TRIBUNTORAJA.COM - Duka mendalam menyelimuti keluarga pramugari pesawat ATR 42-500, Esther Aprilita S.
Sang ayah, Adi Saputra, masih menyimpan kenangan terakhir bersama putri sulungnya sebelum pesawat yang ditumpanginya jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/26).
Pada Senin (19/1/2026), Adi Saputra mendatangi Posko Greeters Meeters Ruang Tunggu Keluarga Penumpang di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, bersama salah satu anaknya, untuk mencari informasi terbaru terkait proses pencarian kru dan penumpang pesawat tersebut.
Sebelum ke posko, Adi mengaku telah menjalani pengambilan sampel DNA di RS Bhayangkara Makassar pada malam sebelumnya sebagai bagian dari proses identifikasi korban.
Wajah Adi tampak murung saat ditemui.
Harapannya hanya satu, agar Esther segera ditemukan dan bisa kembali ke pelukan keluarga di Jawa Barat.
Komunikasi terakhir antara ayah dan anak itu terjadi pada Jumat malam, beberapa jam sebelum insiden kecelakaan pesawat.
“Terakhir komunikasi itu Jumat malam,” ujar Adi dengan suara lirih.
Saat itu, Ester disebut tengah menjalani status standby di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
“Dia standby di Halim. Biasanya rute dari Halim ke Yogyakarta,” jelasnya.
Adi mengatakan telah berada di Makassar selama dua hari terakhir, menunggu setiap perkembangan informasi dari tim SAR.
Ia mengenang Ester sebagai anak yang baik, penuh perhatian, dan bertanggung jawab terhadap keluarga.
“Dia orangnya baik,” ucapnya singkat.
Ester merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dan telah mengabdikan diri sebagai pramugari selama hampir tujuh tahun.
Sebelum kejadian, ada satu pesan yang terus terngiang di benak Adi.
Dalam komunikasi terakhir, Ester sempat menyampaikan permintaan maaf kepada ayahnya, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya.
“Dia minta maaf kalau ada salah. Biasanya tidak begitu,” ungkap Adi, dengan mata berkaca-kaca.
Hingga kini, keluarga masih menggantungkan harapan agar seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 dapat ditemukan.
“Kami berharap semuanya ditemukan,” katanya.
Sementara itu, proses pencarian pesawat ATR 42-500 masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan di medan ekstrem Gunung Bulusaraung.
Keluarga korban tetap menunggu dengan doa dan harapan akan kabar baik dari upaya pencarian yang masih berlangsung.(*)