BANGKAPOS.COM, BANGKA - Di sebuah sudut Desa Batu Rusa, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berdiri sebuah toko kecil dengan plang sederhana bertuliskan “Gubuk”. Toko itu menjual alat tulis, jasa fotokopi, dan cetak dokumen.
Namun, di balik fungsinya sebagai ruang usaha, tempat ini juga menjadi semacam arsip hidup sejarah dan legenda Desa Batu Rusa.
Dindingnya dipenuhi bingkai foto, tulisan tangan, dan potongan kisah masa lampau. Judul-judulnya mencolok: Legenda Sungai Batu Rusa, Asal-usul Nama Desa Batu Rusa, Pulau Sang Benyawe, hingga cerita tentang pelabuhan tua dan rumah-rumah kuno.
Semua catatan itu merupakan karya Iswanto (60), pemuka adat Desa Batu Rusa, yang selama puluhan tahun menjadi penjaga cerita dan ingatan kolektif kampung halamannya.
Ditemui Bangkapos, Senin (12/1), Iswanto mengenakan kaos polos dan peci hitam. Dari balik etalase tokonya, ia mulai menuturkan kisah panjang tentang Batu Rusa, desa yang, menurutnya, bukan sekadar tempat tinggal, tetapi simpul peradaban lama di Pulau Bangka.
Menurut Iswanto, nama Batu Rusa lahir dari sebuah legenda yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.
Kisah itu bermula dari sepasang suami istri yang hidup ratusan tahun lalu. Sang istri mengidam daging rusa, keinginan yang pada masa itu bukan perkara mudah, karena berburu rusa berarti menantang rimba, binatang buas, dan ketidakpastian.
“Karena sayangnya kepada istri, sang suami berangkat berburu,” ujar Iswanto.
Pagi hari ia masuk ke hutan. Matahari terus naik, namun rusa yang dicari tak juga terlihat. Sang pemburu terus berjalan, menyusuri semak, menyeberangi alur air, hingga siang berlalu tanpa hasil.
Iswanto menyebut, kawasan Batu Rusa sejak dahulu memang dikenal sebagai habitat rusa. Bahkan, wilayah ini diyakini sebagai tempat berkumpulnya rusa, terutama di sekitar hutan dan aliran Sungai Batu Rusa.
Pada masa itu, keberadaan rusa begitu melimpah dan menjadi pemandangan lazim bagi warga.
Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Rusa hampir tidak pernah ditemui lagi seiring menyusutnya kawasan hutan.
Meski demikian, Iswanto mengaku masih sempat melihat langsung keberadaan rusa di kawasan itu pada era 1980-an.
“Dulu memang banyak rusa di sini. Sekarang sudah hampir tidak ada lagi, tapi tahun 80-an saya masih pernah melihatnya,” katanya.
Si Pahit Lidah
Dalam legenda itu, menjelang sore, ketika harapan hampir pupus, sang pemburu melihat seekor rusa di sekitar Sungai Batu Rusa. Rusa itu tampak tenang, seolah tak menyadari kehadiran manusia.
Dengan langkah perlahan, sang pemburu mengendap-endap. Napas ditahan, setiap gerakan dijaga agar tak menimbulkan suara. Ia takut rusa itu lari sebelum senjata sempat dilepaskan.
Di saat genting itulah, menurut cerita, datang sosok yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah, seorang kakek sakti yang dipercaya setiap ucapannya menjadi kenyataan.
“Si Pahit Lidah memanggil berkali-kali, tapi karena takut rusanya kabur, si pemburu ini tidak menjawab,” tutur Iswanto.
Karena tak mendapat jawaban, Si Pahit Lidah mengucapkan kalimat yang dipercaya memiliki kekuatan gaib.
“Kelak jadi batu rusa,” ucapnya.
Menurut legenda, seketika itu pula sang pemburu dan rusa tersebut berubah menjadi batu. Peristiwa itulah yang dipercaya sebagai asal-usul nama Batu Rusa.
Kisah itu tak berhenti sampai di situ. Istri sang pemburu yang menunggu di rumah merasa gelisah karena suaminya tak kunjung pulang. Ia menyusul ke hutan dan bertemu Si Pahit Lidah. Saat mengetahui suaminya telah menjadi batu, kesedihannya memuncak.
“Karena tidak kuat menahan duka, sang istri pun akhirnya menjadi batu,” ujar Iswanto.
Batu itu kemudian dikenal sebagai Air Batu, yang hingga kini diyakini masih ada dan dahulu menjadi sumber air utama masyarakat Batu Rusa.
Dijadikan Simbol
Sementara itu, Kepala Desa Batu Rusa, H. Junaidi, mengatakan bahwa identitas desa juga diwujudkan lewat berbagai tugu dan patung rusa yang berdiri di titik-titik strategis, mulai dari simpang jalan hingga pintu masuk permukiman.
“Rusa itu memang simbol Batu Rusa. Dari dulu cerita orang tua-tua, daerah sini memang tempat banyak rusa,” ujar Junaidi, Selasa (13/1).
Namun, Junaidi mengakui, upaya pelestarian budaya dan sejarah masih terkendala anggaran.
“Tahun kemarin hampir satu miliar, sekarang dana desa tinggal sekitar Rp373 juta,” katanya.
Akibatnya, sejumlah program desa terpaksa ditunda, termasuk kegiatan adat berskala besar dan rencana pengembangan desa wisata berbasis sejarah.
Meski demikian, ia mengapresiasi inisiatif warga seperti Iswanto yang berupaya mendokumentasikan legenda desa.
“Ini identitas kita. Kalau hilang, kita kehilangan jati diri,” pungkasnya. (x1)