Gara-gara Babi Hitam Tertangkap di Pakel Tulungagung, Beredar Isu Tentang Babi Ngepet
January 17, 2026 05:41 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Netizen Tulungagung tengah heboh karena isu babi ngepet yang tertangkap di Desa Pakel Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, pada Jumat (16/1/2026) pagi.

Babi ngepet adalah jenis pesugihan yang dikenal luas di masyarakat hingga isu ini membuat heboh.

Namun belakangan babi kecil berwarna hitam itu telah dijual Rp 400.000.

“Sudah dibeli teman saya dari Blitar Rp 400.000. Sekarang sudah dibawa,” ujar Hariyanto (43), warga yang menangkap babi itu.

Hariyanto menguangkan babi itu karena tidak percaya isu babi ngepet yang digembar-gemborkan warga.

Ia berkisah, babi itu awalnya terlihat di kawasan gapura, perbatasan Desa Pakel dengan wilayah Kabupaten Blitar pada Jumat pagi.

Sekitar pukul 05.00 WIB, babi betina yang masih berukuran kecil ini berhasil ditangkap warga, namun lepas.

“Sudah ditangkap, tapi kemudian berhasil melepaskan diri dari jeratnya dan kabur lagi. Saya kemudian mengejarnya,” tuturnya.

Baca juga: Endorse Penyanyi, Pelapor Penggelapan Uang Arisan di Trenggalek Minta Penyelidikan Menyeluruh 

Menggunakan kurungan ayam jago, Hariyanto mengejar anakan babi itu di kawasan belakang rumahnya.

Hariyanto berhasil menyergap babi itu dengan kurungan ayam yang dibawanya.

Babi itu kemudian diringkus dan dibawanya pulang.

“Ternyata banyak yang penasaran penangkapan babi ini. Warga berdatangan untuk melihat babi itu,” jelasnya.

Dari ramainya warga yang berdatangan itulah, muncul soal babi ngepet atau babi pesugihan.

Foto dan video babi itu kemudian menyebar disertai isu penangkapan babi ngepet.

Hariyanto mengaku, ada yang menyarankan untuk mengecat kepalanya memakai warna putih, atau mengiris kupingnya untuk membuat kapok orang yang ngepet. 

“Semua tidak saya lakukan, karena saya yakin ini benar-benar babi, bukan babi jadi-jadian. Teman saya ikut meyakinkan, ini memang babi biasa, bukan babi hutan,” katanya.

Wilayah Desa Pakel, Kecamatan Ngantru tidak ada peternakan babi, namun di seberang Sungai Brantas yang masuk Kecamatan Ngunut, banyak peternakan babi.

Hariyanto tidak tahu pasti dari mana asal babi ini, tetapi ada warga yang melihat 4 hari sebelumnya, babi ini ada di tepi Sungai Brantas.

Babi ini juga pernah terlihat di permukiman warga, kemudian diusir.

“Saya kasih makan ketela dan ampas tahu dimakan dengan lahap. Beratnya mungkin sekitar 10 kg,” ungkapnya.

Hariyanto tidak tahu pasti, apakah babi itu dipelihara atau dikonsumsi.

Sedangkan uang hasil penjualan babi ini sudah dibelikan rokok, dan dibagikan ke teman-temannya yang melihatnya menangkap babi itu.

Baca juga: Live Moji dan SCTV! Jadwal Terbaru Liga Inggris Pekan ini Arsenal, Man United vs Man City, Chelsea

Cerita Rakyat

Pesugihan babi ngepet merupakan salah satu cerita rakyat yang berkembang di Pulau Jawa.

Dalam kisah yang berkembang, ritual ini dilakukan oleh dua orang laki-laki dan perempuan.

Si laki-laki nantinya akan berubah menjadi babi, sementara si perempuan bertugas menjaga lilin atau lentera agar tetap menyala.

Babi jadi-jadian ini akan keliling ke perkampungan untuk mencuri uang milik warga.

Dia akan menggesek-gesekkan pantatnya pada rumah sasaran, dan uang milik pemilik rumah akan hilang dan beralih ke si babi.

Api pada lilin simbol dari ikatan perjanjian pelaku dengan dunia gaib.

Saat api masih menyala mala ritual babi ngepet ini masih terus berlangsung dan pelaku masih aman.

Namun jika api padam, maka ikatan perjanjian pelaku dan dunia gain dianggap putus.

Pelaku babi ngepet akan tetap jadi babi dan tidak bisa menjadi manusia kembali.

Selain terjebak dalam bentuk babi, pelaku juga bisa mati jika diserang makhluk lain.

Sementara penjaga api akan menanggung kutukan.

(David Yohanes/TribunMataraman.com)

Editor : Sri Wahyunik

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.