Chat Terakhir Esther Aprilita Pramugari Pesawat ATR, Rencana Pulang Bareng Ayah, Tunggu Mukjizat
Tribun January 19, 2026 01:38 AM

Pramugari asal Bogor, Esther Aprilita Sianipar, sempat menghubungi kedua orangtuanya sebelum akhirnya menjadi korban dalam insiden pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.

Kontak terakhir tersebut kini menjadi pengingat yang membuat keluarga terus menanti kabar pasti dari proses pencarian.

Hingga saat ini, ayah dan ibu Esther masih berharap adanya kepastian terkait nasib putri mereka, seiring berjalannya operasi pencarian dan evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.

Perkembangan terbaru dari Tim SAR menyebutkan bahwa satu korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah tersebut terdeteksi berada di area tebing gunung dan saat ini masih dalam proses evakuasi karena medan yang sulit.

Selain itu, pada Minggu (18/1/2026), tim SAR gabungan juga berhasil menemukan bagian ekor pesawat serta sejumlah puing lainnya yang tersebar di puncak dan tebing Gunung Bulusaraung.

Penemuan ini menjadi petunjuk penting dalam upaya mengungkap lokasi utama jatuhnya pesawat dan mempercepat proses pencarian korban lainnya.

Chat terakhir korban

Sementara Tim SAR masih terus mencari keberadaan korban lainnya, keluarga salah satu korban, Esther Aprilita Sianipar menanti keajaiban.

Orangtua Esther yang tinggal di kawasan Rancamaya, Desa Bojong Koneng Ciherang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor pun mengurai cerita.

Ibunda Esther, J Siburian mengaku bahwa ia masih berkirim pesan dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026).

Dalam chat tersebut, Esther mengabari sang mama kalau dia sedang berada di Jogja dalam rangka tugas.

Esther pun aktif membagikan lokasinya ke sang mama.

"Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya 'aku sudah di sini mah, di sini mah'," ujar J Siburian.

Namun pada hari kejadian yakni pada Sabtu, Esther sama sekali tak ada kabar.

Diungkap ayah Esther, Adi Sianipar, putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian.

Padahal di hari Sabtu itu Adi mengaku ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor.

"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," pungkas Adi dalam wawancaranya di Kompas TV.

Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi dikabari oleh perusahan tempat Esther bekerja.

Bahwa pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak.

"Saya dihubungi sama kantor IAT tempat dia bertugas. Mulai ditelepon tapi karena lagi di jalan, enggak saya angkat. Dia WA, bahwasanya pesawat yang ditumpangi Esther dari Jogja-Makassar lost contact," imbuh Adi.

Curhat terakhir

Lebih lanjut, Adi pun mengurai curhatan terakhir Esther sebelum jadi korban pesawat jatuh.

Kata Adi, Esther sempat cerita soal alasannya tak bertugas dari pertengahan hingga akhir Desember.

"Dari pertengahan bulan 12 kan dia enggak terbang, dari pertengahan Desember sampai akhir Desember. Karena pesawatnya itu lagi mau dipasang kamera di bawah pesawat itu katanya, kamera cctv, jadi mereka enggak terbang. Jadi masuk Januari mereka terbang lagi," kata Adi.

Terkait dengan alasan Esther bisa ada di Jogja, Adi mengaku tidak tahu.

Karena yang ia tahu, putrinya itu stand by di Jakarta.

"Dia kan stand by di Halim, saya enggak tahu juga kenapa dari Jogja ke Makassar," ujar Adi.

Hingga kini Adi masih optimis Esther bisa dapat keajaiban.

Keluarga masih harap-harap cemas menanti kabar soal kondisi Esther.

"Kami berharap masih ada mukjizat. Karena sampai sekarang kan belum ditemukan. Kami berharap mereka ditemukan dalam keadaan selamat," pungkas Adi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.