TRIBUNTRENDS.COM - Kisah pilu Florencia Lolita Wibisono, pramugari yang jadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di area pegunungan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1/2026).
Perempuan yang akrab disapa Olen itu sempat mengunggah video di akun TikTok-nya, @florencia.lolita, tiga hari sebelum kejadian.
Dalam unggahan tersebut, Florencia Lolita Wibisono mengunjungi Danau Toba.
Ia tampak sedang menikmati keindahan danau vulkanik alami terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, yang terletak di Sumatera Utara tersebut.
Dalam video itu, Florencia Lolita Wibisono menggunakan lagu SZA berjudul All The Stars sebagai lagu latar.
Ia juga mengutip liriknya di bagian awal video:
"When SZA said: Better live your life, we're running out of time."
(Saat SZA berkata: Lebih baik jalani hidupmu, waktu kita hampir habis.)
Unggahan Florencia Lolita Wibisono itu mendapatkan banyak komentar dari netizen.
Banyak dari mereka yang menanyakan kondisi Olen setelah kabar jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya viral.
"Mba olennnn, mba baik baik aja kan?? Kita nunggu kabar mba, semoga tuhan melindungi mba dan yang lainnya," tulis seorang warganet.
"Semoga ada muzizat tuhan," sambung warganet lain.
"Mbaaa pulang kasih kami kabar baik, keluarga serta teman” masih menunggu kabar baik nya, bawa esther dan seluruh crew serta penumpang jugaa," ungkap seorang warganet.
"Aku kenal ollen dia baik, semoga lekas diketemukan," tambah warganet lain.
Baca juga: Pesan Terakhir Ferry Irawan, Penumpang Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Maros: Untuk Anakku
Pesawat ATR 42-500 milik PT Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto pada pagi hari setelah dinyatakan memenuhi seluruh prosedur keamanan dan operasional penerbangan.
Dalam penerbangan itu, pesawat membawa tujuh kru dan tiga penumpang.
Tiga penumpang tersebut adalah pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP, yaitu Ferry Irawan sebagai Analis Kapal Pengawas, Deden Mulyana sebagai Pengelola Barang Milik Negara, dan Yoga Naufal sebagai Operator Foto Udara, yang sedang melaksanakan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara.
Saat mendekati Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, pesawat diketahui tidak berada pada jalur yang seharusnya.
Petugas pemandu lalu lintas udara sempat memberikan arahan koreksi posisi kepada awak pesawat.
Namun, komunikasi antara Air Traffic Controller atau Pengatur Lalu Lintas Udara (ATC) dan pesawat tiba-tiba terputus sebelum pesawat berhasil kembali ke jalur pendaratan.
Menindaklanjuti hilangnya kontak tersebut, ATC menetapkan status darurat penerbangan.
Berdasarkan data koordinat terakhir, posisi pesawat diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Tim SAR gabungan segera dikerahkan untuk melakukan pencarian melalui jalur darat dan udara.
Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan berawan, dengan jarak pandang yang masih memungkinkan penerbangan.
Dalam proses pencarian, masyarakat setempat melaporkan adanya suara ledakan dan munculnya titik api di kawasan pegunungan.
Wilayah yang dimaksud berada di sekitar Gunung Bulusaraung dan Gunung Bawakaraeng.
Medan yang berupa pegunungan karst dengan hutan lebat serta tebing terjal menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.
Upaya pencarian juga terkendala kabut tebal, hujan, dan angin kencang.
Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, patroli udara mendeteksi serpihan berwarna putih di lereng Gunung Bulusaraung.
Temuan tersebut dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat ATR 42-500.
Tak lama kemudian, badan utama pesawat ditemukan di sisi puncak gunung.
Operasi pencarian intensif membuahkan hasil pada Minggu (18/1/2026), ketika tim SAR gabungan menemukan satu korban di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, beserta sejumlah barang pribadi penumpang.
Meski medan pencarian sangat berat, namun tim berhasil menemukan beberapa bagian besar pesawat seperti jendela, ekor, dan badan pesawat, serta banyak serpihan kecil tersebar di berbagai titik.
Serpihan-serpihan tersebut menjadi petunjuk penting dalam pencarian, dengan lokasi berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, sekitar 26,49 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin.
Pemerintah mengerahkan Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, AirNav Indonesia, BMKG, dan pemerintah daerah untuk mempercepat pencarian dan evakuasi.
Kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi saat menabrak lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, sehingga pecah menjadi serpihan, menurut Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono.
Insiden ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yang berarti pesawat masih bisa dikendalikan pilot, namun benturan dengan lereng gunung tidak bisa dihindari.
Serpihan pesawat yang ditemukan tim SAR menjadi bukti benturan keras tersebut.
KNKT masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dan belum berspekulasi mengenai kemungkinan kelalaian.
Baca juga: Detik-detik Pesawat ATR 42-500 Meledak Usai Hantam Gunung Bulusaraung: Serpihan Berhamburan!
Daftar Kru Pesawat:
Daftar Penumpang:
(TribunTrends/ Amr)