Pamitan Terakhir Deden Maulana, Pegawai KKP Korban Pesawat ATR 42-500, Istri Histeris, Ayah Kaget
January 19, 2026 01:51 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Ucapan sederhana itu kini menjadi kenangan terakhir.

“Jalan dulu ya Pak,” adalah pamitan singkat yang diucapkan Deden Maulana kepada tetangganya, tak lama sebelum pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya dilaporkan hilang kontak di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Deden merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Ia tercatat sebagai satu dari sepuluh korban dalam kecelakaan pesawat tersebut.

Bagi para tetangga, Deden dikenal sebagai sosok yang pendiam dan bersahaja.

Suratno (66), tetangga dekat korban, masih mengingat jelas pertemuan terakhirnya dengan Deden sehari sebelum kejadian.

Baca juga: Chat Terakhir Esther Aprilita Pramugari Pesawat ATR, Rencana Pulang Bareng Ayah, Tunggu Mukjizat

Saat itu, tak ada percakapan panjang atau tanda-tanda khusus. Deden hanya berpamitan singkat.

"Pak No, saya jalan dulu ya."

Menurut Suratno, kebiasaan itu memang sudah menjadi ciri khas Deden setiap kali hendak bepergian.

Ia tidak pernah berlama-lama berbincang atau menunjukkan gestur berlebihan saat berpamitan.

"Dia memang selalu begitu. Kalau berangkat, cuma gitu doang, pamit doang. Tiap saya di depan, kalau ketemu dia, jalan, enggak pernah diam, pamit," ujar Suratno saat ditemui di rumah duka di Jalan Mesir II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Minggu (18/1/2026).

Kaget, Tahu-tahu Istri Menangis

Saat kabar hilangnya pesawat terdengar, Suratno terkejut.

Istri Deden tiba-tiba menangis di depan pintunya, memberi tahu suaminya mengalami kecelakaan udara.

Keluarga dan tetangga hingga sore Minggu sore masih menunggu kabar dari tim SAR dan tim gabungan.

"Siapa tahu, ya namanya kan mukjizat, kita enggak tahu. Mudah-mudahan saja cepat ditemukan, biar ada kabar ke sini," tambahnya.

Puing Pesawat dan Satu Korban Ditemukan

Kepala Kantor Pencarian dan Penolong Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan satu korban laki-laki telah ditemukan.

Evakuasi sedang berlangsung melalui jalur pendakian dari puncak Gunung Bulusaraung, sisi Kabupaten Pangkep.

"Pada pukul 14.20 WITA, telah ditemukan satu korban dengan jenis kelamin laki-laki di koordinat 04°54'44"S dan 119°44'48"S di kedalaman jurang sekitar 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat," kata Arif.

Selain korban, tim Search and Rescue Unit (SRU) 3 menemukan serpihan pesawat, diduga bagian rangka dan kursi. Laporan visual juga menunjukkan lokasi mesin pesawat di sekitar area temuan.

Operasi SAR berjalan dalam kondisi cuaca ekstrem: hujan deras dan kabut tebal membatasi jarak pandang personel hanya sekitar lima meter.

"Hal ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel," jelas Arif.

Baca juga: Jalankan Misi Pengawasan Laut, Pegawai KKP Hilang Bersama Pesawat ATR, Keluarga Harapkan Kabar Baik

PESAWAT ATR 42-500 - Insiden pesawat ATR 42-500 hilang kontak dan jatuh di Maros.
PESAWAT ATR 42-500 - Insiden pesawat ATR 42-500 hilang kontak dan jatuh di Maros. (Tribun Trends/DOK. INDONESIA AIR TRANSPORT & Basarnas Makassar)

Identitas 20 Korban dan Misi

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT), registrasi PK-THT, hilang kontak Sabtu (17/1/2026) saat akan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Rute Yogyakarta–Makassar ini ditempuh untuk misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan oleh Kementerian KP.

Di dalam pesawat terdapat 10 orang, terdiri atas tujuh kru IAT dan tiga personel tim air surveillance KKP.

Tujuh kru: Kapten Andy Dahananto (pilot), Muhammad Farhan Gunawan, Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilia.

Tiga personel KKP: Analis Kapal Pengawas Ferry Irawan, Pengelola Barang Milik Negara Deden Mulyana, dan Operator Foto Udara Yoga Naufal.

Direktur Utama IAT, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru dan penumpang agar meluruskan informasi simpang siur sebelumnya.

Harapan Keluarga

Pamitan sederhana Deden kini menjadi kenangan yang menyentuh tetangga dan keluarga, sambil menunggu kepastian dari tim SAR.

Doa dan harapan terus mengiringi pencarian, hingga nasibnya benar-benar diketahui.

(TribunTrends/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.