Modal Jutaan Lenyap Ditelan Banjir, Nestapa Petani Padi di Lubuk Seberuk OKI 
January 17, 2026 09:27 PM

 

 


SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Harapan hijau yang baru saja bersemi di hamparan sawah Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), seketika pupus.

Hanya dalam waktu satu minggu luapan air sungai menyapu bersih kerja keras petani, meninggalkan duka mendalam di tengah genangan air menenggelamkan masa depan panen mereka.

Sekitar 57 hektare sawah yang baru saja ditanam kini terendam. Bagi para petani, ini bukan sekadar bencana alam, namun  ancaman nyata bagi dapur dan kelangsungan hidup keluarga mereka.

Salah satu petani terdampak, Novri hanya bisa menatap ke arah satu hektare sawah terdendam banjir yang kini menyerupai lautan kecil. 

Padi yang ditanam dengan penuh harap sekitar sebulan lalu, kini hilang ditelan air

"Saya punya satu hektar sawah yang tenggelam. Usia tanamnya baru sekitar 20 sampai 30 hari, masa di mana padi sedang sangat rentan. Kalau terendam total seperti ini, padi dipastikan mati," ujar Novri dengan suara berat dihubungi pada Minggu (17/1/2026) siang.

Menurut pantauannya, dari puluhan hektare yang terendam sedikitnya 15 hektare dalam kondisi kritis karena posisi sawah yang sangat dekat dengan aliran sungai. 

"Banjir yang datang memenuhi hingga ke pucuk batang padi sudah mulai surut, namun padi tidak dapat terselamatkan gagal panen (fuso)," ungkapnya.

Di balik hamparan air itu, tersimpan angka-angka yang menyesakkan dada. Novri merinci untuk 1 hektar sawah biaya yang digelontorkan oleh petani mencapai Rp 5.600.000.

Rincian di mulai biaya bajak sawah memakai alat combine berkisar Rp 2.000.000, lalu biaya cabut bibit Rp 800.000 dan ongkos pekerja yang menanam padi yaitu Rp 1.400.000.

Selanjutnya perawatan Rp 870.000 untuk membeli obat hama, ulat dan nutrisi dalam sekali penyemprotan.

Terdapat biaya Rp 800.000 untuk 3  kali pemupukan dengan bahan baku pupuk pospat, urea dan NPK.

"Semua modal itu kini habis begitu saja. Kami harus mulai dari nol lagi," keluhnya.

Meski hari ini air mulai berangsur surut dan beberapa petani mulai mencoba kembali ke sawah, beban berat masih membayangi. Untuk memulai kembali masa tanam baru.

Novri dan rekan-rekannya harus memutar otak mencari modal tambahan berkisar kurang lebih Rp 8.000.000 per hektare hingga masa panen tiba.

Di tengah kesulitan modal yang kian menipis, Novriansyah mewakili para petani lainnya menggantungkan harapan besar pada pemerintah OKI. Namun, permintaannya yang sangat sederhana.

"Kami sangat berharap bantuan yang nyata dari pemerintah. Bukan uang, kami lebih butuh barang seperti benih, pupuk, dan obat-obatan. Itu yang benar-benar kami butuhkan untuk bisa menanam kembali," pungkasnya.

Baca juga: Kuasa Hukum Korban Asusila Minta Polres Ogan Ilir Segera Tahan Tersangka, Cegah Upaya Kabur

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.