Alasan Guru SMK 3 Tanjabtim Nekat Polisikan Rekan dan Pimpinannya Sendiri, Tak Terima Diintimidasi
January 21, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah dunia pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pendidik, nasib pahit justru menimpa Agus Saputra, seorang guru honorer di Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Ia bukan hanya menjadi korban pengeroyokan oleh siswanya sendiri, tetapi juga merasa ditinggalkan oleh sistem yang seharusnya melindunginya.

Merasa keadilan tak kunjung didapat, Agus memilih jalan terjal: melawan melalui jalur hukum.

Langkah ini diambil setelah upaya penyelesaian secara kekeluargaan di tingkat sekolah menemui jalan buntu. Alih-alih menemukan solusi, Agus justru mengaku mengalami tekanan dan intimidasi.

Baca juga: Trauma Usai Dikeroyok, Agus Guru SMK 3 Tanjabtim Tak Lagi Mengajar, Gubernur Desak Tes Kejiwaan!

Musyawarah Buntu, Laporan Hukum Jadi Pilihan Terakhir

Ketika harapan akan perlindungan dari pihak sekolah sirna, Agus membawa kasus pengeroyokan yang dialaminya ke Polda Jambi.

Keputusan ini bukan sekadar melaporkan siswa-siswa yang terlibat dalam aksi kekerasan, tetapi juga menyasar jajaran pimpinan sekolah.

Menurut Agus, pihak sekolah telah melakukan pembiaran secara sistematis, membiarkan kekerasan terhadap tenaga pengajar terjadi tanpa penanganan serius.

Menuntut Tanggung Jawab Pihak Sekolah

Dalam keterangannya yang dikutip Tribunjambi.com dari tayangan YouTube iNews, Agus Saputra menegaskan bahwa sikap pasif manajemen sekolah menjadi alasan utama dirinya menempuh jalur hukum.

Ia merasa tidak ada perlindungan yang diberikan kepada dirinya sebagai guru, meskipun konflik berlangsung cukup lama dan berdampak serius secara mental.

"Semua anak-anak yang terlibat, kepala sekolah, wakil kurikulum, guru-guru yang tertentu, saya laporkan semua, karena saya menuntut keadilan di sini.

Mereka sudah saya ajak musyawarah, namun mereka membiarkan hal ini berlanjut-lanjut," tegas Agus.

GURU DIKEROYOK SISWA- Video seorang guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi terlibat cekcok dengan sejumlah siswa. Guru tersebut mengaku menampar siswa karena dilecehkan.
GURU DIKEROYOK SISWA- Video seorang guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi terlibat cekcok dengan sejumlah siswa. Guru tersebut mengaku menampar siswa karena dilecehkan. (Tribunnews.com/Istimewa via Tribun Jambi)

Dugaan Budaya Bungkam di Lingkungan Sekolah

Agus menduga ada budaya “diam” yang sengaja dipelihara di lingkungan sekolah tersebut.

Menurutnya, rekan-rekan guru dan pimpinan sekolah memilih menjaga sikap demi keamanan dan kenyamanan semu, mengingat kondisi geografis wilayah setempat.

Ia menilai dirinya menjadi sasaran karena dianggap terlalu vokal dan kritis dalam mendidik serta membentuk karakter siswa.

"Mereka menjaga mulut dan telinga mereka agar tidak terlalu seperti saya.

Saya satu-satunya orang yang di sana terlalu vokal, mungkin dianggap terlalu kritis membentuk karakter mereka menjadi lebih baik sehingga mereka merasa ini tidak perlu," ungkapnya.

Baca juga: Guru SMK 3 Tanjabtim Bongkar Borok Sekolah: Pengeroyokan Bukan Hal Baru, Guru Lain Juga Jadi Korban

Fakta Tersembunyi: Guru Lain Juga Terintimidasi

Namun, Agus menegaskan bahwa kenyataannya banyak guru lain yang juga mengalami intimidasi serupa, hanya saja mereka memilih diam demi keselamatan.

"Mereka mengatakan hanya saya yang mendapatkan perlakuan buruk dari anak-anak Berbak, tapi sebenarnya semua guru," tegasnya.

Harapan pada Penegakan Hukum yang Transparan

Dengan laporan yang kini ditangani Polda Jambi, Agus berharap proses hukum berjalan secara adil dan terbuka.

Ia ingin kasus ini mengungkap apa yang ia sebut sebagai “anomali” dalam dunia pendidikan di mana guru yang berani bersuara justru menjadi korban dari sistem itu sendiri.

Baca juga: Tak Cuma Siswa, Guru SMK 3 Tanjabtim Korban Pengeroyokan Juga Polisikan Kepsek dan Rekan Guru

Saling Lapor: Konflik Berlanjut ke Ranah Hukum

Kasus ini semakin memanas setelah siswa yang terlibat dalam video pengeroyokan juga melaporkan Agus ke Polda Jambi. Siswa berinisial LF datang bersama keluarga dan kuasa hukum pada Senin (19/1/2026) malam.

Berdasarkan pantauan Tribun, mereka tiba di Polda Jambi sekitar pukul 20.50 WIB dan langsung menuju Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).

"Iya, kita akan laporan dulu," kata kuasa hukum siswa, Dian Burlian.

Luka Fisik dan Mental Jadi Bukti

Sebelumnya, Agus Saputra telah lebih dulu melaporkan kejadian tersebut ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026). Ia datang didampingi kakaknya dan menjalani proses pembuatan laporan selama hampir empat jam.

Kakak kandung Agus, Nasir, mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya mengalami tekanan mental berat, terutama setelah kasus tersebut viral di media sosial.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," ujar Nasir.

Nasir juga memastikan bahwa Agus telah menjalani visum, dan ditemukan sejumlah luka lebam yang akan dijadikan bukti dalam proses penyelidikan.

"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," katanya.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.