Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
"Ada apa dengan rupiah kite? Kenapa melemah saat awal tahun 2026" tanya seorang kolega melalui pesan pendek.
Saat itu, matahari belum juga menampakkan diri. Bacaan doa-doa seusai solat Subuh belum juga usai dirapalkan. Tetiba nada dering di handphone berbunyi pendek. Ting, begitu bunyinya.
Ya, berhubung ada bunyi nada dering pesan pendek, doa-doa pun diucap secara singkat. Pasalnya, khawatir ada sesuatu hal penting yang mesti mendapat penanganan segera.
Jari-jari tangan lalu menekan kode pembuka. Nyatanya, pesan itu datang dari kolega. Kolega lama yang sudah hitungan tahun menetap di Bangka Belitung.
Biasanya, pesan pendek berisi tentang kondisi terkini seusai solat Subuh di suatu masjid. Atau, undangan pendek untuk bergegas mengayunkan kaki menelusuri jalan di seputaran alun-alun Pangkalpinang.
Namun, kali ini berbeda. Pesan itu terasa berat untuk mendapat jawaban. Dan seperti yang dituliskan di awal, begitulah isi pesan sang kolega lama. Dua pertanyaan yang sulit, bukan? Atau jangan-jangan memang tidak sulit. Sebab, justru susunan jawaban itulah yang sulit untuk diutarakan.
Tengok saja realisasi nilai tukar rupiah. Sepanjang tahun 2025, realisasi berkisar Rp 16.475 per dolar AS. Bahkan, jelang tutup tahun angkanya menembus Rp 16.700 per dolar AS.
Coba bandingkan dengan patokan rupiah di APBN 2025, angkanya dipatok Rp 16.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap terus berlanjut memasuki 2026. Pada pekan pertama dan kedua Januari 2026, rupiah berada di kisaran Rp 16.785 hingga Rp 16.880.
15 Januari 2026 kemarin, menengok data lagi, rupiah ditutup Rp 16.880 per dolar AS. Bandingkan lagi dengan asumsi APBN 2026 yang dipatok Rp 16.500 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah ini disebut-sebut sebagai imbas dari kondisi geopolitik di luar negeri yang kian memanas.
Aksi Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan militer ke Venezuela, berikut penggulingan Nicolas Maduro, ketegangan politik di Timur Tengah dan Laut Hitam, mendorong harga minyak melonjak karena khawatir terjadi gangguan pasokan.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar juga dipengaruhi defisit transaksi berjualan di dalam negeri yang terus melebar akibat impor bahan baku dan barang modal ikut melejit.
Pelemahan rupiah tentu ada dampaknya. Seperti bola salju, ketika ongkos produksi dunia usaha dalam negeri bakal membengkak.
Dampak lanjutan bisa memicu inflasi barang impor. Dan ujung-ujungnya konsumen menanggung lonjakan barang. Lagi-lagi, daya beli masyarakat bakal tergerus, khususnya masyarakat kelas menengah-bawah.
Sisi lain yang ikut terdampak adalah fiskal pemerintah dan swasta yang mengantongi pinjaman dari asing. Mereka akan ikut tertekan atas perkembangan kurs rupiah yang terus melemah.
Nah, Rabu (14/1) lalu, Bank Indonesia sudah memberikan angin segar. Mereka akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai mekanisme pasar yang sehat dan nilai fundamental.
BI akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter proposar agar transmisi kebijakan moneter efektif dan likuiditas mencukupi. Harapannya, inflasi terjaga sesuai target dan nilai tukar rupiah terjaga pula.
Caranya antara lain, intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika.
BI juga akan mengintervensi pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Kabar baiknya, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat senilai 156,5 miliar dolar AS atau setara dengan 6,4 bulan impor.
Sementara aliran modal asing di pasar keuangan domestik, terutama ke instrumen SRBI dan pasar saham secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026.
Kedengarannya menenangkan. Namun, sengketa di luar negeri belum berakhir. Sebab, konflik terkadang mengharuskan satu pihak untuk menang.
Unjuk gigi teknologi perang beberapa kali diperlihatkan. Bahkan, saling hitung dan ukur persenjataan sudah didaur ulang.
Keunggulan perang juga sudah dibuka lebar-lebar. Seolah ingin mengabarkan bahwa aritrokrasi baru segera datang. Sebab, kemakmuran dan kemerataan sudah terganggu, dan tersisa untuk bersiap hancur-menghancurkan.