Sosok Farhan Co-Pilot Pesawat ATR yang Jatuh, Alumni Taruna Lulusan Akademi Penerbangan Indonesia
January 19, 2026 10:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Inilah sosok Farhan Gunawan, co-pilot pesawat ATR 42‑500.

Pesawat milik Indonesia Air Transport tersebut jatuh di perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Farhan Gunawan menjadi salah satu korban pesawat jatuh.

Farhan Gunawan tercatat sebagai salah satu kru pesawat ATR 42‑500 bernomor registrasi PK‑THT yang hilang kontak sebelum ditemukan jatuh di wilayah hutan Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Sulsel.

Sebelumnya, pesawat dengan registrasi PK-THT itu dilaporkan kehilangan komunikasi setelah menerima arahan terakhir dari Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC).

Dalam proses pendekatan ke landasan pacu RWY 21, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga ATC memberikan arahan koreksi posisi.

Baca juga: Sosok Andy Dahananto, Pilot Pesawat ATR yang Hilang Kontak di Maros, Lulusan Juanda Flying School

ATC kemudian menyampaikan beberapa instruksi lanjutan agar pesawat kembali ke jalur pendaratan sesuai prosedur.

Sosok Farhan Gunawan

Farhan Gunawan merupakan alumnus Sekolah Islam Athirah Makassar.

Ia tercatat sebagai salah satu kru pesawat ATR 42‑500 bernomor registrasi PK‑THT yang hilang kontak sebelum ditemukan jatuh di wilayah hutan Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Sulsel.

Eks Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril menyebut Farhan sebagai sosok yang aktif sejak masa sekolah.

“Farhan pernah menjadi Ketua OSIS SMP Islam Athirah periode 2014-2015 dan Ketua OSIS SMA Islam Athirah periode 2016-2017,” ujarnya pada tribun-timur.com, Minggu (18/1/2026).

Farhan menamatkan pendidikan SMP pada tahun 2016, kemudian melanjutkan ke SMA Athirah.

Setelah lulus, ia menempuh pendidikan di Akademi Penerbangan Indonesia dan tercatat sebagai alumni Taruna.

Keluarga Co-Pilot Pesawat ATR 42-500, Farhan Gunawan, berangkat ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. 

Kedua orang tua Farhan, berangkat dari Malili, Kabupaten Luwu Timur, tak lama setelah insiden hilangnya kontak pesawat milik Indonesia Air Transport, Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita siang. 

Bapak Farhan, Capt Gunawan dan sang Ibunda Hj Indah dikabarkan tiba di Makassar, Minggu (18/1/2026) subuh. 

Kedatangan orang tua Farhan di Makassar demi menunggu kabar pasti anaknya yang kini masih dalam pencarian tim SAR gabungan. 

Setelah dua hari pencarian, tim SAR gabungan lokasi pesawat yang ditumpangi crew dan penumpang berjumlah 10 orang itu mulai dipetakan. 

Tim SAR gabungan telah menemukan serpihan puing pesawat berisi 10 orang itu di sejumlah titik lereng Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan. 

"Basarnas masih bekerja di lokasi, dan kedua orang tuanya (Farhan) sudah ada di Bandara Makassar," jelas Paman Farhan, Herman H Wahyu, kepada Tribun-Timur.com, Minggu sekitar pukul 16.55 Wita sore. 

Serpihan Pesawat Ditemukan

Pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport terakhirnya terlihat oleh petugas gabungan di lokasi.

Demikian terdengar laporan dari Handy Talky (HT) anggota TNI di Gerbang Desa Tompo Bulu Kabupaten Pangkep Minggu (18/1/2026).

Jurnalis Tribun Timur mendengar langsung laporan petugas di HT TNI di gerbang Desa Tompo Bulu.

"Pesawat menabrak gunung. Serpihan terlihat," demikian laporan petugas melalui HT.

"Bodi besar pesawat sekilas termonitor namun tertutup, tak sempat didokumentasikan heli," sambung laporan petugas tersebut.

Titik ditemukan heli pencari. 119 derajat, 44 menit, 49,27 second.

Pantuan Tribun Timur, petugas mempertimbangkan opsi evakuasi pertama pakai helikopter.

Jika tidak memungkinkan akan jalur darat lewat Desa Tompo Bulu Kabupaten Pangkep.

Pukul 09.23 Wita cuaca di lokasi yang awalnya cerah perlahan mulai mendung dan sdikit gerimis.

Prajurit TNI tampak mulai menaikkan kantong mayat.

Saat ini, tim gabungan masih terus bergerak menuju titik jatuh, dengan pola penyisiran yang dibagi ke dalam beberapa regu.

Sebagian regu dilaporkan sudah mencapai puncak Gunung Bulusaraung, sementara regu lainnya masih menerobos hutan mengikuti koordinat lokasi jatuh yang telah ditentukan.

SERPIHAN PESAWAT - Serpihan diduga milik pesawat ATR-42 500 yang hilang kontak ditemukan pendaki di sekitar puncak Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Selain diduga serpihan pesawat, ada pula barang lain seperti dokumen dan logo sebuah instansi dengan lambang Garuda.
SERPIHAN PESAWAT - Serpihan diduga milik pesawat ATR-42 500 yang hilang kontak ditemukan pendaki di sekitar puncak Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Selain diduga serpihan pesawat, ada pula barang lain seperti dokumen dan logo sebuah instansi dengan lambang Garuda. (Tribunnews.com/Instagram @makassar_iinfo)

Di posko utama Desa Tompo Bulu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel telah disiagakan.

Apabila korban ditemukan, seluruh proses evakuasi dan identifikasi awal akan dilakukan di lokasi posko sebelum penanganan lanjutan.

Suasana posko tampak ramai oleh tim relawan, Basarnas, BPBD, TNI, dan Polri.

Tenda-tenda darurat telah didirikan untuk mendukung operasi pencarian dan evakuasi.

Akses Sulit, Tim Jalan Kaki

Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan pegunungan dengan jarak sekitar 20–30 kilometer dari pusat Kabupaten Pangkep.

Akses menuju lokasi terbilang cukup sulit dengan kondisi jalan berbatu, licin, dan becek akibat hujan yang sempat mengguyur kawasan tersebut.

Beberapa kendaraan masih bisa mencapai titik tertentu, namun sebagian besar kendaraan hanya mampu sampai di bawah lereng.

Selanjutnya, tim memutuskan berjalan kaki atau menumpang kendaraan khusus yang mampu menanjak.

Sejumlah relawan bahkan menggunakan sepeda motor untuk menjangkau Kantor Posko Desa Tompo Bulu sebagai titik koordinasi.

Satu Korban Ditemukan

Satu korban Pesawat ATR 42-500 ditemukan di Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).

Korban sementara dievakuasi menuju posko Tompo Bulu.

Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko menerima informasi satu orang meninggal berdasarkan komunikasi melalui handy talkie dengan personel di titik pencarian.

"Bahwa betul telah ditemukan satu orang korban dan sedang dievakuasi melalui jalur pendakian,".

Pangdam juga mengunjungi posko di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Sulsel.

Setelah tiba di posko, Pangdam mengecek langsung tim evakuasi di puncak Gunung Bulusaraung melalu HT.

Tim evakuasi memastikan satu jenazah telah ditemukan dan saat ini dalam proses evakuasi menuju posko.

Kondisi cuaca di Desa Tompo Bulu dan puncak Bulusaraung juga tak menentu.

Beberapa saat lalu cukup cerah berawan, namun tiba-tiba berubah drastis mendung dan turun hujan.

Baca juga: Sosok Juventus Prima Yoris Kago, Bupati Sikka Diduga Permalukan Guru karena Merokok saat Rapat

Saat ini di posko sedang turun hujan, dengan kabut yang juga mulai turun dari gunung ke perkampungan.

Sementara di puncak gunung, laporan terakhir menyebut jarak pandang sangat minim akibat kabut tebal. 

Pesawat yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan ini mengangkut 10 orang yang terdiri 7 crew dan 3 penumpang.

Para korban adalah:

 1.⁠ ⁠Capt Andy Dahananto

 2.⁠ ⁠SIC FO M Farhan Gunawan

 3.⁠ ⁠FOO Hariadi

 4.⁠ ⁠EOB Restu Adi P

 5.⁠ ⁠EOB Dwi Murdiono

 6.⁠ ⁠Flight attendant Florencia Lolita

 7.⁠ ⁠Flight attendant Esther Aprilitas

 8.⁠ ⁠Deden dari KKP

 9.⁠ ⁠Ferry dari KKP

10.⁠ ⁠Yoga dari KKP

(Bangkapos.com/TribunTimur.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.