TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Sejumlah orang memenuhi aula DPRD Kudus. sebagian dari mereka tampak bercengkrama satu sama lain. Sebagian lainnya memilih untuk tiduran. Sementara anak-anak memilih untuk bermain dengan teman sebayanya di halaman aula DPRD. Mereka yang tengah memenuhi aula DPRD merupakan para pengungsi korban banjir. Terhitung sudah tiga malam mereka tinggal di sana.
Di antara ratusan pengungsi tersebut tampak seorang perempuan paruh baya yang lebih memilih untuk bercengkrama dengan pengungsi lainnya. Itulah yang sehari-hari dilakukan oleh perempuan paruh baya tersebut yang bernama Istianah. Dia tidak punya pilihan kecuali mengungsi. Rumahnya terendam banjir setinggi sepaha orang dewasa. Dengan menggunakan truk milik polisi, Istianah bersama dua anaknya, suami, dan ibunya yang sudah berusia 65 tahun dibawa ke aula DPRD pada Rabu (14/1/2026) sore.
“Saya tidak bisa berbuat banyak, ya sehari-hari di pengungsian begini,” kata Istianah saat ditemui di aula DPRD Kudus, Sabtu (17/1/2026).
Anak dan suaminya saat siang hari pulang ke rumah untuk memantau kondisi rumah yang berada di Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Katanya, sampai saat ini banjir masih belum surut. Rumahnya masih tergenang banjir. Kontan, dia harus kembali bermalam di aula DPRD.
Kondisi banjir ini membuat Istianah tidak bisa bekerja. Perempuan yang sehari-hari bekerja di sebuah pabrik rokok tersebut memilih untuk tinggal di pengungsian sembari menjaga sang ibu. Begitu juga suaminya, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh proyek bangunan juga tidak bisa bekerja selama banjir melanda. Tidak ada pemasukan untuk keluarga.
“Murni kami makan mengandalkan pasokan makan yang diberikan di posko pengungsian di DPRD,” katanya.
Untuk makan, dia tidak komplain, pasalnya menu makanan yang disediakan di posko pengungsian yang ada di DPRD menurutnya layak dan enak. Kemudian kebutuhan air bersih untuk para pengungsi di sini juga terpenuhi, meskipun harus antre karena ada ratusan pengungsi lain yang juga membutuhkan air tersebut.
“Misalnya untuk mandi ya memang harus antre,” kata dia.
Tinggal di pengungsian bukan hal yang ia harapkan. Di sana nyaris tidak ada prevesi karena ratusan ornag berkumpul dalam satu ruangan besar. Namun apa daya, banjir tengah menggenangi rumahnya. Dan saat ini merupakan kali ketiga Istianah mengungsi di DPRD setelah tahun-tahun sebelumnya rumahnya juga dilanda banjir.
“Harapan kami banjir segera surut, kami bisa kembali ke rumah dan aktivitas lagi. Dan juga banjir tidak lagi terjadi, karena aktivitas kami total terganggu,” kata Istianah.
Sampai pada Sabtu (17/1/2026) pukul 17.00, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus mencatat total ada 908 jiwa warga Kudus yang mengungsi di aula DPRD Kudus. Di posko pengungsian ini merupakan yang terbanyak pengungsinya dibandingkan dengan 12 posko pengungsian lainnya. Para pengungsi yang tinggal di DPRD Kudus ini merupakan warga dari berbagai desa di Kudus. Misalnya dari Desa Jetiskapuan, Desa Ngemplak, Desa Karangrowo, maupun Desa Banget.
Sementara, masih mengacu pada data BPBD, untuk jumlah total pengungsi banjir di Kabupaten Kudus sampai saat ini sudah terdapat 2.178 jiwa. Mereka tersebar di 13 posko pengungsian. Sementara untuk suplai makanan kepada para korban banjir, telah didirikan sebanyak 14 dapur umum. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memastikan untuk kebutuhan logistik bagi para pengungsi masih tercukupi. Sebab, dalam bencana ini banyak donasi yang diberikan para dermawan melalui komunitas atau organisasi.
Sementara Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko mengatakan, untuk penanganan banjir saat ini pihaknya fokus melakukan penambalan sejumlah tanggul sungai yang jebol. Banjir yang terjadi kali ini selain karena luapan sungai, juga karena terdapat sejumlah tanggul jebol. Menurutnya, sedikitnya ada 30 titik tanggul sungai yang jebol.
“Untuk sungai yang besar di Kudus misalnya Sungai Piji, ada lima titik (tanggul jebol). Kemudian untuk Sungai Dawe, ada tiga titik (tanggul yang jebol). Kemudian di Sungai Gelis ada longsoran,” kata dia.
Beberapa tanggul yang jebol tersebut, kata Eko, sudah diatasi oleh warga sekitar dengan cara menambalnya. Penanganan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Termasuk pemerintah desa, relawan, dan pemerintah kecamatan masing-masing.
Data BPBD mencatat, desa yang terdampak banjir ada sebanyak 38 desa yang tersebar di 7 kecamatan. Sementara warga yang terdampak yaitu sebanyak 43.479 jiwa. Total terdapat 5.425 rumah yang terendam banjir. Meski demikian, kata Eko, di sejumlah desa genangan banjir sudah mulai surut.
Sebelumnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melakukan modifikasi cuaca untuk mengatasi dampak cuaca ekstrem yang terjadi di Kabupaten Kudus. Operasi modifikasi cuaca tersebut diharapkan berdampak atas cuaca ekstrem di Kudus yang terjadi beberapa hari terakhir. (*)