TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - 'Mengetuk pintu langit, semoga Ferry Irawan diselamatkan Allah Subhannahu wa ta'ala' begitulah penggalan doa yang dipanjatkan seorang pria saat membuka pengajian di kediaman keluarga Ferry Irawan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang turut jadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Maros, Sulawesi Selatan.
Pengajian yang diikuti oleh keluarga, tetangga dan sejumlah kerabat itu digelar di kediaman orang tua Ferry di Jalan Haji Kunen, Kelurahan Jati Melati, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi Jawa Barat, Minggu (18/1/2026) malam.
Berdasarkan pantauan Tribunnews.com, sejumlah tetangga dan kerabat Ferry satu persatu mulai hadir di lokasi sekira pukul 20.30 WIB.
Tampak mereka kompak mengenakan baju muslim lengkap dengan kopyah di kepala.
Tak hanya tetangga dan kerabat, rekan kerja Ferry dari Kementerian KP juga turut serta dalam pengajian tersebut.
Terlihat salah seorang rekan kerja Ferry masih mengenakan pakaian dinas Kementerian KP ketika ikut pengajian tersebut.
Jemaah pengajian terlihat duduk di berbagai area yang sudah disediakan oleh pihak keluarga mulai dari area dalam rumah hingga di bagian luar yang sudah disediakan tenda.
Sebelum pengajian dimulai, terdengar seorang pria yang membuka pengajian, menyampaikan beberapa kata sambutan di tengah para jemaah.
Pria tersebut terdengar menyampaikan ungkapan terima kasih kepada sejumlah kerabat dan tetangga yang sudah hadir.
Dalam sambutannya itu, pria tersebut juga melantunkan doa agar Ferry Irawan diberi keselamatan oleh Tuhan di tengah proses pencarian yang saat ini masih dilakukan.
"Mengetuk pintu langit, mudah-mudahan saudara Ferry Irawan diselamatkan Allah Subhannahu wa ta'ala dan bisa kembali berkumpul bersama kita," ucap pria tersebut dari dalam kediaman orang tua Ferry menggunakan pengeras suara.
Baca juga: Update Insiden Pesawat ATR 42-500: Benda Warna Orange yang Ditemukan Dipastikan Bukan Black Box
Setelah menyampaikan sambutan dan sepenggal doa, pengajian pun dimulai dan dipimpin oleh seorang pemuka agama atau Ustadz di wilayah tersebut.
Dalam pengajian tersebut terdengar jemaah melafalkan Surat Yasin.
Para jemaah yang ada pun tampak khusyuk membaca surat Yasin yang dipandu oleh seorang pemuka agama tersebut.
Setelah pembacaan Surat Yasin selesai, pengajian itu ditutup dengan doa khususnya keselamatan untuk Ferry Irawan.
Pesawat ATR 42-500 milik (IAT) dengan registrasi PK-THT tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) siang saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pesawat rute Yogyakarta - Makassar itu membawa tujuh orang kru IAT.
Mereka adalah Kapten Andy Dahananto (pilot), Muhammad Farhan Gunawan, Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilia.
Selain itu, pesawat juga membawa tiga orang personel Tim air surveillance dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
Pesawat juga membawa tiga personel Tim air surveillance dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Mereka adalah Analis Kapal Pengawas (Penata Muda Tingkat 1) Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara (Penata Muda Tingkat 1) Deden Mulyana, dan Operator Foto Udara Yoga Naufal.