Hujan Gerimis Iringi Evakuasi Jasad Korban Pesawat Jatuh di Jalur Keluar Gunung
January 21, 2026 01:19 AM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Maros - Hujan gerimis menyelimuti suasana saat jenazah salah satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 tiba di jalur keluar Gunung Bulusaraung.

Momen itu terjadi tepatnya di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Selasa (20/1/2026) malam.

Jenazah perempuan yang ditemukan pada hari ketiga pencarian itu dievakuasi dari lokasi jatuhnya di lereng Gunung Bulusaraung, lalu ke Puncak Gunung Bulusarung, hingga ke posko utama SAR Gabungan di Desa Tompo Bulu.

Pantauan Tribun Timur, jenazah dibawa turun oleh tim evakuasi menggunakan tandu, melewati medan yang licin dan gelap akibat hujan yang terus turun. 

Lampu penerangan dan sorot kepala yang dikenakan para personel SAR menerangi area jalur masuk dan keluar pendakian.

Saat keluar, jenazah langsung dimasukan kedalam ambulans lalu dibawa ke posko utama.

Jarak posko utama dari jalur masuk pendakian berkisar 100 meter jauhnya.

Setibanya di posko utama, jenazah langsung diserahkan kepada tim DVI dan petugas medis untuk dilakukan penanganan lanjutan sesuai prosedur. 

Proses evakuasi korban dari lokasi jatuhnya pesawat di kawasan pegunungan Bulusaraung masih menghadapi berbagai kendala, terutama cuaca yang tidak menentu serta medan ekstrem dengan kemiringan tajam. 

Meski demikian, Tim SAR Gabungan memastikan upaya pencarian dan evakuasi akan terus dilakukan.

Hingga kini, operasi SAR terhadap pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung masih berlanjut, dengan fokus utama pada pencarian korban dan black box.

Korban Pertama di Kampung Baru Maros

Di sisi lain, jenazah korban pertama pesawat ATR 42-500 dievakuasi Tim SAR Gabunan dari lereng puncak gunung Bulusaraung menuju Kampung Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Selasa (20/1/2026) siang.

Setelah beberapa jam berjalan kaki, tepatnya menjelang Magrib, Tim SAR Gabungan yang membawa jenazah korban, tiba di kaki gunung.

Tim SAR Gabungan istirahat sejenak.

Setelahnya, Tim SAR Gabunan melanjukan perjalanan ke area yang bisa diakses kendaraan double cabin di Kampung Baru.

Ia ditemukan sehari setelah terjadinya kecelakaan atau Minggu (18/1/2026).).

Perkiraan waktu tempuh sekitar 4 hingga 5 jam berjalan kaki dari Desa Lampeso.

Danrem 141/Toddopuli, Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, mengatakan saat ini posisi jenazah pertama sudah berada di wilayah Desa Lampeso, Kabupaten Maros, dan tengah dalam proses evakuasi menuju akses jalan utama.

“Update posisi jenazah yang bisa kami sampaikan, pertama jenazah pertama yang beridentitas laki-laki sekarang posisinya di Desa Lampeso Itu berada di Kabupaten Maros,” katanya saat ditemui Posko utama SAR Gabungan Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, proses evakuasi masih membutuhkan waktu cukup lama mengingat kondisi geografis yang sulit serta jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

“Ini sedang dalam proses evakuasi karena sampai dengan desa terdekat kemudian masih sampai dengan jalan utama masih kurang lebih 4 sampai 5 jam dengan berjalan kaki,” jelasnya.

Menurutnya, jenazah pertama dipastikan akan dievakuasi menuju Maros dan tidak memungkinkan untuk dibawa kembali ke wilayah sebelumnya.

“Jenazah pertama jelas ke Maros, karena itu sudah posisi di sana, tidak mungkin lagi kembali ke sini,” ungkapnya.

Rute evakuasi direncanakan akan tembus ke wilayah Camba dan selanjutnya menuju Kampung Baru, di mana ambulans telah disiagakan.

“Ini nanti tembusnya ke Camba. Kita usahakan di Kampung Baru,” ujarnya.

“Dari Lampeso ke kampung baru itu harus berjalan kaki kurang lebih 4 sampai 5 jam. Ambulance sudah standby di sana (Kampung Baru),” tambah dia..

Namun demikian, proses evakuasi masih dihadapkan pada kendala cuaca yang belum bersahabat sejak pagi hingga sore hari.

“Karena kesulitan yang ada masih tetap terus, kita ketahui bersama sampai sore, dari pagi cuaca ini terjadi hujan yang cukup deras,” jelasnya.

Tim SAR gabungan hingga kini tetap berjibaku di lapangan untuk mengevakuasi korban lainnya dengan mengutamakan keselamatan personel di tengah medan ekstrem dan hujan lebat yang melanda kawasan pegunungan.

Serpihan pesawat ATR 42-500 pertama kali ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur, Sabtu siang.

Gunung Bulusaraung berjarak sekitar 29-30 (Km) dari Kecamatan Pangkajene pusat kota Kabupaten Pangkep.

Waktu tempuh dari Kecamatan Pangkajene sekitar 57 menit hingga 1 jam berkendara menggunakan kendaraan bermotor, tergantung pada kondisi lalu lintas.

Perjalanan umumnya melewati jalan poros Maros - Pangkep menuju arah Kecamatan Balocci, tempat di mana jalur pendakian resmi berada.

Lokasi pendakian utama dimulai dari Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, yang merupakan desa terakhir sebelum menuju puncak gunung berketinggian 1.353 mdpl tersebut

Pesawat itu ditumpangi 10 orang, tujuh adalah kru dan tiga diantaranya penumpang.

Hingga hari ke empat pencarian, baru dua korban yang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Kedua korban belum diidentifikasi identitasnya oleh pihak Tim SAR Gabungan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.