BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Setelah terendam lebih dari seminggu, permukiman warga di Jalan Tambak Buluh, Kompleks Terraze Pelangi, Kelurahan Landasanulin, Kota Banjarbaru sudah terbebas dari banjir.
Pantauan Bpost pada Senin (19/1) siang, jalan akses menuju kompleks yang tadinya tergenang hingga paha, kini sudah kering. Meskipun di beberapa titik jalan yang belum beraspal tersebut masih tersisa genangan di lubang-lubang jalan.
Warga yang tadinya mengungsi rata-rata juga sudah pulang ke rumah masing-masing dan beraktivitas seperti biasa.
Seperti Dian Saraswati bersama suami dan dua anaknya yang sempat mengungsi di Kantor Kelurahan Landasanulin Timur hampir satu minggu, kini sudah kembali pulang ke rumah.
Pada awal banjir datang, genangan air yang masuk ke dalam rumahnya cukup tinggi, sehingga ia harus mengamankan barang-barang dan mengungsi.
“Mengungsi sempat sampai lima hari. Kemarin sampai mendekati lutut airnya di rumah,” katanya ditemui di kawasan Kompleks Terraze Pelangi, Senin (19/1/2026).
Baca juga: 1.738,706 Ton Ikan Terapu Banjir, 151 Pembudidaya di Banjar Merugi Rp 4 Miliar
Dian juga mengaku masih trauma dengan banjir yang tiba-tiba datang secara tiba-tiba pada Senin (5/1/2026) lalu.
“Ada trauma. Traumanya tiba-tiba air masuk kan kencang kemarin. Langsung dari belakang itu langsung penuh. Jadi petugas kan langsung masuk evakuasi kami,” ujarnya.
Banjir yang dialami warga Tambak Buluh tepatnya di Kompleks Terraze Pelangi, Kelurahan Landasanulin Timur, Kota Banjarbaru, ternyata tidak hanya sekali terjadi.
Warga setempat menyebut banjir di sana hampir terjadi setiap tahun ketika puncak musim hujan karena berada di wilayah yang rendah.
Seperti yang disampaikan Rahila, warga Kompleks Terraze Pelangi yang sudah sering merasakan banjir sejak ia mulai tinggal di sana sekitar tahun 2017.
“Sudah tiga kali. Yang pertama tahun 2021, itu yang paling parah sampai segini leher airnya di luar. Setelah itu tahun 2025 tadi, pertengahan Januari. Kalau yang tahun 2026 ini di awal Januari,” katanya, Senin (19/1/2026).
Rahila berharap banjir yang terjadi tahun ini adalah yang terakhir. Ia juga meminta pemerintah setempat atau pihak terakait untuk meninggikan jalan kompleks mereka.
Baca juga: Pembunuh Perempuan di Sungailumbah Batola Serahkan Diri, Cekcok karena Permintaan Maaf Ditolak
“Harapan saya ke depannya semoga secepatnya ditanggapi. Terutama kami minta jalan kami ini kalau bisa ditinggikan dulu, dilakukan pengerasan. Terlebih lagi kalau bisa diaspal atau di paving blok,” ujarnya
Sebab, sejak ia tinggal 8 tahun lalu, kondisi jalan kompleks mereka masih sama berupa urukan tanah yang ketika hujan becek dan banyak kubangan.
“Saya tinggal di sini dari tahun 2017. Sampai sekarang kondisinya masih begini saja. Drainasenya juga tidak ada. Itu dia masalahnya,” sebutnya.
Harapan yang sama juga diungkapkan warga lainnya, Dian. Ia menginginkan peningkatan jalan dan pembuatan drainase.
“Yang penting jalannya dulu, fasilitas umum kita jalan. Paling enggak seandainya ada air tinggi kan kita tetap bisa jalan keluar, apalagi untuk kerja, sekolah. Terus kayak selokan-selokan mungkin bisa dibikinkan. Jadi kayak buangan airnya itu loh maksudnya ada gitu, enggak nyeberang jalan,” ucapnya. (Banjarmasinpost.co.id/rizki fadillah)