Tribunnewsmaker - Seorang bocah laki-laki berusia dua tahun meninggal dunia secara mendadak akibat penyakit langka yang gejalanya menyerupai flu, hanya beberapa minggu sebelum ia merayakan ulang tahunnya yang ketiga.
Baca juga: Perjuangan Remaja Melawan Penyakit Langka, Jalani Operasi Maraton Angkat Kaki Seberat 79 Kg
Pada 8 Januari 2026, bocah bernama Hudson Hughie Martin tiba-tiba pingsan di tangga rumah keluarganya. Ia dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian, meskipun petugas medis telah berusaha selama lebih dari satu jam untuk mengembalikan detak jantungnya.
“Apa pun yang bisa dilakukan sudah mereka lakukan,” kata ayah Hudson, Damien Martin, kepada Bristol Live. “Namun jantungnya tidak pernah kembali berdetak.”
Menurut penggalangan dana GoFundMe yang dibuat oleh bibinya, Danielle, Hudson pertama kali didiagnosis mengidap penyakit Kawasaki saat usianya baru tujuh bulan.
Penyakit Kawasaki merupakan kondisi langka yang menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah berukuran sedang yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak. Selain itu, penyakit ini juga dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening serta peradangan pada bagian dalam mulut, hidung, mata, dan tenggorokan.
Damien mengenang kondisi Hudson sebelum diagnosis ditegakkan. Selama beberapa minggu, keadaan putranya terus memburuk hingga akhirnya hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur.
“Setiap hari kondisinya semakin parah. Mereka hanya mengambil sampel darah dan melakukan berbagai tes, tapi saat itu tidak ada jawaban yang jelas,” ujarnya.
Ibu Hudson, Natalie, mengatakan bahwa diagnosis baru ditegakkan setelah ada seseorang yang menyadari kesamaan gejalanya dengan penyakit Kawasaki.
“Ada yang datang dan berkata, ‘Dia memiliki semua gejalanya, mengapa belum diobati sebagai penyakit Kawasaki?’” kenangnya.
Setelah diagnosis ditegakkan, Hudson menjalani dua kali rangkaian pengobatan. Secara fisik dan perilaku, ia sempat menunjukkan tanda-tanda membaik. Ia kembali bangun, bergerak, dan mau makan. Namun, hasil tes medisnya tetap mengkhawatirkan.
“Angka-angka kesehatannya tidak pernah turun ke tingkat yang aman,” jelas Damien. “Meski secara kasat mata ia terlihat membaik, dokter setiap hari datang dengan kabar buruk dan mengatakan tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan. Kami perlahan dipersiapkan untuk kemungkinan terburuk.”
Saat akhirnya diizinkan pulang dari rumah sakit, Hudson diketahui mengalami aneurisma besar di dekat jantungnya. Selama beberapa bulan berikutnya, ia harus mengonsumsi berbagai jenis obat untuk menjaga kondisinya.
Meski menjalani sakit berat, Hudson tidak pernah menunjukkan penderitaannya kepada orang-orang di sekitarnya.
“Tidak ada yang akan menyangka dia sakit,” kata Danielle. “Dia anak laki-laki yang sangat ceria. Dia suka menari, menikmati musik, dan sangat disayangi ketiga kakak laki-lakinya: Kieran, Preston, dan Ashton.”
Damien juga mengenang putranya sebagai anak yang aktif dan penuh keberanian.
“Dari foto atau video, tak akan terlihat ada yang salah. Dia melompat ke mana-mana, suka memanjat, menari, dan selalu bersemangat,” ujarnya.
Natalie menambahkan bahwa Hudson memiliki kepribadian yang sangat kuat meski usianya masih sangat kecil.
“Dia ingin melakukan semuanya sendiri. Dia memanjat perosotan tertinggi, terus bergerak, dan memiliki kepribadian yang sangat menonjol. Dia benar-benar penuh semangat hidup.”
Setelah kepergian putra mereka, Damien dan Natalie bertekad untuk meningkatkan kesadaran para orang tua tentang penyakit Kawasaki. Mereka menekankan bahwa hingga kini tidak ada tes khusus untuk mendiagnosis penyakit tersebut. Diagnosis hanya dapat dilakukan dengan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
“Orang tua harus berani mendesak agar pemeriksaan dilakukan,” kata mereka. “Jika orang tua mengenali gejalanya dan tahu apa yang harus diperhatikan, mereka bisa lebih aktif bertanya kepada tenaga medis. Penyakit ini memang jarang, dan terkadang belum cukup dikenal oleh para profesional.”
Tribunnewsmaker | People.com | Aleyda Salsa Sabillawati