TRIBUNTRENDS.COM - Suasana haru dan kecemasan mendalam menyelimuti keluarga Deden Maulana. Pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu menjadi salah satu penumpang pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejak kabar itu merebak, keluarga hanya bisa menunggu dalam doa dan harapan, dibalut rasa takut akan kemungkinan terburuk.
Di rumah keluarga, kesedihan terasa begitu nyata. Ayah Deden, Muhsin (80), tampak tak kuasa menyembunyikan duka yang menghimpit dadanya.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia mencoba mengisahkan sosok putra yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga.
Baca juga: Insiden Pesawat ATR IAT, 3 Serpihan Besar Ditemukan di Gunung Bulu, Tim SAR Utamakan Cari Korban
Deden Maulana dikenal sebagai aparatur sipil negara yang telah mendedikasikan hidupnya untuk pengabdian.
Selama kurang lebih 20 tahun, sejak tahun 2005, ia mengabdi di Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saat ini, Deden mengemban amanah sebagai Pengelola Barang Milik Negara di KKP.
Bagi keluarga, Deden bukan sekadar pegawai negara. Ia adalah anak yang penuh tanggung jawab, pekerja keras, dan selalu menempatkan keluarga sebagai prioritas utama.
Muhsin mengungkapkan, kabar mengenai kecelakaan pesawat ATR 42-500 itu datang secara tiba-tiba. Informasi pertama kali diterimanya dari Vera, istri Deden sekaligus menantunya, sesaat sebelum waktu Maghrib.
Kabar tersebut seolah menghantam keluarga tanpa aba-aba.
Di mata Muhsin, Deden adalah gambaran anak yang berbakti. Pribadinya dikenal santun, penurut, dan selalu menjaga komunikasi dengan orangtua.
Setiap langkah hidupnya nyaris tak pernah luput dari kabar kepada keluarga.
"Dia mah orangnya baik, sopan, nurut sama orangtua, jadi kalau ada sesuatu suka bilang.
Ya kebaikannya itu suka memperhatikan orangtua. Kalau orangtua sakit, cepat-cepat dia nengok," ungkap Muhsin.
Kenangan akan kebaikan itu kini justru menambah perih. Setiap cerita tentang perhatian dan kepedulian sang anak menjadi pengingat betapa besar kehilangan yang tengah dihadapi keluarga.
Baca juga: Pilu Keluarga Farhan Co-Pilot Pesawat ATR Menanti Mukjizat, Ibu Tak Sadarkan Diri, Ayah Siaga di RS
Hal yang paling mengejutkan bagi Muhsin adalah kenyataan bahwa Deden tidak sempat berpamitan atau memberi tahu rencana perjalanan dinasnya ke Makassar.
Padahal, selama ini, putranya selalu terbuka soal aktivitas pekerjaan.
Kan saya tinggalnya di Bandung, anak saya di sini, ibunya di Garut, pergi ke Garut itu mau kontrol," ujar Muhsin.
Percakapan terakhir itu kini menjadi kenangan yang tak terlupakan. Pesan sederhana yang dahulu terasa biasa, kini berubah menjadi percakapan terakhir yang penuh makna.
Hingga kini, Muhsin mengaku belum menerima informasi resmi terkait perkembangan pencarian pesawat ATR 42-500.
Ketidakpastian itu menjadi ujian berat bagi seorang ayah yang telah memasuki usia senja. Setiap menit terasa panjang, setiap kabar kecil menjadi harapan baru.
Baca juga: Jaga Anak-anak Chat Terakhir Deden Maulana Korban Pesawat ATR, Gelagat Tak Biasa Diungkap Ayah
Di tengah segala keterbatasan dan penantian yang melelahkan, Muhsin hanya bisa menggantungkan harapan pada Tuhan. Sebagai orangtua, ia tak meminta lebih selain kepastian dan keselamatan putranya.
"Ya semoga cepat ditemukan aja, harapannya supaya cepat ketemu. Itu aja," kata Muhsin.
Doa itu menjadi satu-satunya pegangan, di tengah duka yang belum menemukan ujungnya dan harapan yang masih terus dijaga.
***