Jakarta (ANTARA) - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) memperluas kolaborasi pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot dari tujuh universitas nasional pada tahun lalu menjadi 10 perguruan tinggi nasional dengan menargetkan 1.000-1.500 mahasiswa pada 2026.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, tujuh kampus yang telah bermitra sejak 2025 adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Ditambah ada 3 tambahan, (yaitu) Universitas Brawijaya, kemudian Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanudin,” ujar M Iftitah Sulaiman Suryanagara di Jakarta, Minggu malam (18/1).
Ia menuturkan, Program Ekspedisi Patriot pertama kali diimplementasikan pada 2025 yang diikuti oleh 1.000 mahasiswa serta sejumlah dosen dan guru besar dari tujuh perguruan tinggi mitra.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memetakan potensi ekonomi di 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia yang dirangkum dalam 400 output hasil penelitian.
Selain penambahan jumlah kampus mitra, Iftitah menyatakan perbedaan pelaksanaan Program Ekspedisi Patriot pada tahun ini juga terletak pada pengembangan dua subprogram, yaitu Ekspedisi Patriot Bakti Transmigrasi dan Investasi Transmigrasi.
Melalui Ekspedisi Patriot Bakti Transmigrasi, para peserta akan melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk yang lebih konkret, misalnya membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan infrastruktur di daerah transmigrasi dengan infrastruktur dasar yang belum terpenuhi.
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut juga dapat dilakukan secara lebih teknis, misalnya mengembangkan pembibitan tanaman serta solusi pembasmian hama bagi kawasan dengan potensi pertanian.
Sementara itu, subprogram Investasi Transmigrasi akan berfokus pada pengembangan industrialisasi potensi ekonomi secara lebih masif di berbagai kawasan yang sudah diriset oleh Tim Ekspedisi Patriot.
“Contohnya, industrialisasi di Rempang dan Galang (Kepulauan Riau), itu nanti selain kawasan industri, juga perikanannya (dan) kelautannya. Kemudian yang kedua, misalkan di Kalukku, Mamuju (Sulawesi Barat), itu ada potensi logam tanah jarang, industri mineral strategis yang sangat dicari di dunia,” kata Iftitah.
Selain industri mineral, ia mengatakan potensi pertanian juga akan dikembangkan di Mamuju untuk mendukung keberlanjutan ekonomi daerah.
“Di-support (didukung) juga dengan pertaniannya, sehingga tidak seperti misalkan di beberapa daerah lain yang berkembang karena pertambangan, tetapi pendapatannya, ekonominya, tidak berjalan (meningkat) dengan baik,” tuturnya.







