TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Sultra - Aksi heroik sang ayah di Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), selamatkan anak perempuannya yang dililit ular Sanca Batik.
Sang ayah yang melihat putri kesayangannya, berinisial CCN (7) itu, sedang bertaruh nyawa, spontan langsung mengambil parang.
Tanpa ampun, ia pun langsung menebas ular yang diperkirakan sepanjang 8 meter itu, secara membabi buta.
Peristiwa mengerikan itu terjadi tepatnya di Kecamatan Oheo, Kabupaten Konut, Provinsi Sultra, pada Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 01.00 Wita.
Sanca batik adalah nama umum di Indonesia untuk ular piton batik (Python reticulatus), satu di antara ular terbesar di dunia dan tidak berbisa.
Adapun ciri-ciri utama ular Sanca Batik yakni kulit bercorak batik/jala khas berwarna cokelat, hitam, dan kekuningan; panjang bisa mencapai 5–7 meter, bahkan bisa lebih; berat dapat melebihi 70 kg; dan tubuh panjang, berotot kuat.
Sementara itu, jarak Kecamatan Oheo dengan Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra sekitar 136 kilometer (km).
Estimasi waktu tempuh perjalanan sekira 2 jam 48 menit berkendara motor atau mobil.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunnewsSultra.com, insiden tersebut bermula saat korban tertidur lelap seorang diri di kamar.
Tanpa disadari, seekor ular piton jenis Sanca Batik masuk ke dalam kamar dan langsung menggigit kaki korban.
Terkejut dan kesakitan, CCN lantas berteriak histeris hingga membangunkan sang ayah.
Sementara sang ular dengan cepat sudah melilit tubuh mungil bocah perempuan itu.
"Mendengar jeritan sang anak, ayah korban langsung menuju kamar dan mendapati pemandangan mengerikan."
"Ular piton itu sudah melilit tubuh CCN dan kembali menggigit bagian pahanya," ungkap seorang anggota keluarga, Eka, Minggu (18/1/2026).
Melihat nyawa anaknya terancam, ayah korban dengan sigap mengambil sebilah parang.
Baca juga: Bocah Menjerit saat Tidur Dililit Ular, Ayah Sigap Ambil Parang
Dalam situasi genting tersebut, ia menebas bagian tubuh dan ekor ular secara membabi buta.
Tebasan yang mengenai titik vital ular tersebut akhirnya membuat lilitan maut perlahan terlepas.
Setelah berhasil dievakuasi, kondisi CCN sempat tidak sadarkan diri.
Sang ayah dengan cepat menyiram tubuh korban menggunakan air hingga CCN kembali bernapas dan tersadar.
“Alhamdulillah, bapaknya cepat bertindak. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak tertolong,” ujar Eka.
Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, ular yang menyerang CCN adalah jenis Sanca Batik (malayopython reticulatus).
Dalam foto pasca-kejadian, terlihat predator tersebut tergeletak mati di atas lantai semen dalam kondisi yang mengenaskan.
Ular tersebut memiliki diameter tubuh yang sangat tebal dengan panjang diperkirakan mencapai 7 hingga 8 meter.
Tubuh ular tampak hancur akibat beberapa luka tebasan senjata tajam yang sangat dalam.
Akibatnya, noda darah berceceran di lantai semen di sekitar bangkai ular.
Usai kejadian, CCN langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Akibat serangan predator tersebut, korban mengalami luka gigitan dalam serta memar serius di bagian kaki dan paha akibat lilitan yang kuat.