TRIBUNJAKARTA.COM - Dua korban pesawat ATR 42-500 ditemukan oleh Tim SAR dalam operasi pencarian sampai hari ketiga, Senin (19/1/2026).
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Hingga saat ini, lebih dari 1.200 personel SAR gabungan masih dikerahkan dan pencarian dibagi ke dalam empat sektor.
Dua korban yang ditemukan yakni perempuan dan pria. Korban terbaru ditemukan sekitar 15 menit sebelum konferensi pers yang dimulai pukul 14.25 Wita, sekitar pukul 14.10 Wita.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan, penemuan korban itu berdasarkan laporan langsung dari tim SAR yang berada di lokasi kejadian.
“Dari hasil komunikasi kami yang terhubung langsung dengan tim di lapangan, hari ini kembali ditemukan satu korban. Kira-kira 15 menit yang lalu,” kata Syafii saat konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar, kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dikutip dari Tribun Timur.
Dengan penemuan tersebut, total korban yang telah ditemukan hingga hari ketiga pencarian berjumlah dua orang.
Sehari sebelumnya, tim juga menemukan salah satu jenazah diduga korban kecelakaan pesawat yang mengangkut 10 orang tersebut.
"Korban pertama berjenis kelamin laki-laki," ujar Syafii.
Korban pertama berjenis kelamin pria ditemukan di lereng sedalam 200 meter. Sementara, korban kedua ditemukan pada kedalaman 500 meter.
Meski demikian, Basarnas belum dapat memastikan identitas korban yang baru ditemukan tersebut.
“Kami sampaikan bahwa untuk penentuan identitas korban bukan kewenangan kami. Itu akan dideklarasikan oleh DVI Mabes Polri,” jelasnya.
Berdasarkan informasi awal dari lapangan, korban kedua yang ditemukan diduga berjenis kelamin perempuan.
Sementara korban pertama yang ditemukan sebelumnya diduga berjenis kelamin laki-laki.
Namun, kepastian terkait identitas maupun kondisi korban tetap menunggu hasil resmi dari tim DVI Polri.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan korban berada di area dengan kondisi medan yang sangat ekstrem.
“Kondisi lokasi sangat terjal, hampir tegak lurus. Kedalamannya cukup ekstrem dan didominasi bebatuan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, saat ini korban telah berada bersama tim penyelamat di lokasi, namun proses evakuasi masih menghadapi kendala cuaca dan medan.
“Korban sudah bersama rescuer, namun evakuasi masih menunggu kondisi yang memungkinkan,” katanya.
Tim SAR saat ini masih mengandalkan kombinasi operasi udara dan darat dalam proses pencarian dan evakuasi.
Awalnya, evakuasi direncanakan menggunakan helikopter karena jarak tempuh dari lokasi ke bandara relatif dekat, kurang dari 10 menit.
Namun, kondisi cuaca yang tidak mendukung membuat evakuasi udara belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Cuaca menjadi tantangan utama. Base cloud rendah dan di ketinggian kondisinya lebih tebal,” jelasnya.
Selain korban, tim SAR juga menemukan sejumlah bagian pesawat serta benda-benda yang diduga milik korban.
Seluruh temuan tersebut akan dikumpulkan untuk kemudian diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan pihak kepolisian sesuai kewenangannya.
Hingga saat ini, lebih dari 1.200 personel SAR gabungan masih dikerahkan dan pencarian dibagi ke dalam empat sektor.
Basarnas juga tengah berkoordinasi dengan BMKG dan BNPB untuk kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca guna mempercepat proses pencarian dan evakuasi.
“Kami masih berada dalam fase golden time. Mohon doa agar seluruh korban dapat ditemukan,” pungkas Kepala Basarnas.
Sementara itu, suasana haru menyelimuti Pos Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Senin (19/1/2026).
Sejak siang hari, langkah-langkah berat keluarga korban satu per satu memasuki ruangan yang menjadi tumpuan harapan terakhir mereka.
Di tempat itulah, keluarga tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ferry Irawan, Deden Maulana, dan Yoga Naufal menjalani pemeriksaan DNA. Ketiganya tercatat sebagai korban dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) rute Yogyakarta–Makassar.
Dikutip dari Tribun Timur, raut wajah lelah tampak jelas, diiringi mata sembab dan genggaman tangan yang saling menguatkan. Ada kakak, adik, istri, hingga anak yang mewakili keluarga inti para korban.
Tanpa banyak kata, mereka langsung dibimbing tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri untuk menjalani prosedur pengambilan sampel DNA.
Proses dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Tim DVI bekerja dalam beberapa bagian, petugas penerima laporan dan pencatat data, ahli kedokteran forensik, dokter gigi forensik, hingga petugas identifikasi sidik jari dari kepolisian dan Interpol DVI.
Satu per satu, data medis, rekam gigi, serta sampel DNA pembanding dikumpulkan.
Dokumen resmi dan formulir standar Interpol (Yellow Form AM) juga dilengkapi.
Semua dilakukan demi satu tujuan: memastikan identitas korban secara akurat.
Di sela proses itu, tangis pelan dan doa tak henti terdengar. Harapan masih terjaga, meski kenyataan kian berat diterima.
Sehari sebelumnya, Minggu (18/1/2026) malam, sejumlah keluarga korban lain telah lebih dulu mendatangi pos yang sama.
Mereka adalah orang tua Esther Aprilia, keluarga Florensia Lolita, keluarga Dwi Murdiono, serta adik kandung kopilot Heru Gunawan.
Di antara mereka, Bambang Muchwanto, ayah Dwi Murdiono, memilih menetap sementara di Makassar.
Dwi, putra sulungnya, diketahui menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat tersebut.
Bambang menempuh perjalanan panjang dari Kota Malang bersama anak ketiganya, Tarmizi.
Ia berangkat sejak siang hari, sesaat setelah menerima kabar bahwa nama putranya tercantum dalam daftar korban.
“Saya berangkat dari rumah siang tadi, sampai di Makassar malam. Saya nunggu di sini dulu, sampai anak saya ditemukan,” ujar Bambang lirih saat ditemui di Dokkes Polda Sulsel.
Kini, Bambang dan keluarga korban lainnya hanya bisa menunggu perkembangan informasi pencarian pesawat yang dilaporkan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, menegaskan pentingnya proses antemortem dalam tahapan identifikasi korban.
“Pos Ante Mortem ini disiapkan untuk mendukung proses identifikasi secara akurat. Keluarga juga kami berikan pendampingan psikolog agar tetap kuat selama proses berlangsung,” ujarnya.