Potret Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang, Kualitas Belajar Siswa Meningkat Signifikan
January 19, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Puji Widodo

TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Suasana pembelajaran di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 8 Kabupaten Jombang yang berlokasi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojoagung, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, tampak berjalan aktif dan terus menunjukkan perkembangan signifikan.

Pantauan TribunJatim.com di lokasi pada Kamis (15/1/2026) menunjukkan siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan dukungan fasilitas modern serta sistem asrama yang tertata.

Keberadaan Sekolah Rakyat ini merupakan bagian dari program nasional yang baru saja diresmikan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada Senin (12/1/2026).

Dalam peresmian tersebut, Presiden Prabowo meluncurkan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.

Ia menargetkan pendirian 500 Sekolah Rakyat hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2029.

"Hari ini kita berhasil meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Sasaran kita adalah 500 Sekolah Rakyat sampai tahun 2029. Insyaallah akan tercapai," ucap Presiden Prabowo dalam acara di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, sebagaimana disiarkan langsung melalui kanal YouTube Sekretariat Negara.

Baca juga: Sekolah Rakyat Tuban: Harapan Baru Anak Putus Sekolah dan Wali Murid Kurang Mampu

Pengalaman Belajar Menyenangkan

Di Jombang, program ini mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh para peserta didik.

Satu di antaranya Zahra Nabilkis, siswi kelas X-B asal Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Ia mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru sejak menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

"Pengalaman belajarnya sangat menyenangkan. Selain belajar di kelas, saya juga pernah ikut lomba paduan suara tingkat nasional, lomba hadrah, lomba menulis cerpen, dan kegiatan lainnya," ucap Zahra, Kamis (15/1/2026).

Tak hanya akademik, aktivitas keseharian di asrama juga dirancang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan siswa.

Kegiatan keagamaan dan kebersamaan menjadi rutinitas harian yang dijadwalkan secara bergilir.

Menurut Zahra, sistem kepengurusan asrama yang bergantian setiap tiga bulan juga melatih jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa.

"Jadi tiga bulan sekali, pengurus asrama itu diganti. Setiap anak akan memiliki kesempatan agar dirinya bisa menjadi seorang pemimpin dan bisa memiliki tanggung jawab yang besar," katanya.

Fasilitas penunjang pembelajaran pun dinilai memadai. Di ruang kelas, siswa difasilitasi smart board dan laptop, sementara di asrama tersedia mesin cuci, tempat tidur, lemari, hingga meja belajar.

"Kami juga diajarkan menggunakan laptop dan smart board, itu yang paling menarik," tambahnya.

Baca juga: Sekolah Rakyat Ponorogo Jadi Rumah Kedua Anak dengan Latar Belakang Kompleks

Di sekolah, Zahra juga mengaku sangat betah. Selain mendapatkan banyak pelajaran berharga, ia juga belajar berjejaring dan membangun komunikasi dengan kawan sejawatnya.

Jauh dari rumah untuk belajar, membuat Zahra terkadang rindu masakan, maupun pelukan orang tua.

Guna mengatasi rasa rindu itu, pihak sekolah memberikan waktu bagi para wali murid jika ingin menengok perkembangan anaknya di Sekolah Rakyat.

"Tentu ada kalau jatah libur. Jatah liburnya itu yang normal, di luar kalender, biasanya itu dua bulan sekali. Itu pun kita diberikan persyaratan, yaitu harus mengikuti kegiatan dengan baik, harus makan tepat waktu, belajar, dan salat tepat waktu juga. Ketika kita sudah memenuhi kesepakatan itu baru kita diberikan kesempatan untuk pulang," ungkapnya.

Selain itu, wali murid juga diberikan waktu untuk datang langsung ke sekolah untuk melihat anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat.

"Untuk mengatasi rasa kangen itu, kita diberikan kesempatan satu minggu sekali untuk kunjungan orang tua, Itu pun kalau orang tua bisa. Di hari Minggu. Kalau memang orang tua tidak bisa kunjungan, kita itu diberikan jadwal, hari Kamis dan hari Sabtu oleh wali asrama dan wali asuh dipinjami handphone untuk menelepon mengabari ke orang tua," bebernya.

Potensi dan Adaptasi

Dari sisi tenaga pendidik, guru Sekolah Rakyat, Rizky Secio Januar menjelaskan, siswa pada dasarnya memiliki potensi yang sama dengan pelajar di sekolah formal lainnya.

Namun, tantangan awal yang dihadapi adalah adaptasi terhadap teknologi pembelajaran.

"Sebagian siswa belum terbiasa menggunakan laptop. Jadi selain mengajar mata pelajaran, kami juga membekali mereka keterampilan dasar pengoperasian perangkat teknologi," jelas guru sejarah asal Kecamatan Jogoroto, Jombang, tersebut.

Menurutnya, keaktifan siswa di kelas tergolong tinggi.

Bahkan, siswa kerap berinisiatif menyiapkan perangkat pembelajaran secara mandiri ketika proses belajar mengharuskan penggunaan laptop.

"Anak-anak itu alhamdulillah sangat aktif bahkan ketika pembelajaran berlangsung, mereka sendiri yang inisiatif. Misalnya gurunya belum hadir, ataupun pembelajaran itu membutuhkan laptop, anak-anak sendiri yang meminta kami, bapak-Ibu guru, untuk meminjamkan laptop," jelasnya.

Secio menjabarkan, jika penggunaan laptop di Sekolah Rakyat hanya ketika jam pelajaran.

Pria yang mengajar mata pelajaran sejarah di Sekolah Rakyat tingkatan SMA ini menyebut jika penggunaan laptop disesuaikan dengan kebutuhan pelajaran.

"Ada yang mewajibkan, ada juga yang tidak mewajibkan, sesuai kebutuhan saja, karena laptop ini kan digunakan ketika jam pelajaran saja. Jadi ketika pulang sekolah, laptop itu dikumpulkan," imbuhnya.

Dalam kesehariannya sebagai guru, Secio mulai beraktivitas di sekolah sejak pagi hari. Sampai jam bekerja selesai menjelang sore hari.

"Saya melakukan aktivitas seperti mengajar, mengawasi anak-anak di sekolah sejak pukul 07.00 WIB, sampai pukul 15.10 WIB. Untuk pembelajaran, tapi kami sesuai jam kerja dari jam 07.00 WIB sampai menjelang sore, dan setiap hari ada mata pelajaran yang diampu," katanya.

Selain mengajar, Secio juga ikut mengawasi aktivitas anak-anak di sekolah.

"Saya mengajar di hari Selasa, Rabu dan juga Jumat. Selebihnya saya mengikuti pengawasan anak-anak. Seperti ada kegiatan makan siang dan sebagainya," tukasnya.

Kualitas Belajar Meningkat

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang, Andik Minarto, menyampaikan, kualitas pembelajaran terus menunjukkan peningkatan seiring kelengkapan sarana dan prasarana.

"Motivasi belajar anak-anak semakin tinggi. Mereka belajar dengan lebih menyenangkan karena fasilitas sudah mendukung," ujar Andik saat dikonfirmasi di ruangannya.

Terkait penerimaan siswa baru, Andik menjelaskan, proses rekrutmen sepenuhnya menjadi kewenangan Dinas Sosial Kabupaten Jombang.

Calon peserta didik diseleksi melalui asesmen keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di masing-masing kecamatan, sebelum diajukan secara resmi.

Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang didukung 18 guru pembelajaran, satu guru pendidikan agama Islam, 10 wali asuh, serta tenaga penunjang lainnya, termasuk wali asrama, tenaga kebersihan, keamanan, dan juru masak.

Prestasi pun mulai ditorehkan.

Dalam ajang Festival Anak Bangsa di Kota Batu yang diikuti puluhan Sekolah Rakyat se-Indonesia, siswa Jombang berhasil meraih juara dua lomba kaligrafi serta juara harapan pada kategori paduan suara dan solo vokal putri.

"Anak-anak di sini istimewa. Meski berasal dari keluarga kurang mampu, mereka punya potensi dan prestasi yang membanggakan," pungkas Andik.

Program pendidikan berasrama yang digagas pemerintah pusat melalui Sekolah Rakyat resmi dimulai di Kabupaten Jombang, Senin (14/7/2025).

Sebanyak 100 siswa terdiri dari jenjang SMP dan SMA telah menempati asrama di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Mojoagung, sebagai bagian dari pelaksanaan tahun ajaran perdana. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.