Sejarah Benteng Fort Willem I Ambarawa Disajikan Lewat Sendratari, Disuguhkan Setiap Tanggal 15
January 18, 2026 03:25 PM

 

TRIBUNBANYUMAS.COM, UNGARAN - Gemerlap cahaya lampu menyoroti para penari yang berlenggak-lenggok di atas panggung di kawasan wisata Benteng Fort Willem I Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (17/1/2026) malam.

Di hadapan ratusan penonton, mereka menampilkan Sendratari Babad Fort Willem I.

Pertunjukan ini membawa penonton menelusuri jejak sejarah benteng peninggalan kolonial tersebut.

Sendratari yang digarap secara kolaboratif oleh Sanggar Kemrincing Art, Sanggar Nayanika, dan Legato Music ini memadukan unsur tradisional dengan sentuhan musik modern. 

Alunan gamelan berpadu harmonis alat musik modern, menciptakan irama yang dinamis dan emosional dalam mengiringi setiap gerak para penari di atas panggung terbuka. 

Baca juga: Sendratari The Tales Of Karangbolong dan Doa Lintas Agama Tutup Tahun 2025 di Kebumen

Penampilan Ela Purwanti, satu di antara puluhan penari yang tampil, terbilang sukses menyedot perhatian ratusan penonton yang memadati Benteng Willem Ambarawa. 

Ela berperan sebagai Ratu Semesta Alam yang tampil sebagai pembuka tarian.

Melalui gerakannya, ia mengisahkan dunia yang penuh dengan segala kesuburannya. 

"Di sini, saya hanya melakukan latihan dua kali kali saja."

"Dua kali kemudian kita memang berproses karena ini memang karya yang harus ditampilkan pada malam hari, yang berperan juga banyak anak baru, sehingga kita ditata oleh koreografer Mas Inu Sanjaya untuk melakukan sebuah gerakan-gerakan yang dikolaborasikan," papar Ela seusai pertunjukan. 

Setelah tarian pembuka, sendratari mengisahkan sejarah pembangunan Benteng Fort Willem I, perjalanan fungsinya dari masa kolonial hingga dinamika pemanfaatannya saat ini.

Ada puluhan penari yang berperan dalam sendratari tersebut. 

"Semoga, penonton menyukainya dan bisa membuat penonton memahani bahwa cerita ini adalah lahirnya Benteng Fort Willem I," ungkapnya. 

Sebagai seorang seniman, Ela berharap, pertunjukan Sendratari Babad Fort Willem I tidak hanya menjadi tontonan pembuka tetapi juga awal dari lahirnya karya-karya sendratari baru di Kabupaten Semarang.

Menurutnya, para seniman muda perlu belajar dan mengenal nilai-nilai yang diwariskan para senior, bahwa tari bukan sekadar menampilkan gerakan indah, melainkan melalui tahapan panjang yang sarat makna.

"Dari para senior, kami diajarkan bahwa tari itu tidak hanya soal keindahan gerak, tapi juga proses."

"Kabupaten Semarang sebenarnya memiliki banyak aset yang bisa dikembangkan menjadi sendratari," ujar Ela.

Dia menilai, kekayaan sejarah dan potensi daerah di Kabupaten Semarang sangat besar untuk diolah menjadi karya seni pertunjukan.

Diawali babad Benteng Fort Willem, diharapkan akan lahir judul-judul sendratari baru yang merepresentasikan identitas daerah.

Pertunjukan pembuka ini juga diharapkan dapat membawa dampak positif bagi perkembangan seni pertunjukan di Kabupaten Semarang.

"Harapannya, nanti ke depannya kita bisa menggarap lagi tarian-tarian yang lebih bagus lagi, seperti yang bisa kita olah yaitu aset wisata seperti Rawon Pening."

"Banyak ya, cerita-cerita sejarah Ambarawa yang bisa dieksplor untuk mengangkat sebuah kisah sendratari," terangnya. 

Baca juga: Wisata Benteng Fort Willem I Ambarawa Resmi Dibuka, Ada Galeri Mobil Antik dan Pusat Kuliner

Ela menjelaskan, dalam dokumen Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), Kabupaten Semarang telah tercatat memiliki Tari Prajuritan yang berbasis kerakyatan.

"Ke depannya, harapannya kita bisa menggarap lagi tarian-tarian dengan ciri khas yang lebih kuat," tambahnya. 

Hadir Setiap Tanggal 15

Bupati Semarang, Ngesti Nugraha turut menyaksikan sendratari tersebut.

Dia pun mengapresiasi pertunjukan yang ditampilkan para penari muda itu.

Menurutnya, pagelaran seni ini sebagai sajian budaya yang luar biasa.

Sendratari tersebut menjadi bukti bahwa Ambarawa memiliki potensi besar untuk dikenal tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional bahkan internasional.

Pagelaran sendratari ini direncanakan akan digelar secara rutin setiap tanggal 15, bertepatan dengan malam bulan purnama.

"Jadi, ini dipentaskan setiap tanggal 15. Istilahnya, ini setiap bulan purnama (bulan purnama hadir setiap tanggal 15 penanggalan Jawa, Red)."

"Jadi, saksikan dan hadiri setiap tanggal 15 di Benteng William ada sendratari yang luar biasa," ujar Ngesti.

Dia menambahkan, kegiatan seni budaya seperti ini akan terus berkembang seiring dengan kekayaan.

Ada lebih dari 4.000 seni budaya yang dimiliki Kabupaten Semarang.

Dia optimistis, pagelaran seni ini mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi Benteng Fort Willem I Ambarawa.

"Dengan adanya pagelaran seni budaya dan seni tari yang luar biasa ini, tentu akan menarik minat wisatawan dan menambah kunjungan ke destinasi Benteng Fort Willem I Ambarawa," ucapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.