TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam menyukseskan program transmigrasi yang sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto.
Hal ini disampaikannya saat meninjau langsung perkebunan nanas sekaligus meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris di Balai Pengembangan Pemukiman Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) di Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (17/1/2026).
Viva Yoga membeberkan empat amanat utama Presiden Prabowo yang menjadi peta jalan Kementerian Transmigrasi.
"Sesuai dengan amanat dari Bapak Presiden Prabowo, ada empat amanat," tegas Viva Yoga di hadapan para pegawai BPPMT Pekanbaru.
Pertama, Viva Yoga menjelaskan, penempatan warga transmigran di daerah yang masih sepi dan terpencil merupakan strategi untuk memperkuat rasa persatuan.
"Tak kenal maka tak sayang. Maka bisa menjaga ketahanan nasional kita. Terjadi akulturasi budaya, terjadi asimilasi melalui pernikahan, sehingga terjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika-nya menjadi terwujud," ujarnya.
Baca juga: Wamen Viva Yoga Beri Dukungan Industrialisasi Jagung di Kawasan Transmigrasi Mutiara
Ia pun memberikan contoh nyata, yaitu kisah Sofyan Hanafi, mantan pegawai Kementerian Transmigrasi yang ditugaskan di Aceh, lalu menikah dengan perempuan lokal dan berkeluarga di sana.
"Itu menjadi salah satu contoh bahwa pengembangan budaya, pengembangan adat istiadat, melalui akulturasi dan asimilasi itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Viva.
Amanat kedua, menurut Viva, adalah tanggung jawab negara melalui reforma agraria, dengan memberikan tanah kepada warga transmigran.
"Memberikan tanah kepada warga trans, satu hektar, dua hektar. Menjadikan tanah bukan sekedar tanah, tapi menjadi sumber ekonomi yang akan dimiliki dan diharapkan akan bisa meningkatkan pendapatan," kata dia.
Baca juga: Momen Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Petik Nanas Moris Tanpa Sarung Tangan di Pekanbaru
Dengan begitu, kesejahteraan bagi para transmigran dan penduduk setempat diharapkan dapat tumbuh bersama.
Ketiga, Viva Yoga menekankan peran strategis kawasan transmigrasi dalam ketahanan pangan.
"Kita membangun lumbung pangan nasional di kawasan transmigrasi. Itu masih menjadi lumbung pangan beras, lumbung pangan jagung, dan berkontribusi untuk membangun ketahanan pangan nasional," tegasnya.
Keempat, menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui kawasan transmigrasi.
"Melalui pengembangan infrastruktur, kemudian melalui peningkatan pendapatan, mengurangi kemiskinan, terjadi aktivitas ekonomi, melalui program industrialisasi, hilirisasi di kawasan transmigrasi, itu akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Ia lantas memberi contoh keberhasilan di Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti pabrik gula di Malolo, Sumba Timur.
"Jadi akan kita dorong tumbuhnya pabrik-pabrik baru yang bisa menyerap tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan," imbuhnya.
Viva Yoga menilai, kehadiran Pusat Edukasi Nanas Moris di BPPMT Pekanbaru sejalan dengan visi tersebut.
"Dan saya melihat apa yang dilakukan oleh Balai ini sejalan, satu tarikan napas, untuk transformasi dan visi yang baru," ucapnya.
Ia pun menyoroti potensi Nanas Moris sebagai produk lokal yang bisa dikembangkan lebih lanjut, mulai dari dikonsumsi langsung hingga diolah menjadi sirup tanpa gula dan produk turunan lainnya.
"Ke depan di setiap kawasan transmigrasi itu akan dapat meningkatkan pendapatan, pertumbuhan ekonomi. Jadi saya rasa demikian Bapak Kepala Balai, ini agar terus dilanjutkan program-program Kementerian Transmigrasi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat transmigrasi," tandas Viva Yoga.