Sosok 2 Pramugari ATR yang Jatuh di Sulsel, Olen Baru Bekerja 3 Bulan
January 19, 2026 03:50 PM

 

TRIBUNBEKASI.COM, MAKASSAR- Berikut sosok dua pramugari pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan publik.

Keduanya adalah Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Sianipar. 

Hingga kini belum ditemukan jasad awak dan penumpang pesawat ATR 42-500.

Ada sebanyak 10 awak dan penumpang pesawat yang jatuh di Pegunungan Bulusaraung, Pangkep, Sabtu (17/1/2026). 

Florencia Baru 3 Bulan di ATR

Florencia Lolita Wibisono atau akrab disapa Ollen dikenal sebagai pramugari senior dengan jam terbang panjang di dunia penerbangan.

Perempuan berusia 32 tahun itu telah mengabdi sekitar 14 tahun sebagai pramugari Lion Air sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport.

Namun ironisnya, Ollen baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 saat insiden terjadi.

“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos, anggota keluarga Florencia.

Tak hanya berpengalaman sebagai awak kabin, Ollen juga dipercaya menjadi pelatih pramugari baru.

“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” sambung Ramos.

Florencia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Keluarga menyebut ia juga tengah memiliki rencana menikah dengan seorang pilot.

Keluarga Masih Menunggu Kabar Florencia

Hingga Minggu (19/1/2026), Florencia masih dinyatakan hilang dan belum ditemukan tim SAR.

Yanti, anggota keluarga Florencia, mengaku pihak keluarga masih berharap besar Ollen bisa segera ditemukan.

“Kami tetap berharap Ollen bisa segera ditemukan,” ujar Yanti di Minahasa, Sulawesi Utara.

Tim SAR menyebut cuaca buruk menjadi kendala utama dalam proses pencarian dan evakuasi korban di lokasi pegunungan.

Esther, Sempat Kirim Chat Terakhir dari Yogyakarta

Pramugari lainnya, Esther Aprilita Sianipar, berasal dari Bogor, Jawa Barat.

Hingga Minggu (18/1/2026), Esther juga belum ditemukan sejak pesawat dinyatakan hilang kontak.

Ibunda Esther, J Siburian, mengungkapkan masih sempat berkomunikasi dengan putrinya sehari sebelum kecelakaan.

“Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja,” ujarnya.

Keesokan harinya, komunikasi mendadak terputus dan Esther tak lagi bisa dihubungi dikutip dari 

Keluarga Berharap Mukjizat

Ayah Esther, Adi Saputra, telah berada di Makassar untuk mengikuti perkembangan pencarian.

Ia juga menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara Makassar sebagai bagian dari proses identifikasi korban.

“Kami dikabari dari perusahaan kalau pesawat yang ditumpangi Esther hilang kontak,” kata Adi.

Meski situasi penuh ketidakpastian, keluarga masih menyimpan harapan.

“Kami berharap masih ada mukjizat. Kami berharap mereka semua ditemukan dalam keadaan selamat,” ujarnya lirih.

Hingga kini, tim SAR masih melanjutkan pencarian terhadap seluruh korban pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di Pegunungan Bulusaraung.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.