogis, membimbing, dan memanusiakan, kerap berubah menjadi hubungan kaku dan transaksional. Guru dibebani target kurikulum dan tuntutan administratif, sementara siswa diposisikan sebagai objek penilaian semata. Dalam situasi seperti ini, tidak mengherankan jika siswa tidak merasa terikat secara emosional maupun moral untuk menjaga etika berkomunikasi. Ketika ikatan sosial melemah, kontrol sosial pun ikut runtuh.

Lebih jauh, perilaku kasar siswa tidak lahir dari ruang hampa. Ia dipelajari dan direproduksi melalui interaksi sosial. Bahasa agresif yang kini mudah ditemui di media sosial, tayangan digital, bahkan dalam ruang domestik, membentuk pola komunikasi baru yang minim empati dan hierarki. Dunia digital mengajarkan kebebasan berpendapat tanpa batas etika, dan pola ini dengan mudah terbawa ke ruang kelas. Sayangnya, sekolah sering tertinggal dalam membangun literasi etika digital, sehingga gagal menjadi ruang koreksi sosial yang efektif.

Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap peran keluarga dan lingkungan pergaulan. Pola asuh yang abai terhadap batasan, konflik dalam keluarga, serta tekanan kelompok sebaya menjadikan bahasa kasar sebagai simbol keberanian dan perlawanan. Dalam situasi psikososial yang penuh tekanan, siswa kerap menyalurkan frustrasi melalui agresi verbal terhadap figur otoritas terdekat, yakni guru.

Dengan demikian, tragedi di SMK Negeri 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur, merupakan cermin dari krisis yang lebih luas. Ia menandakan bahwa pendidikan kita sedang mengalami disrupsi moral. Sekolah perlahan kehilangan perannya sebagai ruang pembentukan karakter, sementara guru menghadapi erosi wibawa sosial. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan akan tereduksi menjadi sekadar proses teknis tanpa ruh nilai dan kemanusiaan.

Menghadapi situasi ini, pendekatan represif semata jelas tidak memadai. Hukuman tanpa refleksi hanya akan memperlebar jarak antara siswa dan guru. Yang dibutuhkan adalah pemulihan relasi. Sekolah harus kembali menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang instruksi. Disiplin perlu diarahkan pada pendekatan restoratif yang mendidik, bukan menghukum. Lebih dari itu, diperlukan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai penghormatan, etika komunikasi, dan tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang murid yang bersikap kasar kepada guru. Ia adalah pertanyaan mendasar tentang arah pendidikan kita. Jika sekolah gagal menanamkan nilai hormat dan etika dasar, maka kita sedang membesarkan generasi yang mungkin unggul secara akademik, tetapi rapuh secara moral. Tragedi SMK Negeri 3 Berbak, Tanjung Jabung Timur, seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif: sudahkah pendidikan kita benar-benar memanusiakan manusia?

Baca juga: Pengakuan Siswa SMK Tanjabtim Jambi, Awalnya Ditampar hingga Ditinju Guru

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.