SURYA.CO.ID, JOMBANG - Di balik kabut pagi yang menggantung di lereng Gunung Anjasmoro, bunyi gesekan alat sangrai dan aroma kopi yang menguap menjadi penanda bahwa sebuah tradisi masih hidup.
Di Dusun Banyon, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, roda usaha penggilingan kopi tradisional terus berputar, menolak sepenuhnya tunduk pada laju mesin modern.
Adalah Muhammad Dian Nur Wahid (25) yang setia menjaga denyut warisan itu. Di usianya yang masih muda, Dian memilih melanjutkan usaha keluarga yang telah dirintis sejak awal tahun 2000-an.
Wonosalam memang tidak hanya ada durian, kopi pun menebar aroma kuat. Bagi Dian, menggiling kopi bukan sekadar soal produksi, melainkan menjaga rasa dan cerita yang diwariskan orangtuanya.
Di tempat sederhana itulah Dian memulai setiap proses dengan penuh kesabaran. Biji kopi pilihan ia keringkan secara manual, lalu disangrai perlahan selama hampir satu jam.
Tak ada suara mesin otomatis, hanya panas tungku dan ketelitian mata yang menentukan kematangan. Usai disangrai, biji kopi dibiarkan dingin, disortir kembali, lalu digiling hingga berubah menjadi bubuk kopi yang siap diseduh.
Cara lama itu, menurut Dian, justru menjadi keunggulan. Aroma kopi yang dihasilkan terasa lebih kuat dan khas, berbeda dengan hasil produksi massal.
"Aroma rasa kopi yang dihasilkan itu jadi lebih kuat dan ada aroma khasnya, berbeda dengan produksi massal," kata Dian saat berbincang dengan SURYA, Minggu (18/1/2026).
Di sisi lain, biaya produksi bisa ditekan karena tidak bergantung mesin mahal. Meski demikian, ada harga yang harus dibayar, tenaga ekstra dan ketelatenan tinggi dalam setiap tahapan.
Menariknya, alat-alat penggilingan yang digunakan bukan buatan pabrik. Dian merakitnya sendiri, menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan produksinya.
Dalam sehari, ia mampu menggiling hingga 20 KG kopi, meski rata-rata penjualan harian berkisar 2 KG. Dari situ, usaha kecilnya bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 6 juta per bulan.
"Kopi yang dihasilkan dipasarkan dengan merek Nyoto Roso. Varian unggulannya adalah kopi ekselsa khas Wonosalam, berdampingan dengan arabika, robusta, dan robusta campuran," ujarnya melanjutkan.
Kopi ekselsa dijual Rp 35.000 per kemasan 250 gram, sementara robusta campuran tersedia mulai kemasan 100 gram hingga 250 gram dengan harga terjangkau.
Jangkauan pemasarannya pun melampaui wilayah Jombang. "Pecinta kopi dari Blitar, Tulungagung, hingga Kediri menjadi pelanggan tetap," katanya.
Kopi tradisional ini, selain rasanya yang unik, kerap disajikan untuk menjamu tamu sebagai bentuk kebanggaan pada produk lokal. "Kopi ini cocok untuk menjamu tamu, rasanya khas dan unik," ungkap Dian.
Di tengah arus modernisasi industri kopi, usaha kecil di lereng Anjasmoro ini menjadi pengingat bahwa kearifan lokal tidak selalu kalah oleh teknologi.
"Selama masih ada tangan-tangan yang setia merawat proses dan rasa, kopi tradisional seperti Nyoto Roso akan terus menemukan tempatnya," bebernya.
Harapan Dian pun sederhana, tradisi ini bertahan, tumbuh perlahan, dan terus mengharumkan nama Wonosalam. "Semoga dengan cara ini, kopi Wonosalam bisa terus dikenang dengan keunikannya," pungkas Dian. *****