Info BMKG, Daftar Wilayah yang Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang pada 19-20 Januari 2026
Tribun January 19, 2026 09:48 AM

Cuaca ekstrem kembali mengintai sejumlah wilayah Indonesia. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat disertai angin kencang yang diperkirakan terjadi selama dua hari, mulai Senin (19/1/2026) hingga Selasa (20/1/2026).

BMKG menyebutkan, potensi cuaca ekstrem tersebut berpeluang melanda berbagai daerah, terutama di wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, hingga Sumatera Selatan.

Masyarakat di wilayah tersebut diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti genangan, banjir, hingga pohon tumbang.

Kondisi ini dipicu oleh adanya sirkulasi siklonik yang berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S, yang diperkuat oleh suplai massa udara lembap dari monsun Asia.

Kombinasi kedua faktor tersebut meningkatkan pembentukan awan hujan secara signifikan, sehingga memicu hujan dengan intensitas lebat hingga angin kencang di sejumlah wilayah.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti arahan dari otoritas setempat guna meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.

"Kombinasi keduanya membentuk dan menguatkan daerah konvergensi dalam skala yang luas di sekitar wilayah selatan Indonesia, khususnya Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat," tulis BMKG.

Potensi cuaca ekstrem tersebut diperkirakan masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.

Lantas, mana saja wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang pada 19-20 Januari 2026?

Wilayah yang berpotensi hujan lebat pada 19-20 Januari

Dikutip dari Peringatan Dini Cuaca Indonesia BMKG, berikut ini wilayah yang berpotensi dilanda hujan lebat dan angin kencang pada 19-20 Januari 2026:

Senin, 19 Januari 2026

1. Wilayah yang berpotensi hujan sedang hingga lebat

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Jawa Timur

Bali

Nusa Tenggara Barat

Kalimantan Utara

Sulawesi Utara

Gorontalo

Sulawesi Barat

Maluku

Papua Barat

Papua Tengah

Papua Pegunungan

Papua.

2. Wilayah yang berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat

Banten

DKI Jakarta

Jawa Barat

Jawa Tengah

Daerah Istimewa Yogyakarta

Nusa Tenggara Timur

Sulawesi Selatan.

3. Wilayah yang berpotensi hujan lebat hingga ekstrem

Nusa Tenggara Timur.

4. Wilayah yang dilanda angin kencang

Banten

Jawa Timur

Maluku

Nusa Tenggara Timur

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara.

5. Kota/Kabupaten yang berpotensi hujan sangat lebat hingga ekstrem

Nusa Tenggara Timur: Kota Kupang, Kabupaten Kupang.

Selasa, 20 Januari 2026

1. Wilayah yang berpotensi hujan sedang hingga lebat

Sumatera Barat

Jambi

Sumatera Selatan

Bengkulu

Lampung

Banten

DKI Jakarta

Jawa Barat

Daerah Istimewa Yogyakarta

Jawa Timur

Bali

Kalimantan Timur

Kalimantan Selatan

Sulawesi Utara

Gorontalo

Sulawesi Tengah

Maluku Utara

Maluku

Papua Barat Daya

Papua Barat

Papua Tengah

Papua Pegunungan

Papua.

2. Wilayah yang berpotensi hujan lebat hingga sangat lebat

Jawa Tengah

Nusa Tenggara Barat

Sulawesi Barat

Sulawesi Selatan.

3. Wilayah yang berpotensi hujan lebat hingga ekstrem

Nusa Tenggara Timur.

4. Wilayah yang dilanda angin kencang

Bali

Jawa Timur

Maluku

Maluku Utara

Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Timur

Papua

Papua Barat

Sulawesi Selatan

Sulawesi Tenggara.

5. Kota/Kabupaten yang berpotensi hujan sangat lebat hingga ekstrem

Nusa Tenggara Timur: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Rote, Sabu, Flores Timur, Lembata, Belu, dan Alor.

Penyebab hujan lebat dan angin kencang

Menurut analisis BMKG, potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir disebabkan karena dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal.

Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat mengindikasikan La Nina yang lemah.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan di wilayah Indonesia.

Selain itu, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) dan gelombang ekuator juga ikut berpengaruh.

"Kombinasi MJO, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby teramati aktif di Samudra Hindia barat Sumatra, sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan, Maluku Utara, dan Perairan utara Papua, sehingga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut," ungkap BMKG.

Penyebab berikutnya adalah kemunculan Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina yang diperkirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1.000 hPa.

Kemunculan sistem siklonik ini berpengaruh terhadap pembentukan pola angin, khususnya di wilayah utara Indonesia bagian Timur.

Pada saat yang sama, Bibit 96S juga pergerakannya diperkirakan persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1.002 hPa.

Kondisi ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.