Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa mengajak jamaah menjadikan masjid sebagai tautan hati, pikiran, dan gerakan keumatan pada peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu.

"Jadi referensi kita bagaimana gerakan kita minal masjid ilal masjid, bagaimana pikiran kita minal masjid ilal masjid, bagaimana hati kita minal masjid ilal masjid," katanya dalam keterangan diterima di Surabaya, Jawa Timur..

Peringatan Isra Mikraj tersebut dihadiri sekitar 6.000 jamaah anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) se-wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Acara turut dihadiri Menteri Agama Republik Indonesia (RI) Prof. K.H. Nasaruddin Umar dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Arifah Choiri Fauzi, serta menghadirkan penceramah Ustadz Das’ad Latif.

"Bahwa ada niat, keinginan dan kemudian diimplementasikan bagaimana kecintaan kita kepada masjid, ini bisa menjadi referensi untuk selalu meramaikan masjid, memakmurkan masjid dan jama'ahnya," tambahnya.

Khofifah menilai kehadiran jamaah Muslimat NU dalam majelis tersebut merupakan bagian dari penguatan amal ibadah dan nilai spiritual melalui majelis ilmu, pembacaan ayat suci Alquran, lantunan kalimat thoyibah, shalawat, serta silaturahmi.

"Hadirnya kita dalam majelis ini semoga dicatat sebagai amal ibadah, dan amal ibadah ini yang akan mengantarkan kitan saat menghadap Allah agar kita dipanggil sebagai husnul khotimah," katanya.

Ia juga menjelaskan pentingnya keseimbangan antara hablu minallah dan hablu minannaas. Ibadah kepada Allah diwujudkan melalui salat, puasa, dan ibadah lainnya, sementara hubungan dengan sesama diwujudkan melalui kolaborasi, sinergi, harmoni sosial, serta berbagai bentuk kesalehan sosial.

Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. K.H. Nasaruddin Umar, dalam kesempatan itu memaknai Isra Mikraj sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad atas undangan Allah.

"Hakikat safar itu ada empat perjalanan dari bawah ke atas, perjalanan dari atas ke bawah, perjalanan dari samping atau horizontal, perjalanan dalam hal organisasi atau berkelompok, perjalanan individu spiritual/kolektif beribadah," ujarnya.


Ia menambahkan bahwa Isra merupakan perjalanan yang dapat dicerna akal, sedangkan Mikraj adalah perjalanan dari bawah ke atas yang tidak dapat dicerna akal.

"Mikraj ini tujuannya adalah bagaimana setelah kita naik ke puncak kita bisa bersosialisasi dengan masyarakat, inilah sesungguhnya hakikat Mikraj" tuturnya.

Menag juga menyampaikan apresiasi kepada Khofifah selaku Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat NU dan kepada Ketua Pengurus Pusat Muslimat NU Arifah Choiri Fauzi atas kolaborasi pelaksanaan peringatan Isra Mikraj di Masjid Istiqlal.

"Terima kasih ibu Khofifah sebagai orang tertinggi di Muslimat NU, silakan kalau Muslimat ingin memanfaatkan Masjid Istiqlal sekali sebulan seperti ini, insyaallah kami akan fasilitasi," ucapnya.

Sementara itu, penceramah Ustadz Das’ad Latif menegaskan bahwa makna terpenting dari peristiwa Isra Mikraj adalah salat.

"Saat ada masalah jangan dibagikan di media sosial tetapi kembali salat, evaluasi salat kita," tegasnya.

Seusai acara, Khofifah bersama Arifah Choiri Fauzi meninjau Terowongan Silaturahmi, yakni jalur bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi dan persaudaraan antarumat beragama.