Dilarang Pensiun setelah Juara Piala Afrika 2025, Pelatih Senegal Tolak Pengunduran Sadio Mane
January 19, 2026 06:27 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Pelatih Timnas Senegal, Pape Thiaw menolak keputusan Sadio Mane yang ingin menjadikan Piala Afrika 2025 yang baru saja mereka menangkan sebagai tarian terakhirnya di ajang tersebut.

Alasannya sederhana, Pape Thiaw menganggap Sadio Mane telah menjadi ikon sepak bola Senegal bahkan Afrika.

Karena alasan itulah, Pape Thiaw ingin keberadaan Sadio Mane terus menyinari turnamen Piala Afrika kedepannya.

"Senegal tidak setuju dengan keputusan itu (keputusan Mane pensiun dari Piala Afrika), saya pun juga tidak setuju" tegas Pape Thiaw dilansir ESPN.

"Kami ingin mempertahankan Mane selama mungkin, dia mewakili Afrika, dia milik rakyat Senegal,"

"Masyarakat kami sepenuhnya ingin terus melihat Mane melanjutkan tugasnya yakni bermain,"

"Melihat keteladannya, kita butuh orang-orang seperti dirinya di negara ini,"

"Dia telah memberi banyak pelajaran, kerendahan hati, bagaimana dia mencurahkan keringatnya untuk Senegal," tukasnya menambahkan.

Baca juga: Nasib Kontras Bintang Real Madrid dan Al Nassr di Final Piala Afrika, Sadio Mane Tunjukkan Teladan

Lebih lanjut, Pape Thiaw telah melihat banyak hal luar biasa telah dikorban Mane untuk negaranya sendiri.

Maka dari itu, ia secara terbuka menolak keputusan pensiun dari Piala Afrika yang ingin diambil Mane.

"Dia telah mengorbankan hidupnya untuk Senegal agar bisa lolos ke Piala Dunia 2022," akui Pape Thiaw.

"Dia juga telah mengorbankan hidupnya untuk memenangkan Piala Afrika kami,"

"Jadi jika saya harus menandatangani surat yang mengizinkan Mane pergi, saya mengatakan tidak, begitupula rekan setimnya juga bakal mengatakan tidak," tegasnya.

Apa yang disampaikan Pape Thiaw tersebut jelas akan menciptakan situasi menarik bagi masa depan Mane bersama timnas negaranya.

Hal ini mengingat Mane sempat terlanjur mengatakan Piala Afrika 2025 akan menjadi tarian terakhir dirinya di ajang tersebut.

"Saya sangat bahagia, tetapi seperti yang telah saya katakan, bagi saya, sejauh menyangkut AFCON (red: Piala Afrika), ini sudah berakhir," kata Mane.

"Saya akan tetap bersama tim hingga Piala Dunia, tetapi setelah itu, semuanya berakhir," jelasnya.

SELEBRASI SENEGAL - Pemain Timnas Senegal, Sadio Mane, merayakan gol ke gawang Mesir pada babak semifinal Piala Afrika 2025 di Stade Ibn Batouta, Maroko pada Kamis (15/1/2026). (Website CAF - 15/1/2026) (Federasi Sepak Bola Afrika (CAF))

Ikoniknya Sosok Sadio Mane Bagi Prestasi Senegal hingga Wajah Afrika

Tak bisa disangkal, nama Sadio Mane telah menjelma sebagai salah satu ikon penting sepak bola Afrika.

Setelah era Didier Drogba hingga Samuel Eto'o berakhir, Mane seakan mengambil alih panggung utama sepak bola Afrika.

Bersama Mohamed Salah yang menjadi rekan segenerasinya, Mane menjelma sebagai ikon penting sepak bola Afrika.

Selama memperkuat Senegal, Mane berkontribusi penting pada kejayaan timnya meraih dua gelar Piala Afrika.

Masing-masing pada tahun 2021 dan 2025.

Pada tahun 2021, Mane menjadi kunci kemenangan Senegal menjuarai Piala Afrika, saat mengalahkan Mesir.

Mane yang kala itu menjadi eksekutor penentu pada babak adu penalti mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Keberhasilan Mane menjadi algojo penalti terakhir pun akhirnya mengunci gelar juara Piala Afrika 2021 untuk Senegal.

Lima tahun berselang, Mane lagi-lagi membuktikan dirinya belum habis.

Gelandang Bolivia Leonel Justiniano (kiri) berebut bola dengan pemain depan Senegal Sadio Mane selama pertandingan sepak bola persahabatan antara Bolivia dan Senegal di Orleans, Prancis tengah, pada 24 September 2022.
Christophe ARCHAMBAULT / AFP
Gelandang Bolivia Leonel Justiniano (kiri) berebut bola dengan pemain depan Senegal Sadio Mane selama pertandingan sepak bola persahabatan antara Bolivia dan Senegal di Orleans, Prancis tengah, pada 24 September 2022. Christophe ARCHAMBAULT / AFP (Christophe ARCHAMBAULT / AFP)

Eks pemain Liverpool itu mengantarkan Senegal merebut kembali gelar juara Piala Afrika yang sebelumnya dimenangkan Kamerun pada edisi sebelumnya.

Tepat dalam laga final Piala Afrika melawan Maroko yang berstatus sebagai tuan rumah, Minggu (18/1/2026) tadi malam.

Mane menunjukkan kepemimpinan dan kualitas elitnya sebagai salah satu sosok pemain terbaik Afrika, dengan memegang peran vital saat Senegal mengalahkan Maroko dalam laga yang penuh drama dan kontroversial.

Saat skuad Senegal menolak bermain pada menit terakhir, lantaran menganggap wasit telah bertindak tidak adil.

Mane mencoba bersikap bijak, dengan mengajak skuadnya kembali ke lapangan dan melanjutkan pertandingan.

Lalu, saat Senegal mampu mencetak gol kemenangan atas Maroko lewat gol tunggal Pape Gueye menit ke-94.

Mane dapat dianggap menjadi sosok yang mengawali gol tersebut, setelah ia merebut bola dari pemain lawan di momen transisi permainan.

Kepahlawanan Mane pun akhirnya menginspirasi kemenangan Senegal di laga puncak Piala Afrika 2025.

Meskipun tidak mencetak gol, peran Mane benar-benar layak dipuji, karena ia menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa baik di dalam maupun luar lapangan dalam laga final tersebut.

Sadio Mane pun diganjar penghargaan sebagai pemain terbaik Piala Afrika 2025, setelah mengantarkan timnya juara.

Gelar penghargaan pemain terbaik Piala Afrika 2025 yang jatuh ke Mane, seakan melengkapi kebahagian Senegal yang menjadi juara turnamen setelah mengalahkan sang tuan rumah di markas lawannya sendiri.

Kini, pada usianya yang memasuki 33 tahun.

Layak dinanti selama apa Mane akan membela Timnas Senegal di turnamen-turnamen penting berikutnya?

(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.