Isi Chat Terakhir Ester Aprilitia ke Mamanya, Pramugari Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Pangkep
January 19, 2026 01:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM - Esther Aprilita Sianipar pramugari Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT).

Pesawat ini jatuh di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Esther Aprilita Sianipar berasal dari Bogor, Jawa Barat.

Esther belum ditemukan sejak Pesawat ATR 42-500 dinyatakan hilang.

Adi Saputra ayah Esther Aprilita sudah berada di Makassar.

Baca juga: Mudahkan Pencarian dan Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, BMKG Modifikasi Cuaca Gunung Bulusaraung

Ia sudah menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara Makassar pada malam sebelumnya.

Ibunda Esther, J Siburian, mengaku masih berkirim pesan (chat) dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026) sebelum kejadian.

Esther mengabari sedang berada di Jogjakarta dalam rangka tugas.

"Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya aku sudah di sini mah, di sini mah," ujar J Siburian.

Namun keesokan harinya, Esther sama sekali tak ada kabar.

 Adi Sianipar, ayah Esther, mengatakan putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian.

"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA (WhatsApp) dia karena saya lagi ke Jakarta. Dia kan kos di Jakarta jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," pungkas Adi.

Hingga akhirnya pada Sabtu sore, Adi dikabari oleh perusahan tempat Esther bekerja.

Bahwa pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak.

Dia mendapat kabar mengenai insiden hilang kontak pesawat jenis ATR 42-500 ini dari pihak perusahaan IAT, perusahaan jasa penerbangan charter yang telah beroperasi sejak 1968. 

"Kami berharap masih ada mukjizat karena sampai jam sekarang [Minggu (18/1/2026) pagi] kan belum ditemukan. Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat," jelas Adi.

Keluarga Korban Datangi RS Bhayangkara

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai melakukan pemeriksaan DNA terhadap keluarga korban pesawat ATR 42-500.

Proses ini dilakukan untuk memastikan identitas korban secara akurat melalui prosedur antemortem.

Pantauan Tribun Timur, Senin (19/1/2026) pukul 11.42 WITA, beberapa keluarga korban telah mendatangi pos ante mortem yang disiapkan di Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Setiap keluarga terlihat menjalani prosedur pengambilan sampel DNA dengan pendampingan penuh oleh tim DVI.

Posko tersebut dioperasikan oleh 12 personel Tim DVI dan berada di bawah komando langsung Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, Mars, QHIA. 

Penyiagaan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi guna mendukung proses identifikasi korban apabila diperlukan.

Muhammad Haris menegaskan harapan agar seluruh korban dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

Sebagai antisipasi, Pos Ante Mortem tetap disiagakan guna mendukung proses identifikasi.

“Semoga seluruh kru dan penumpang masih selamat. Namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami sudah menyiapkan posko di Biddokkes,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pos Ante Mortem berfungsi untuk pengumpulan data diri korban.

Sementara Pos Post Mortem disiapkan untuk pemeriksaan jenazah. 

Seluruh proses identifikasi akan dilakukan sesuai prosedur DVI yang berlaku.

“Ante mortem untuk pendataan korban, sedangkan post mortem untuk pemeriksaan jenazah,” terangnya.

Ayah Dwi Murdiono Korban Pesawat ATR 42-500: Saya Nunggu di Makassar Sampai Anak Saya Ditemukan

Wajah lelah tak mampu disembunyikan Bambang Muchwanto. 

Ia memilih menetap sementara di Makassar demi menunggu kepastian nasib sang anak. 

Dwi Murdiono diketahui menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport.

Bambang, ayah Dwi Murdiono, menempuh perjalanan panjang dari Kota Malang bersama anak ketiganya, Tarmizi. 

Ia berangkat sejak siang hari setelah menerima kabar bahwa putranya tercatat sebagai salah satu korban pesawat.

Setibanya di Makassar sekitar pukul 20.00 WITA, Bambang langsung menjalani proses pengambilan sampel DNA di Pos Ante Mortem pada Minggu (18/1/2026) malam. 

Pos tersebut berlokasi di Dokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Bambang juga menunggu perkembangan informasi kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung.

“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam. Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan,” ujar Bambang dengan suara lirih saat ditemui di Dokkes Polda Sulsel.

Kabar awal mengenai Dwi Murdiono ia terima dari seorang teman. 

Sekitar pukul dua siang, Sabtu (17/1/2026), seorang rekannya mengabarkan bahwa Dwi salah satu korban pesawat ATR.

Sejak saat itu, Bambang terus menunggu kabar baik.

Ia berharap sang anak dapat ditemukan dalam kondisi selamat.

“Setelah itu saya cuma bisa nunggu. Semoga anak saya selamat,” katanya.

Namun harapan itu dibayangi kecemasan ketika Bambang kembali mendapat informasi agar segera berangkat ke Makassar untuk keperluan identifikasi korban. 

Bambang tak sanggup meninggalkan Makassar meski telah menjalani proses pencocokan DNA. 

Ia memilih bertahan sambil menunggu kepastian nasib sang putra.

“Kita belum tahu apa-apa. Tapi maunya sampai anak saya ketemu. Percuma datang jauh-jauh kalau cuma ambil sampel DNA,” ucapnya.

Dwi Murdiono merupakan anak sulung dari empat bersaudara. 

Di antara keempat anaknya, hanya Dwi yang memilih mengikuti jejak sang ayah menekuni dunia penerbangan sebagai engineer pesawat. 

Bambang mengaku telah pensiun dari profesinya sejak pandemi Covid-19. 

Kini, ia hanya bisa memanjatkan doa agar tim SAR segera menemukan putranya dan memberi kepastian atas penantian panjang tersebut, apa pun hasilnya.

“Saya cuma ingin anak saya ditemukan,” ucapnya sembari mengenang sosok putranya.(*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.