5 Ciri Korban Child Grooming, Psikolog RS di Balikpapan Ingatkan Orang Tua Awasi Tanda Ini
January 19, 2026 11:07 PM

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Peluncuran memoar berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi momen penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu child grooming. 

Karya tersebut dinilai tidak hanya sebagai ekspresi pengalaman personal, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi publik dan langkah awal pencegahan bagi generasi muda.

Psikolog dari Siloam Hospital Balikpapan, Patria Rahmawaty, menekankan bahwa pemahaman yang tepat mengenai child grooming menjadi kunci agar masyarakat tidak salah menilai sekaligus tidak lengah menghadapi ancaman ini.

“Hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami dulu apa itu child grooming dari sumber yang terpercaya. Jangan sampai salah paham, apalagi asal menuduh,” ujarnya, Senin (19/1/2025).

Proses Halus dan Sering Tak Disadari

Menurut Patria, child grooming kerap luput dari perhatian karena berlangsung secara perlahan dan tampak wajar. Pelaku biasanya membangun kedekatan emosional secara bertahap hingga anak merasa aman dan percaya.

Baca juga: Trauma Keluarga Korban Tenggelam KM 8 Balikpapan Memburuk, Psikolog Imbau Warga Tak Komentar Negatif

Karena itu, kepekaan orang tua dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting, terutama dalam membaca perubahan perilaku anak.

Ia menyebut, perubahan sikap sering menjadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan. Anak yang sebelumnya ceria bisa menjadi lebih tertutup, mudah cemas, murung, hingga enggan berkomunikasi dengan keluarga.

5 Ciri Child Grooming yang Perlu Diwaspadai

Patria memaparkan sejumlah ciri umum yang kerap muncul pada korban child grooming, antara lain:

  1. Perubahan perilaku drastis, seperti menjadi pendiam, murung, atau mudah cemas.
  2. Menarik diri dari lingkungan, enggan berinteraksi dengan keluarga dan teman sebaya.
  3. Menerima hadiah mahal tanpa alasan jelas, dikenal sebagai love bombing atau manipulasi emosional.
  4. Lebih nyaman bergaul dengan orang yang jauh lebih tua, serta bersikap dewasa sebelum waktunya.
  5. Penurunan prestasi akademik, sering bolos sekolah, kehilangan minat belajar, atau mengalami mimpi buruk.

“Love bombing membuat anak merasa berutang budi dan terikat secara emosional dengan pelaku,” jelasnya.

Peran Keluarga dan Pengawasan Digital

Untuk mencegah child grooming, Patria menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang sehat dan terbuka dalam keluarga. Anak harus merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan.

Baca juga: Psikolog Siloam Hospital Balikpapan Ungkap Bahaya Child Grooming, Kasus Aurelie Moeremans Jadi Alarm

“Anak perlu tahu bahwa apa pun yang ia alami, ia boleh dan berhak bercerita. Orang tua harus menjadi tempat paling aman,” katanya.

Di era digital, pengawasan aktivitas internet juga menjadi krusial. Banyak kasus child grooming bermula dari media sosial, gim daring, atau platform digital lainnya. Karena itu, orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak berinteraksi dan konten apa yang mereka konsumsi.

Pendampingan dan Kesadaran Kolektif

Selain keluarga, edukasi di sekolah dan masyarakat juga dinilai penting. Anak-anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan interaksi yang sehat, keberanian untuk berkata “tidak”, serta pentingnya melapor jika merasa tidak nyaman.

Jika kasus sudah menyentuh ranah fisik atau seksual, Patria menegaskan perlunya melibatkan pihak berwenang dan pendampingan profesional.

“Trauma itu tidak selalu terlihat. Konseling dapat membantu korban memproses pengalaman pahit dan mencegah dampak jangka panjang,” ujarnya.

Baca juga: Miris, Kekerasan Seksual Dominasi Kasus Anak di Paser, Mayoritas Pelaku Keluarga Terdekat

Ia berharap masyarakat memahami bahwa child grooming bukan isu sesaat, melainkan ancaman nyata.

“Kesadaran adalah langkah awal. Dari keluarga, lingkungan terdekat, hingga masyarakat luas,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.