Renungan Harian Kristen 20 Januari 2026 - Berteman dengan Tekanan dan Ancaman
January 19, 2026 06:05 PM

Renungan Harian Kristen 20 Januari 2026 - Berteman dengan Tekanan dan Ancaman

Bacaan ayat: Yohanes 7:25 (TB)  Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?"

Oleh Pdt Feri Nugroho

 

Tidak bisa dihindari bahwa kehidupan akan sarat dengan tekanan. Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka kehidupan berubah drastis.

Segala hal mengarah pada pilihan untuk bertahan. Masing-masing akan berfokus pada diri sendiri, sehingga apapun akan dilakukan, bahkan dengan meniadakan yang lain sekalipun.

 Bahkan dalam keadaan yang dikira baik-baik saja, pun terdapat tekanan dalam konteks masing-masing.

Seorang anak dengan orang tua dan teman-temannya, atau seorang suami dengan istri dan anaknya, atau seorang istri dengan suami dan anak-anaknya, atau atasan dengan bawahannya, atau bawahan dengan atasannya, atau petani dengan musim yang tidak menentu dan harga komoditas yang tidak stabil; siapapun bisa jadi berhadapan dengan tekanan dan tekanan. 

Bagaimana bisa bertahan dalam situasi demikian? 

Kali ini kita membaca catatan Alkitab tentang Yesus yang berhadapan dengan tekanan. Sebuah tekanan yang bukan abal-abal! Ancaman pembunuhan!

Lebih kurang masa tiga tahun pelayanan-Nya di bumi dengan pengajaran yang kontroversial; setidaknya menurut beberapa orang; Yesus mendapatkan kenyataan pahit bahwa tidak semua orang setuju dengan ajaran-Nya. 

Dalam banyak kesempatan mengajar, Ia diawasi oleh orang-orang yang siap mencari celah untuk menjatuhkan-Nya. 

Tidak kaleng-kaleng, para korektor ialah ahli Taurat dan para Farisi; orang-orang pintar dalam hal ketaatan kepada hukum yang berlaku. 

Meskipun ancaman tersebut nyata, nampaknya orang banyak yang suka pengajaran-Nya seakan menjadi gerakan massa yang tanpa disadari menjadi tembok pelindung bagi Yesus untuk terus mengajar.

Kerumunan massa yang berduyun-duyun menciptakan efek enggan kepada para penentang. Meskipun demikian, mereka tidak tinggal diam. 

Mereka mengawasi, kalau-kalau ada kesempatan untuk mendakwa Yesus sehingga lebih mudah untuk melancarkan serangan untuk menyingkirkan-Nya. Waspadai, bahwa situasi ini akan terus berulang dalam sejarah. 

Para pembenci membenci bukan karena kejahatan yang kita lakukan namun sering justru karena kebaikan yang kita tebarkan. Bertahanlah! 

Menyadari bahwa kehadiran-Nya menciptakan kontroversi, Yesus tidak gentar.

Ia mengajar dengan cerdas, melalui  argumentasi yang tidak bisa dibantah. Pilihan ini pun tidak otomatis membungkam para penentang. Sebaliknya, justru menciptakan sikap antipati yang berkelanjutan.

Dalam tekanan yang berarti kuat, terlihat Yesus telah menjadikan tekanan tersebut sebagai teman dan sahabat. Ia kaya dengan strategi.

 Ada kalanya Ia mengajar di tempat terbuka, ada kalanya membuka semacam les privat bagi yang sedang galau. Ada kalanya Ia berseru lantang menentang, namun kali lain terlihat diam dalam kebisuan.

Beberapa kali Ia menghindari kerumunan ketika dirasakan ancaman semakin kuat. Kekayaan-Nya dengan metode ajar, membuat-Nya dapat bertahan.

Jika pada akhirnya Ia harus menuju salib, itu bukan kekalahan, namun tujuan yang ditetapkan untuk terealisasi. 

Tidak bisa menghindar bahwa kehidupan akan penuh dengan tekanan. Berteman dengan tekanan akan membuat seseorang bijak dalam melangkah.

Perlu teladan dari Yesus yang terus fokus pada karya Allah. Kekelaman sekalipun tidak membuatnya berpaling. Tetap bertahan meskipun berada dalam tekanan. Amin.

    Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.