Riset UNG Ungkap Ikan Konsumsi di Torosiaje Gorontalo Terkontaminasi Mikroplastik
January 18, 2026 04:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Sebuah peringatan keras bagi kesehatan publik dan kelestarian ekosistem laut muncul dari perairan Teluk Tomini.

Riset terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan fakta mengejutkan bahwa seluruh ikan konsumsi yang diuji di wilayah Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, telah terkontaminasi mikroplastik.

Perkampungan atas air suku Bajo di Desa Torosiaje, Kabupaten Pohuwato berjarak sekitar 245 kilometer dari pusat Kota Gorontalo.

Perjalanan darat umumnya memakan waktu normal sekitar 6 jam 5 menit menggunakan mobil atau sepeda motor. Durasi tersebut sangat bergantung pada kondisi arus lalu lintas dan kecepatan berkendara di sepanjang jalur utama.

Adapun rute utama yang dilalui adalah Jalan Trans Sulawesi. Jalur ini akan membawa pengendara menyusuri pesisir selatan Gorontalo, melintasi wilayah Kabupaten Boalemo, hingga masuk ke pusat Kabupaten Pohuwato sebelum akhirnya tiba di Desa Torosiaje yang terletak di ujung barat provinsi.

Ancaman Sampah Plastik

Riset UNG menunjukkan bahwa ancaman sampah plastik tidak lagi hanya sekadar pemandangan kotor di permukaan laut, melainkan sudah masuk ke dalam rantai makanan manusia. 

Laporan ilmiah bertajuk kontaminasi mikroplastik ini merupakan buah karya kolaborasi akademisi UNG, di antaranya Syam S Kumaji, Dewi Wahyuni K Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.

Riset ini secara resmi telah dipublikasikan dalam Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries edisi Januari 2026.

Data yang disajikan sangat mengkhawatirkan: 100 persen dari sampel ikan komersial yang diteliti positif mengandung mikroplastik. Artinya, tidak ada satu pun individu ikan dalam sampel penelitian tersebut yang bebas dari polutan plastik, sebuah angka yang menunjukkan tingkat pencemaran yang sistemik.

Desa Torosiaje, Pohuwato
IKAN TERCEMAR -- Desa Torosiaje, Pohuwato. UNG menemukan sampel ikan komersial yang diteliti positif mengandung mikroplastik. (Sumber Foto:  Rachmad Humas UNG)

Meskipun wilayah Torosiaje Settlement (permukiman di atas laut) menunjukkan angka kontaminasi yang sedikit lebih rendah dibandingkan daratan (mainland), para peneliti menegaskan bahwa status "bebas plastik" sudah tidak ditemukan lagi di seluruh penjuru sampel perairan tersebut. Hal ini menandakan distribusi polutan yang sudah merata di ekosistem laut pesisir Pohuwato.

Karakteristik Pencemaran

Dominasi bentuk serat ini memberikan petunjuk kuat mengenai asal-usul pencemaran yang terjadi.

Para peneliti menarik benang merah bahwa dominasi serat biru ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas keseharian manusia di wilayah pesisir.

Penggunaan jaring nilon dan tali alat tangkap ikan disinyalir menjadi kontributor utama lepasnya serat-serat plastik tersebut ke kolom air.

Secara ukuran, mayoritas mikroplastik yang ditemukan berada pada rentang 1.000–5.000 mikrometer. Ukuran ini mengindikasikan bahwa plastik-plastik tersebut adalah mikroplastik sekunder, hasil dari fragmentasi sampah plastik berukuran besar yang terdegradasi akibat paparan sinar matahari dan ombak.

Hal ini membantah kemungkinan bahwa pencemaran berasal dari mikroplastik primer seperti microbeads pada kosmetik. Sebaliknya, ini adalah murni dampak dari manajemen sampah plastik konvensional yang buruk di wilayah pesisir Teluk Tomini.

Dampak Bagi Masyarakat Bajo dan Ketahanan Pangan

Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi masyarakat Bajo. Sebagai komunitas maritim yang tinggal di rumah panggung di atas air, ketergantungan mereka terhadap hasil laut mencapai hampir 100 persen untuk memenuhi kebutuhan protein harian.

Keberadaan mikroplastik dalam daging dan pencernaan ikan bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan ancaman langsung bagi kesehatan jangka panjang manusia yang mengonsumsinya. Secara medis, mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia berisiko memicu gangguan inflamasi dan paparan zat kimia berbahaya.

Secara budaya, temuan riset UNG ini merupakan pukulan telak bagi kearifan lokal masyarakat Bajo.

Identitas mereka sebagai penjaga laut kini harus berhadapan dengan kiriman sampah dari daratan dan limbah domestik yang merusak kualitas sumber daya alam mereka sendiri.

Ketahanan pangan di pesisir Pohuwato kini berada di ujung tanduk. Jika kualitas ikan terus menurun akibat polutan, maka kemandirian pangan masyarakat Bajo yang telah bertahan selama ratusan tahun akan terancam oleh krisis kesehatan lingkungan.

Baca juga: HUT DWP dan Hari Ibu, UNG Ungkap Peran Strategis Perempuan dalam Perkuat Fondasi Pendidikan

Mendesaknya Kebijakan dan Pengelolaan Berbasis Komunitas

Menyikapi temuan ini, tim peneliti UNG merekomendasikan adanya langkah nyata dari pemerintah daerah. Pengelolaan sampah pesisir tidak bisa lagi dilakukan dengan metode konvensional, melainkan harus berbasis komunitas dan kearifan lokal.

Edukasi mengenai penggunaan bahan sintetis harus mulai digalakkan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa cara mencuci baju dan pemilihan alat tangkap ikan memiliki kaitan langsung dengan kebersihan makanan yang mereka hidangkan di meja makan.

Pemerintah Kabupaten Pohuwato diharapkan mampu menyusun regulasi khusus terkait pengurangan plastik sekali pakai dan sistem filtrasi limbah rumah tangga di pemukiman atas air. Torosiaje sebagai destinasi wisata budaya sekaligus pusat perikanan harus diproteksi secara hukum.

Selain itu, diperlukan pemantauan rutin terhadap biota laut di Teluk Tomini. Riset ini baru merupakan data awal; pemantauan jangka panjang diperlukan untuk melihat apakah tingkat kontaminasi ini menurun atau justru meningkat seiring waktu.

Upaya mitigasi harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, pemerintah, hingga tokoh adat Bajo. Tanpa adanya tindakan kolektif, mikroplastik akan terus menumpuk dan merusak warisan laut yang selama ini dibanggakan Gorontalo.

Dunia akademik melalui UNG telah menjalankan perannya dalam mengungkap fakta ilmiah.

Kini, bola berada di tangan pemangku kebijakan untuk memastikan bahwa Laut Torosiaje tetap menjadi sumber kehidupan, bukan sumber penyakit bagi generasi mendatang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.