Pro Kontra Wajah Baru Kota Tua Gorontalo, Antara Kemajuan dan Hilangnya Identitas
January 19, 2026 06:47 PM

apakah judul Pro Kontra Wajah Baru Kota Tua Gorontalo, Kemajuan dan Hilangnya Identitas Sejarah tepat dan menarik

TRIBUNGORONTALO.COM – Kawasan Kota Tua di Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, kini tampil dengan wajah yang jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

Deretan bangunan lama yang dulunya kusam dengan warna netral, satu per satu berganti rupa.

Pantauan TribunGorontalo.com, Sabtu sore (17/1/2026), menunjukkan cat warna cerah mendominasi hampir seluruh sisi jalan.

Kuning terang, hijau muda, biru, hingga oranye mencolok kini menghiasi dinding ruko dan rumah toko yang berjajar rapat.

Tak hanya warna, sejumlah bangunan lama juga diganti dengan gedung bergaya modern. Dinding beton halus dan kaca besar menggantikan tembok tua bertekstur kasar yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas kawasan tersebut.

Arus lalu lintas tetap ramai. Sepeda motor, mobil pribadi, hingga bentor hilir mudik di antara aktivitas pedagang kain, toko kelontong, dan lapak peralatan rumah tangga yang masih bertahan.

Di kejauhan, masjid yang selama ini menjadi penanda kawasan Kota Tua masih berdiri, meski suasananya terasa tidak lagi sama.

Kabel listrik menggantung rendah di antara bangunan baru, sementara spanduk toko modern berdampingan dengan papan nama lama yang mulai pudar dimakan usia.

Sejumlah pedagang tampak menata barang dagangan di depan toko. Pembeli keluar masuk ruko dengan ritme seperti hari-hari biasa.

Bagi sebagian orang, perubahan ini dianggap sebagai tanda kemajuan. Kawasan terlihat lebih bersih, terang, dan tertata. Namun bagi sebagian warga lain, perubahan tersebut justru menyisakan rasa kehilangan.

Rahman Nusi (52), warga yang sejak kecil tinggal di Kota Tua, mengatakan perubahan paling terasa ada pada warna bangunan dan bentuk gedung.

“Kalau sekarang warnanya sudah macam-macam, kelihatan memang lebih baru. Tapi suasana kota tuanya sudah tidak terasa seperti dulu,” ujarnya.

Menurut Rahman, dahulu orang bisa langsung mengenali kawasan ini hanya dari tampilan bangunan dan nuansa jalannya.

“Dulu orang lewat langsung tahu ini kawasan lama. Sekarang, kalau orang baru datang, mungkin dikira kawasan ruko biasa,” katanya.

Hal serupa dirasakan Maman (34), pengemudi bentor yang sudah 10 tahun sering melintas di kawasan tersebut. Ia mengakui perubahan membuat kawasan terlihat lebih rapi dan terang, namun karakter lamanya ikut memudar.

“Lebih bersih dan terang memang, pembeli juga lebih nyaman. Tapi kesan klasik yang dulu itu sudah berkurang,” ucapnya.

Perubahan wajah Kota Tua terjadi secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir. Renovasi bangunan dilakukan oleh pemilik toko masing-masing, disusul pengecatan ulang yang seragam di beberapa ruas jalan.

Sebagian bangunan lama yang rusak berat dibongkar dan diganti dengan bangunan baru dua hingga tiga lantai.

Bagi pedagang, bangunan baru dinilai lebih aman dan nyaman untuk usaha. Masalah atap bocor, tembok rapuh, dan instalasi listrik lama tidak lagi menjadi keluhan utama.

Namun di sisi lain, unsur sejarah yang melekat pada arsitektur lama ikut terkikis.

Andi Abas, pemuda Kota Selatan yang hampir setiap hari melintas di kawasan itu, menilai perubahan ini seperti pisau bermata dua.

“Menurut saya ini bagus untuk usaha, tapi identitas kotanya pelan-pelan hilang,” ujarnya.

Ia menyebut Kota Tua seharusnya bisa ditata tanpa harus menghilangkan bentuk asli bangunannya.

“Kalau semua bangunan dibuat modern, nanti orang tidak tahu lagi mana yang disebut Kota Tua,” katanya.

Menurut Andi, banyak anak muda sekarang bahkan tidak mengetahui bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan pusat perdagangan tertua di Kota Gorontalo.

“Padahal kawasan ini punya cerita panjang, dulu pusat perdagangan pertama di Gorontalo,” ucapnya.

Baca juga: Sosok Agus Priono Adada, Anak Sopir Bentor Jadi Kanit Turjawali Satlantas Polresta Gorontalo Kota

Jejak Perdagangan Lama

Sejak puluhan tahun lalu, kawasan Kota Tua dikenal sebagai pusat perdagangan kain, kebutuhan rumah tangga, serta barang grosir. Aktivitas jual beli berlangsung sejak pagi hingga sore hari.

Ruko-ruko lama berdempetan, dengan lorong sempit dan bangunan bergaya klasik yang menjadi ciri khas kawasan ini.

Bagi warga lama, tempat ini bukan sekadar pusat belanja, tetapi juga ruang pertemuan sosial. Banyak keluarga pedagang menetap dan membesarkan anak di sekitar kawasan tersebut.

Kini, sebagian generasi muda pedagang mulai merenovasi toko milik orang tua mereka. Sejumlah warga berharap pemerintah daerah ikut mengatur arah penataan kawasan Kota Tua agar tidak sepenuhnya kehilangan identitas.

Tanpa upaya pelestarian, warga menilai Kota Tua hanya akan menjadi kawasan perdagangan umum, tanpa cerita dan nilai historis yang membedakannya dari wilayah lain di Kota Gorontalo.

 

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.