BANJARMASINPOST.CO.ID- Tiga belas tahun sudah Didit bolak-balik menyeberangi Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur.
Dia bertahan menjadi pengemudi kelotok penyeberangan karena tidak punya pilihan lain, di saat banyak warga beralih ke transportasi darat.
Penghasilannya pun tak menentu. Kadang ia harus menanggung rugi karena pendapatan tak bisa menutup biaya solar.
Jika ditotal, uang yang didapatkan setiap bulan sekitar Rp 1 juta. Jumlah yang sangat jauh jika dibandingkan dengan upah minimum Samarinda yang menyentuh Rp 4 juta.
Baca juga: Kala Warga Pilih ke Tamban Lewat Dermaga Penyeberangan Banjar Raya, Jarak Tempuh & Biaya Jadi Alasan
Di tengah geliat pembangunan, perahu kayu kecil Didit tetap setia menyeberangi Mahakam. Mesinnya meraung, membelah arus.
Dari balik kemudi, Didit menatap dermaga Pasar Pagi, tempat ia biasa mencari penumpang.
“Rp 5.000 sekali seberang,” katanya, Kamis (15/1). Jika ingin langsung berangkat tanpa menunggu penumpang lain, ongkosnya jadi Rp 20 ribu.
Pria 38 tahun itu mulai menjadi kelotok pada 2012. Awalnya, Didit hanya membantu menggunakan perahu milik ayahnya.
Tiga tahun kemudian, setelah berjuang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, ia akhirnya mampu membeli perahu sendiri pada 2016.
“Waktu itu saya sebelumnya kerja di pelelangan ikan. Tapi sudah mulai sepi bongkaran ikan dari kapal. Akhirnya fokus di sini,” ujarnya.
Sejak itu, Sungai Mahakam menjadi ruang hidup Didit. Setiap pagi, ia mulai standby di dermaga, mengangkut warga yang hendak ke Pasar Pagi, anak buah kapal tongkang yang ingin berbelanja, hingga penumpang kapal dari Sulawesi yang perlu menyeberang menggunakan perahu kecil.
Dalam sehari, tak ada kepastian berapa kali perahunya berangkat. Semua bergantung pada jumlah penumpang.
Ada hari-hari ketika rezeki terasa cukup. Namun tak jarang, Didit pulang dengan pendapatan yang bahkan nyaris tak menutup biaya solar.
“Pernah sehari cuma dapat Rp 40 ribu. Solar saja Rp 50 ribu,” ujarnya lirih.
Didit memiliki dua anak. Anak pertamanya kini duduk di kelas 2 SMP, sementara anak bungsunya berusia lima tahun.
Dengan penghasilan tak menentu, ia dan istrinya terbiasa hidup pas-pasan.
“Insya Allah cukup. Kami cukup-cukupkan,” katanya.
Selama belasan tahun mengarungi sungai, Didit mengaku tak pernah terpikir berganti pekerjaan. Bukan karena tak ingin hidup lebih baik, melainkan karena keterbatasan pilihan.
“Sudah inilah hidup saya,” imbuhnya.
Baca juga: Banjir di Juai Balangan Masih Terjadi, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Bantu Proses Penyeberangan
Jumlah perahu penyeberangan di kawasan itu pun kian menyusut. Perubahan pola transportasi, beralihnya angkutan sungai ke darat, serta sepinya aktivitas bongkar muat ikan turut memengaruhi nasib para pengemudi kelotok.
Risiko kerja di sungai bukan hal asing bagi Didit. Ia menyebut pernah kehilangan teman sesama pengemudi perahu yang meninggal karena kecelakaan.
Didit lahir di Samarinda pada 1988. Ayahnya berasal dari Sulawesi, sedang ibu dari Jawa. Sejak kecil, ia akrab dengan sungai, meski tak pernah membayangkan akan menggantungkan hidup sepenuhnya di atas air. (kompas)