TRIBUNJAKARTA.COM - Kasus dugaan kekerasan antara siswa dan guru di salah satu SMK Negeri 3 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, terus berlanjut.
Terbaru, terungkap bahwa oknum guru bernama Agus Saputra yang diduga menampar siswa hingga berujung pengeroyokan terhadap dirinya memiliki panggilan khusus yang dimintanya kepada murid, yakni "Pangeran" atau "Prince".
Fakta itu terkuak dari pengakuan Muhammad Lutfi Fadilah, siswa yang mengaku menjadi korban peristiwa pemukulan dari guru tersebut.
Lutfi menceritakan kejadian itu berawal ketika dirinya berada di dalam kelas menjelang akhir jam pelajaran.
"Awal mulanya saya sedang belajar di dalam kelas. Terus pelajaran hampir mau selesai. Siswa dalam kelas ini agak ribut sedikit lah. Saya bilang Woy, diam. Saya tidak tahu beliau lewat depan kelas itu," kata Lutfi dalam keterangannya.
Tak lama kemudian, guru yang bersangkutan masuk ke dalamkelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar.
Ia langsung menanyakan siapa yang mengucapkan kata "Woy".
"Terus saya jawab saya prince, gitu. Terus spontan saya ke depan langsung saya ditampar," katanya.
Lutfi menyebut "Prince" karena guru tersebut tak suka dipanggil dengan sebutan "Bapak".
Ia ingin dipanggil secara khusus dengan sebutan Prince atau Pangeran.
Ia juga mengungkapkan, guru tersebut kerap bersikap keras terhadap murid.
Siswa yang dianggap nakal disebut bisa diberi skor pelajaran hingga tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama satu semester.
Selain itu, Lutfi menyebut guru tersebut sering melontarkan kata-kata kasar yang dinilai tidak pantas diucapkan kepada siswa.
“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya.
Situasi kemudian kembali memanas di depan kantor sekolah. Lutfi mengatakan, saat kondisi sudah tenang, guru tersebut tiba-tiba keluar membawa alat sapit rumput dan mengejar para siswa.
“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” katanya.
Keributan disebut berlanjut saat para siswa meminta guru tersebut untuk meminta maaf atas ucapannya yang dinilai menghina orang tua siswa. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Saat berada di kantor sekolah, ia mengaku kembali mendapat kekerasan fisik.
“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya.
Pemukulan tersebut, menurutnya, disaksikan langsung oleh siswa lain sehingga memicu reaksi spontan berupa pengeroyokan.
“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas Lutfi.
Lutfi berharap ke depan tidak ada lagi tindakan kekerasan di lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar bisa berjalan dengan aman dan kondusif.
Ia juga menyebut pihak keluarga tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait kejadian tersebut.
Agus Saputra, buka suara terkait video yang memperlihatkan dirinya menenteng celurit sambil kejar sejumlah siswa.
Video tersebut beredar luas di media sosial.
Agus menegaskan celurit yang ditentengnya bukan untuk melukai siswa, tetapi hanya untuk gertakan agar situasi tidak semakin ricuh.
Pasalnya, Agus sempat menjadi korban pengeroyokan oleh siswa-siswa tersebut setelah dirinya diduga melakukan penghinaan dan kekerasan fisik terhadap siswa.
"Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, Memang tersimpan rapi," katanya, Rabu (14/1/2026) seperti dikutip dari TribunJambi.
Tindakan tersebut dilakukan dalam kondisi tertekan dan demi melindungi diri.
Menurutnya, situasi saat itu sudah tak terkendali dan berpotensi membahayakan keselamatan.
"Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk menggertak mereka agar bubar seperti itu. Tidak ada niat lain untuk selain itu," ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada upaya penganiayaan yang dilakukan terhadap siswa.
Dalam video yang beredar, ia menyebut hanya berusaha membubarkan kerumunan.
"Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga," ucapnya.
Ia bahkan mengaku justru menjadi sasaran aksi anarkis dari para siswa.
"Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata, dan sebagainya," katanya.
Meski demikian, ia mengaku masih mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum karena para pelaku masih berstatus siswa yang telah lama ia didik.
Menurutnya, mereka membutuhkan pendampingan psikologis.
“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.
Agus memaparkan kronologi kejadian bermula saat seorang siswa menegurnya dengan kata-kata tidak pantas saat pelajaran olahraga berlangsung sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.
Ia kemudian mendatangi kelas dan menanyakan siapa pelaku ucapan tersebut.
"Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya."
"Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu," katanya.
Salah satu siswa kemudian mengaku sebagai pelaku.
"Refleks dia bilang saya, kemudian saya tampar satu kali," tuturnya.
Menurut Agus, tantangan dari siswa berlanjut hingga jam istirahat dan situasi memanas sampai sore hari.
"Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang.
"Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Dalam proses mediasi, Agus mengaku diminta meminta maaf atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia kemudian menawarkan solusi alternatif.
"Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka," terangnya.
Alternatif tersebut berupa pembuatan petisi.
"Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang," ujarnya.
Namun, setelah diajak masuk ke ruang kantor oleh komite sekolah, Agus mengaku justru dikeroyok oleh sejumlah siswa lintas tingkatan.
"Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3," ucapnya.
Ia menyebut kejadian itu segera diamankan aparat.
"Ada aparat datang ke tempat saya, alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu," katanya.
Akibat kejadian tersebut, Agus mengalami sejumlah luka.
"Bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar," ungkapnya.
Ia kembali menegaskan tidak melakukan penganiayaan terhadap siswa.
“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut.
"Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” tegasnya.
“Jadi, mungkin nanti bisa dilihat saya dikeroyok saja. Saya tidak melawan dan tidak membalas mereka boleh cek di videonya saya hanya membela, pungkasnya.