Ini 15 Amalan Sunah di Bulan Syaban yang Disebut Sebagai Bulan Nabi, Bisa Dikerjakan Mulai Besok
January 20, 2026 12:19 AM

POS-KUPANG.COM - Umat Islam akan memasuki Bulan Syaban 1447 Hijriah besok, Selasa 20 Januari 2026.

Ada sejumlah amalan sunah yang bisa dikerjakan pada bulan Syaban yang disebut sebagai Bulan Nabi.

Bulan Syaban sendiri dikenal sebagai bulan istimewa karena berada di antara Rajab dan Ramadan.

Bulan ini disebut sebagai bulan Nabi Muhammad SAW karena banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan beliau terjadi di dalamnya.

Di bulan ini pula amal manusia diangkat ke hadapan Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis shahih.

Syaban juga menjadi waktu bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh.

Banyak ulama dan sahabat Nabi yang memanfaatkan bulan ini dengan memperbanyak puasa, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak istighfar dan doa.

Baca juga: Besok, 1 Syaban 1447 Hijriah, Kapan Jadwal Puasa Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggal dan Niatnya

Berikut 15 Amalan Sunah Bulan Syaban yang bisa dikerjakan Umat Islam mulai besok, Selasa 20 Januari 2026:

1. Memperbanyak Puasa Sunnah
 Salah satu amalan utama di bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sunnah. Nabi Muhammad SAW dikenal sering berpuasa di bulan ini sebagai bentuk persiapan menuju Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

قَالَ النَّبِيُّ SAW: شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ اللَّهِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرِي، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ أُمَّتِي

Latin: Qaala an-Nabiyyu SAW: Syahru Rajaba syahru-llāh, wa syahru Sya’bāna syahrī, wa syahru Ramadhāna syahru ummatī.

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: Bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Ramadan adalah bulan umatku.”

Hadis ini menjelaskan keutamaan Sya’ban sebagai bulan yang penuh berkah dan tempat Nabi memperbanyak ibadah. Dalam riwayat Aisyah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memperbanyak puasa sunnah di luar Ramadan sebanyak di bulan Sya’ban. Puasa ini menjadi latihan rohani untuk membersihkan hati dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan ketenangan jiwa.

2. Membaca Al-Qur’an Lebih Sering
Amalan kedua yang dianjurkan adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Para ulama salaf menyebut bulan ini sebagai Syahrul Qurra’, yaitu bulan para pembaca Al-Qur’an.

وَقَالَ سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ: كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

وَكَانَ عَمْرُو بْنُ قَيْسٍ الْمُلَائِيُّ إِذَا دَخَلَ شَعْبَانُ، أَغْلَقَ حَانُوتَهُ وَتَفَرَّغَ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

Latin: Wa qaala Salamah bin Kuhail: Kāna yuqālu Sya’bānu syahru al-qurrā’, wa kāna ‘Amru bin Qais al-Mula’iy idzā dakhala Sya’bān, aghlaqa hānūtahu wa tafarragha li qirā’atil Qur’ān.

Artinya: “Salamah bin Kuhail berkata: Bulan Sya’ban disebut dengan bulan para pembaca Al-Qur’an. Amr bin Qais al-Mula’iy ketika memasuki Sya’ban menutup tokonya dan menyibukkan diri untuk membaca Al-Qur’an.”

Amalan ini menegaskan pentingnya mengisi waktu di bulan Sya’ban dengan memperbanyak tilawah, baik di rumah, masjid, maupun majelis. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar ibadah lisan, melainkan bentuk refleksi spiritual untuk menenangkan hati menjelang Ramadan.

Baca juga: 5 Versi Doa Setelah Sholat Nisfu Syaban Malam Ini dan Tata Cara Salat Nisfu Syaban

3. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Bulan Sya’ban juga dikenal sebagai bulan turunnya perintah bershalawat kepada Nabi SAW. Ayat yang menganjurkan shalawat turun pada bulan ini, yakni dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Latin: Inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabiyyi yā ayyuhalladzīna āmanū ṣallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā.

Artinya: “Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan dengan sungguh-sungguh.”

Ibnu Abi Shai Al-Yamani menjelaskan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan shalawat, karena di dalamnya turun perintah Allah untuk memuliakan Nabi Muhammad SAW. Membaca shalawat tidak hanya menambah pahala, tetapi juga memperkuat ikatan cinta kepada Rasulullah. Dalam hadis disebutkan:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali lipat.” (HR. Muslim)

4. Berdoa dan Memohon Ampunan
Bulan Sya’ban adalah waktu diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah SWT. Karena itu, sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar di bulan ini. Rasulullah SAW bersabda:

ذَاكَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Latin: Dzāka syahrun turfa‘u fīhi al-a‘mālu ilā rabbil ‘ālamīn, wa uhibbu an yurfa‘a ‘amalī wa anā shā’im.

Artinya: “Itulah bulan di mana amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i)

Memperbanyak doa dan istighfar berarti membuka pintu ampunan Allah sebelum memasuki Ramadan. Waktu-waktu terbaik untuk berdoa di bulan ini adalah setelah salat, di waktu sahur, dan menjelang magrib.

5. Membayar Utang Puasa
Ustadz Syamsul Hidayat menekankan pentingnya melunasi hutang puasa di bulan Sya’ban. Beliau menyampaikan, “Pada Bulan Sya’ban ini bagi umat Islam yang belum membayar hutang puasa untuk disegerakan membayar utang puasa.” Amalan ini menjadi bagian dari persiapan spiritual menuju Ramadan agar ibadah puasa wajib nanti tidak bercampur dengan tanggungan sebelumnya.

Membayar utang puasa bukan hanya bentuk tanggung jawab, tetapi juga latihan keikhlasan. Dengan melunasinya di bulan Sya’ban, seseorang menunjukkan kesungguhannya dalam menaati perintah Allah SWT dan menghormati waktu ibadah yang akan datang.

6. Menyambung Silaturahmi dan Memaafkan Sesama
Sya’ban juga menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Dalam hadis riwayat Ibnu Hibban disebutkan bahwa Allah memberikan ampunan kepada seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, kecuali bagi yang bermusuhan dan menyimpan dendam.

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Latin: Yatthali‘u Allāhu ilā jamī‘i khalqihi lailata an-nishfi min Sya’bān, fayaghfiru lijamī‘i khalqihi illā limusyrikin aw musyāhin.

Artinya: “Allah memperhatikan seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban dan mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk saling memaafkan dan menjalin kembali hubungan yang renggang. Amalan ini memperkuat ukhuwah dan menjadi syarat diterimanya amalan di bulan penuh ampunan ini.

Baca juga: Inilah Amalan Malam Nisfu Syaban yang Sayang Kalau Dilewatkan, Sholat Nisfu Syaban hingga Sedekah

7. Bersedekah dan Berbuat Baik kepada Sesama
Bulan Sya’ban juga menjadi saat yang tepat untuk memperbanyak sedekah dan amal sosial. Bersedekah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk — memberikan makanan, membantu yang membutuhkan, atau mendukung kegiatan sosial keagamaan. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa sedekah adalah perisai dari murka Allah dan mendatangkan rezeki yang tak terduga.

Sedekah di bulan ini memiliki makna ganda: mempererat hubungan antarumat serta menjadi latihan empati sebelum Ramadan. Dalam tradisi banyak ulama, bersedekah di bulan Sya’ban dianggap sebagai cara “membersihkan” harta sebelum memasuki bulan suci, agar keberkahan Ramadan lebih sempurna.

8. Membaca Surat Yasin Tiga Kali pada Malam Nisfu Sya’ban
Tradisi membaca Surat Yasin tiga kali di malam Nisfu Sya’ban telah lama diamalkan oleh umat Islam di berbagai daerah, termasuk di Indonesia. Ustadz Faruq Hamdi menjelaskan bahwa amalan ini lazim dilakukan dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Nusantara. Ia menyebut, membaca Yasin disertai doa khusus merupakan salah satu bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di malam penuh keberkahan ini.

Doa setelah membaca Yasin biasanya dilakukan dengan tiga niat: untuk panjang umur dalam ketaatan, dilapangkan rezeki yang halal, dan tetap dalam iman hingga akhir hayat. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

خَمْسُ لَيَالٍ لَا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، وَلَيْلَتَا الْعِيدَيْنِ

Latin: Khamsu layālin lā turaddu fīhinna ad-da‘wah: awwalu lailatin min Rajab, wa lailatu an-nishfi min Sya’bān, wa lailatu al-jumu‘ah, wa lailatai al-‘īdain.

Artinya: “Ada lima malam di mana doa tidak tertolak, yaitu malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Jumat, dan dua malam hari raya.”

Maka membaca Yasin pada malam ini menjadi bentuk munajat agar doa-doa diijabah dan dosa-dosa diampuni.

9. Menunaikan Shalat Malam (Qiyamul Lail)
Malam Nisfu Sya’ban juga dikenal sebagai waktu istimewa untuk melaksanakan shalat malam. Ustadz Hengki Ferdiansyah menjelaskan, “Malam Nisfu Sya’ban bisa diisi dengan shalat Isya berjamaah dan bertekad melaksanakan shalat Subuh berjamaah.” Ia menambahkan, amalan ini disebut dalam kitab Qalyubi wa Umairah sebagai bentuk menghidupkan malam yang penuh doa.

Shalat malam dapat berupa shalat Tahajud, Hajat, atau Tasbih. Rasulullah SAW bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ

Latin: Aqrabu mā yakūnu al-‘abdu min rabbihi wa huwa sājidun.

Artinya: “Seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya ketika ia sedang sujud.” (HR. Muslim)

Melalui shalat malam, seorang Muslim berkesempatan memohon ampunan dan rahmat secara pribadi, jauh dari keramaian dunia.

10. Memperbanyak Istighfar
Istighfar adalah amalan yang sangat dianjurkan sepanjang waktu, terlebih di bulan Sya’ban. Rasulullah SAW senantiasa beristighfar lebih dari seratus kali dalam sehari. Bacaan istighfar yang paling utama adalah Sayyidul Istighfar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allahumma anta rabbī, lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mā istaṭa‘tu, a‘ūdzu bika min syarri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abū’u bidzanbī, faghfir lī fa innahu lā yaghfirudz-dzunūba illā anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Istighfar bukan hanya permintaan ampun, tetapi juga simbol kerendahan hati di hadapan Allah. Membiasakannya di bulan Sya’ban akan membersihkan hati sebelum Ramadan datang.

11. Berzikir dan Mengingat Allah
Selain membaca Al-Qur’an, zikir merupakan amalan yang mudah dilakukan kapan saja. Di bulan Sya’ban, zikir dapat menjadi pengingat agar hati senantiasa terhubung dengan Sang Pencipta. Rasulullah SAW bersabda:

سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْمُفَرِّدُونَ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Latin: Sabaqal mufarridūn. Qālū: yā Rasūlallāh, wa mā al-mufarridūn? Qāla: adz-dzākirūnallāha katsīran wa adz-dzākirāt.

Artinya: “Orang-orang yang berdzikir kepada Allah banyak sekali, mereka itulah orang-orang yang mendahului (menuju kebaikan).” (HR. Muslim)

Dengan memperbanyak zikir, seorang Muslim menghidupkan ruh spiritualnya. Zikir yang bisa diamalkan antara lain Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan La ilaha illallah.

12. Membaca Doa Bulan Sya’ban
Salah satu doa populer yang diamalkan umat Islam pada bulan ini adalah doa memohon keberkahan Sya’ban dan agar dipertemukan dengan Ramadan. Doa ini diriwayatkan dari Anas bin Malik RA:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Latin: Allahumma barik lana fi Sya’ban, wa ballighna Ramadhan.

Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Doa ini menjadi simbol harapan agar seseorang diberi kesempatan memperbaiki diri dan menyambut bulan suci dengan hati yang bersih.

13. Meningkatkan Sedekah Ilmu dan Dakwah
Bagi para dai, guru, dan orang tua, bulan Sya’ban juga merupakan momen tepat untuk memperbanyak dakwah dan berbagi ilmu. Mengajarkan kebaikan termasuk dalam sedekah yang berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Latin: Man dalla ‘alā khairin falahu mitslu ajri fā‘ilih.

Artinya: “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Menyebarkan ilmu melalui kajian, tulisan, atau media sosial menjadi bentuk amal yang terus mengalir, terlebih di bulan yang penuh keberkahan ini.

14. Mengkaji Amalan Bulan Ramadan
Sebagaimana disampaikan Ustadz Syamsul Hidayat, salah satu amalan penting di bulan Sya’ban adalah mengkaji amalan-amalan bulan Ramadan. “Seringkali para sahabat berkumpul bersama nabi dan bertanya tentang amalan bulan Ramadhan,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa Sya’ban menjadi waktu persiapan spiritual. Dengan memahami hukum dan keutamaan Ramadan lebih awal, umat Islam bisa menjalankan ibadah puasa dan amal lain dengan lebih khusyuk serta penuh kesadaran.

15. Menjaga Hati dari Kelalaian
Rasulullah SAW bersabda bahwa Sya’ban adalah bulan di mana banyak manusia lalai karena letaknya antara Rajab dan Ramadan.

ذَاكَ شَهْرٌ تَغْفُلُ النَّاسُ فِيهِ عَنْهُ، بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ

Latin: Dzāka syahrun taghfulu an-nāsu fīhi ‘anhu, baina Rajab wa Ramadhān.

Artinya: “Itulah bulan di mana manusia banyak lalai, karena letaknya antara Rajab dan Ramadan.” (HR. Nasa’i)

Menjaga hati agar tidak lalai merupakan bentuk jihad spiritual. Dengan menyibukkan diri dalam kebaikan, seseorang menjaga kemurnian niat dan menjadikan Sya’ban sebagai jembatan menuju Ramadan yang penuh berkah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.