TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Minahasa - Salah satu pramugari korban pesawat ATR 42-500 ternyata sudah mempunyai rencana menikah.
Namun nasib berkata lain, pramugari tersebut jadi korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Sulawesi Selatan, Sabtu (18/1/2026).
Tepatnya di wilayah puncak Gunung Bulusaraung perbatasan Pengkep-Maros.
Dia adalah Florencia Lolita Wibisono (32), anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya.
Rencana pernikahan Florencia Lolita ini diungkap keluarganya, Yanti (46) saat ditemui TribunManado.co.id di Tondano, Jalan Donald Isaac Panjaitan, Kelurahan Taler, Kecamatan Tondano Timur, Kabupaten Minahasa, Minggu (19/1/2026).
“Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya,” ujar Yanti.
Ditambahkan Yanti, calon pasangan Florencia yang akrab disapa Olen, berprofesi sebagai seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan.
Anggota keluarga lainnya, Ramos menyebut, Florencia baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport.
“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos di rumah orang tua korban, Minggu (19/1/2026).
Sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, Florencia tercatat menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air.
“Kurang lebih 13 tahun dia di Lion Air,” ungkap Ramos.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Olen juga dipercaya menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung.
Perannya kerap dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior. “Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambungnya.
Florencia terakhir kali pulang ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara sekitar dua tahun lalu.
Sejak saat itu, ia belum sempat kembali ke kampung halaman.
“Terakhir dia pulang ke sini sekitar dua tahun lalu. Itu terakhir dia datang,” tutur Ramos.
Meski jarang pulang, komunikasi dengan orang tua disebut tetap terjaga.
Menurut Ramos, Florencia memiliki kebiasaan menghubungi orang tuanya setiap kali akan menjalani penerbangan.
“Setiap mau berangkat terbang, dia selalu video call orang tua di sini. Itu sudah pasti,” ungkapnya.
Ia menuturkan, kebiasaan tersebut rutin dilakukan sebagai bentuk perhatian kepada keluarga sebelum bertugas.
Neltje Maramis, mama dari Florencia Lolita Wibisono, salah satu korban kecelakaan pesawat ATR PK THT 42-500 di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan berangkat dari Manado menuju Maros pada Minggu (18/1/2026) sore bersama suaminya.
Maros merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar.
Suasana haru menyelimuti keberangkatan Neltje Maramis di Bandara Sam Ratulangi Manado.
Ibu dari Florencia Lolita Wibisono, tampak tak banyak bicara saat bersiap terbang menuju Maros.
Meski tertutup masker, kesedihan mendalam terlihat jelas dari tubuh dan wajahnya yang bergetar menahan tangis.
Neltje menceritakan bahwa komunikasi terakhir secara fisik dengan putrinya terjadi tahun lalu saat perayaan ulang tahun di Minahasa.
Kini, ia harus berangkat dalam situasi yang sangat berbeda.
Secara terpisah, kakak Florencia, Anastasya, juga berangkat dari Jakarta untuk berkumpul di lokasi yang sama.
Kehadiran mereka di sana bertujuan untuk menjalani serangkaian tes serta menanti Florencia ditemukan.
Di tengah ketidakpastian ini, Neltje mengaku keluarga hanya bisa berserah diri.
“Kami hanya bisa berdoa yang terbaik,” ungkapnya lirih dikutip dari TribunManado.co.id.
Setibanya di Bandara Hasanuddin nanti, pihak keluarga diminta langsung menuju rumah sakit.
Pada Sabtu (17/1/2026), pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dilaporkan jatuh di kawasan Pegunungan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Menunjukkan berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, posisi terakhir pesawat dari data AirNav Indonesia.
Berada di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung, kawasan hilangnya pesawat yang dipiloti kapten senior, Andy Dahananto (53) tahun ini .
Dua pendaki yang saat itu berada di puncak gunung menjadi saksi mata insiden yang diperkirakan terjadi pukul 13.00 WITA.
Reski (20), salah satu pendaki menyaksikan ada pesawat yang terbang rendang sebelum akhirnya menghantam lereng gunung dan mengalami ledakan.
"Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan," ujar Reski, dikutip dari Tribun-Timur.com.
Ia pun segera mengambil ponselnya untuk merekam kejadian tersebut sebagai bukti awal.
"Cepat sekali (kejadiannya)," tuturnya.
Reski dan rekannya pun langsung memutuskan untuk turun gunung sambil membawa kabar duka.
Sehari sebelum dilaporkan jatuh, Pesawat ATR 42-500 yang membawa 10 orang itu, mengalami permasalahan di bagian mesin.
Petinggi IAT yang menjabat sebagai Direktur Operasional, Capt Edwin membenarkan hal itu.
Pihak IAT mengklaim permasalahan sudah berhasil diperbaiki di hari pertama penemuan.
Akan tetapi, Capt Edwin tidak membeberkan secara gamblang soal masalah mesin tersebut.
“Memang ada problem di enginering kami, tapi kami sudah tes."
"Problem kecil, tapi kami sudah perbaiki hari Jumat,” kata Edwin, dikutip TribunSumsel.com dari Tribun-Timur.com.
Pesawat yang bertolak dari Yogyakarta ke Makassar tersebut disewa KKP untuk patroli udara di wilayah Pengelolaan Perikanan RI 712 dan mengangkut tujuh kru dan tiga penumpang.
Berikut daftar korbannya:
1. Capt Andy Dahananto
2. SIC FO M Farhan Gunawan
3. FOO Hariadi
4. EOB Restu Adi P
5. EOB Dwi Murdiono
6. Flight attendant Florencia Lolita
7. Flight attendant Esther Aprilitas
8. Deden dari KKP
9. Ferry dari KKP
10. Yoga dari KKP