Noe Letto Resmi Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional, Ini Tugas dan Gajinya
January 19, 2026 11:17 PM

 

POSBELITUNG.CO--Anak budayawan ternama Emha Ainun Najib atau Cak Nun, Sabrang Mowo Damar Panuluh yang dikenal publik dengan nama Noe Letto, resmi mengemban peran baru di lingkar kebijakan negara.

Vokalis grup musik Letto itu dilantik sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Republik Indonesia.

Pelantikan Noe Letto dilakukan bersama 11 tenaga ahli lainnya oleh Menteri Pertahanan RI yang juga menjabat Ketua Harian DPN RI, Sjafrie Sjamsoeddin.

Kehadiran Noe dalam struktur DPN pun langsung menyedot perhatian publik, mengingat latar belakangnya yang dikenal sebagai musisi sekaligus intelektual.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa penunjukan Noe Letto bukan tanpa pertimbangan.

Menurutnya, Noe akan berkontribusi dalam penguatan kajian strategis pertahanan melalui pendekatan lintas disiplin.

“Bidang keahlian yang bersangkutan difokuskan pada kontribusi pemikiran strategis lintas disiplin, termasuk perspektif sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis untuk memperkaya kajian Dewan Pertahanan Nasional,” ujar Rico, Minggu (18/1/2026).

Rico menambahkan, seluruh tenaga ahli yang dilantik, termasuk Noe Letto, akan memberikan masukan dan rekomendasi melalui forum serta mekanisme kerja resmi DPN.

Setiap pandangan yang disampaikan menjadi bahan pertimbangan kolektif pimpinan DPN dalam merumuskan kebijakan strategis pertahanan negara.

Ia juga menegaskan bahwa proses pengangkatan tenaga ahli dilakukan melalui mekanisme yang sama dan tidak dilatarbelakangi hubungan keluarga maupun faktor non-institusional lainnya.

“Pengisian posisi ini murni untuk memperkuat kualitas kebijakan pertahanan nasional. Tidak ada kaitannya dengan latar belakang keluarga,” tegas Rico.

Jejak Pendidikan dan Intelektual Noe Letto

Noe Letto merupakan putra pertama Emha Ainun Najib dari pernikahannya dengan Neneng Suryaningsih.

Setelah kedua orangtuanya berpisah, Noe menghabiskan masa kecil dan pendidikan dasarnya di Lampung.

Ia bersekolah di SD 1 Yosomulyo dan SMP Xaverius Metro sebelum kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di SMU 7 Yogyakarta.

Minat Noe terhadap musik mulai berkembang sejak remaja.

Di masa SMA, ia aktif bermusik sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas yang digagas oleh sang ayah.

Namun, jalur akademik tetap menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

Pada 1997, Noe melanjutkan pendidikan ke Universitas Alberta, Kanada.

Ia mengambil dua bidang studi sekaligus, yakni Matematika dan Fisika. Berdasarkan data resmi University of Alberta Spring Convocation 2003, Noe lulus dengan gelar Bachelor of Science with Honors (B.Sc.), sebuah program dengan kurikulum intensif yang dirancang untuk mencetak peneliti dan ilmuwan.

Dari Panggung Musik ke Ruang Strategi Negara

Nama Noe Letto semakin dikenal luas setelah mendirikan band Letto bersama rekan-rekan SMA-nya.

Band ini resmi debut pada 2004 dan merilis album Truth, Cry, and Lie pada 2005. Sejumlah lagu Letto seperti Sandaran Hati, Sebenarnya Cinta, Sampai Nanti, Sampai Mati, dan Ruang Rindu menjadi hits dan melekat di ingatan publik.

Meski dikenal sebagai musisi, Noe kerap menunjukkan ketertarikan pada isu-isu sosial, kebudayaan, dan kebangsaan.

Perspektif inilah yang kini dinilai relevan untuk memperkaya sudut pandang strategis DPN, terutama dalam membaca tantangan pertahanan non-militer yang semakin kompleks.

Gaji dan Fasilitas Tenaga Ahli DPN

Sebagai tenaga ahli DPN RI, Noe Letto berhak menerima gaji dan fasilitas setara pejabat eselon II A.

Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024 tentang Dewan Pertahanan Nasional.

Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa tenaga ahli madya DPN memperoleh hak keuangan paling tinggi setingkat dengan jabatan pimpinan tinggi pratama.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2024, gaji pokok setara eselon II A berada pada kisaran Rp 2,18 juta hingga Rp 3,64 juta per bulan.

Namun, gaji pokok bukan satu-satunya komponen penghasilan.

Berdasarkan Standar Biaya Masukan Kementerian Keuangan, total penghasilan atau take home pay pejabat setingkat JPT Pratama di lembaga non-struktural dapat mencapai sekitar Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per bulan, tergantung pada tunjangan kinerja dan fasilitas operasional yang diberikan.

Fasilitas tersebut dimaksudkan untuk mendukung pelaksanaan tugas strategis tenaga ahli dalam memberikan pertimbangan dan rekomendasi kebijakan pertahanan kepada Presiden Republik Indonesia.

Dengan latar belakang akademik yang kuat, pengalaman di dunia seni, serta keterlibatan aktif dalam diskursus kebangsaan, peran baru Noe Letto di Dewan Pertahanan Nasional menjadi babak baru dalam perjalanan kariernya dari panggung musik menuju ruang strategis pengambilan kebijakan negara.

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.