TRIBUNNEWS.COM - Lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman yang berkumandang di Hotel Mulia, Jakarta Pusat pada Senin (13/1/2026) lalu menggetarkan hati seorang John Herdman, pelatih baru Timnas Indonesia.
Ia secara resmi diperkenalkan ke publik Tanah Air oleh PSSI sebagai pengganti Patrick Kluivert.
Prosesi yang digelar pada pagi hari itu adalah pengenalan John Herdman, sepatah dua patah kata dalam presentasinya ke depan untuk Timnas Indonesia.
Gaya bicara yang tenang, stabil, penuh dengan senyum, terstruktur, serta kehangatan tampak jelas ketika John Herdman diberikan kesempatan berbicara di depan publik.
Dari intonasinya, pemilihan kata menjadi kalimat, bahasa, serta gestur yang ditunjukkan, John Herdman mengendalikan emosinya secara efektif.
Hal itu juga yang terlihat dalam sesi wawancara pertama John Herdman yang diunggah akun Timnas Indonesia di YouTube pada Senin (19/1/2026) siang.
Sesi tersebut menjelaskan momen pertamanya saat mendengarkan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan secara langsung.
Serta beberapa penjelasan soal karier kepelatihannya sejak berusia 17 tahun.
Pagi itu sebelum acara perkenalan dimulai, semua hadirin yang berada di Hotel Mulia berdiri tegak sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Hati Hermand tersentuh. Ia merasa besarnya tanggung jawab yang ia emban di kemudian hari untuk 280 juta lebih penduduk Indonesia yang begitu mencintai sepak bola.
"Saya mendengarkan lagu kebangsaan dan mendapatkan perasaan: 'Ini adalah tanggung jawab besar. Terdapat 280 juta orang yang, Anda tahu, berhak berada di level tertinggi sepak bola dunia'," kata John Herdman.
"Mereka sangat menginginkannya (Piala Dunia, red) dan Anda bisa merasakannya di setiap video yang saya tonton," sambungnya.
"Bagi saya, emosi-emosi itu: saya merasakan untuk pertama kalinya tanggung jawab itu. Anda tahu ini adalah kesempatan besar bagi negara ini'."
"Dan sebagai pemimpin, saya siap memikul beban itu," tegasnya.
Baca juga: Merebut Hati Penggemar dengan Juara Piala AFF 2026, Tantangan John Herdman dengan Talenta Lokal
Soal pencapaian sebelum era John Herdman, Timnas Indonesia berada dalam sorotan dunia karena mampu melaju ke ronde keempat kualifikasi Piala Dunia 2026.
Untuk diketahui, Indonesia merupakan tim pertama Asia Tenggara yang mampu melaju sejauh itu dalam proses kualifikasi Piala Dunia.
Timnas Indonesia melangkah dari ronde pertama play-off sebelum tampil di ronde pertama, kedua, dan ketiga.
Tapi sayangnya, di ronde keempat skuat Garuda kalah saing dengan Irak dan Arab Saudi.
"Pelatih ingin mengajar dan membantu orang-orang menjadi lebih baik untuk bertumbuh," seuntai kalimat yang disampaikan John Herdman dalam sesi wawancara tersebut yang mengulik ketertarikan pria berusia 50 tahun asal Consett, Inggris itu soal karier kepelatihannya.
John tidak seperti kebanyakan pelatih yang mengalami masa-masa sebagai pemain profesional dan berkompetisi di berbagai kompetisi belahan dunia.
Ia memulai karier dengan rasa semangat dan kecintaannya terhadap dunia olahraga khususnya sepak bola.
John juga tumbuh sebagai guru, pendidik, dosen yang menyampaikan ilmu keolahragaan. Ia bahkan mendapat gelar Doktor Kehormatan di bidang Sains oleh Northumbria University Newcastle.
Mulai dari pengalaman menangani klub kecil di Selandia Baru, diangkan menjadi pelatih kepala negara tersebut, kemudian Kanada untuk tim putri dan putra yang ia bawa ke Piala Dunia, John Herdman telah melalui itu dari level paling bawah untuk menjadikan sesuatu yang berharga dan bersejarah.
"Saya senang melihat orang tumbuh berkembang sebagai guru, sebagai pendidik, dosen. Saya selalu menikmati pengajaran proses belajar, sehingga saya mampu secara alami transisi kepelatihan sepak bola," bebernya.
"Bekerja di level akar rumput, di tingkat akademi profesional, dan kemudian lanjut ke sepak bola wanita, Plimpiade sepak bola, Piala Dunia, klub sepak bola, sekarang di sini di Indonesia," tambahnya.
John Herdman adalah dalang di balik kesuksesan Kanada melangkah ke Piala Dunia, baik yang putra maupun putri.
Tidak hanya Kanada, tetapi juga tim putri Selandia Baru yang tampil di Piala Dunia Wanita pada tahun 2011 silam.
Pada tahun 2022 lalu, The Guardian pernah menulis soal sosok John Herdman. Bagaimana kekuatan pemilihan narasi yang begitu kuat untuk menghadirkan motivasi dan membangkitkan gairah para pemainnya.
Dalam satu waktu dalam ruang konferensi, ada sebuah layar yang menampilkan kutipan Sun Tzu, Jendral Tiongkok yang ahli strategi militer, filsuf, dan juga penulis The Art of War yang menggambarkan Hidup Itu Medan Perang.
John mendeskripsikan tentang kebakaran hutan yang melahap daerah Bermuda, Kepulauan Cayman, Aruba, dan Suriname kepada para pemain timnas Kanada. Gambarannya, kebakaran adalah momen yang mengerikan, dan itulah yang harus dihadapi anak asuhnya ketika tampil untuk pertama kalinya setelah 35 tahun di Piala Dunia putra.
Pidato tersebut kisah perjalanan gemilangnya Kanada di bawah asuhan Herdman mulai dari kualifikasi CONCACAF hingga berada di Qatar. Ada banyak lagi momen perjalanannya.
Herdman berbicara tentang sejarah sebagai sesuatu yang harus dirobek atau ditulis ulang, untuk ditantang, dibuat, dan dibentuk kembali.
Narasinya selalu menjadi diksi bagian dari praktiknya melatim suatu tim sepak bola.
"Pria ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan pelatih, yaitu kemampuannya untuk terhubung dengan para pemain dan mengeluarkan yang terbaik dari mereka," ujar Melisa Tancredi, pemain wanita Kanada yang tampil di Piala Dunia Wanita 2025 di bawah asuhan Herdman.
"Dia ahli strategi. Saya belum pernah memiliki atau mendengar tentang, seorang pelatih yang mampu terhubung dengan pemain seperti yang dia lakukan."
"Dia benar-benar luar biasa dalam hal memotivasi. Dia memiliki kemampuan untuk menenangkan situasi atau membawanya ke tempat yang dia butuhkan, dia seorang penyeimbang. Anda tidak benar-benar mempelajari itu, itu adalah sesuatu yang diberikan secara bawaan," jelasnya menggambarkan sosok Herdman.
Kisah lain dari narasi Herdman adalah Wendi Henderson, pemain gaek Selandia Baru.
Pada tahun 2006 silam, ia sudah berusia 35 tahun, tiga tahun lalu pensiun dari timnas.
Tapi, John Herdman kembali memanggilnya. Ia masuk dalam skuat Selandia Baru untuk dua pertandingan ke China. Dan Herdman memberikan kepercayaan kapten kepadanya.
Tidak hanya itu, Henderson juga masuk dalam skuat Selandia Baru di Piala Dunia Wanita 2007.
"Dia benar-benar memiliki cara untuk terhubung dengan orang-orang dan menarik mereka ke dalam perjalanan ini. Dia telah melakukan itu dengan setiap tim yang dia latih dan Anda dapat melihatnya," ungkap Henderson.
"Anda dapat melihat bulu kuduk mereka merinding," sambungnya ketika menjelaskan Herdman yang bernarasi.
Bek Selandia Baru (di Piala Dunia 2011), Kirtsy Hill mengungkapkan sebuah teori yang dipegang oleh Herdman, "Anda harus menyentuh hati seseorang sebelum Anda dapat menggandeng tangannya."
Justru dalam kondisi tersebut ia mampu memberikan pembuktian dengan kerja keras yang dia tunjukkan.
"John bekerja paling baik saat berada dalam situasi terdesak," beber Tancredi, sebuah sentimen yang juga diutarakan oleh Emily Zurrer (pemain Kanada di Piala Dunia Wanita 2015).
"Dia senang menjadi pihak yang diremehkan, di situlah dia berkembang. Di situlah dia menunjukkan kemampuannya bersama tim kami dan tim putra Kanada: semakin Anda meragukannya, semakin keras dia akan berusaha untuk membuktikan Anda salah," tutupnya.
Perjalanan yang luar biasa dari seorang John Herdman akan beralih ke Timnas Indonesia.
Dengan narasi yang begitu enak didengar menimbulkan rasa optimis dan keyakinan untuk skuat Garuda terbang tinggi.
(Tribunnews.com/Sina)