Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Danendra Kusuma
TRIBUNJATIM.COM, NGANJUK - Petani di persawahan Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk gigit jari.
Tanaman cabai di kawasan tersebut diserang penyakit patek.
Patek merupakan penyakit yang disebabkan jamur Colletotricum capsici atau Gleosporium piperatum.
Akibat serangan ini, para petani petani merugi, kualitas buah cabai menurun hingga busuk.
Baca juga: MBG Berhenti hingga Hajatan Menurun, Harga Cabai di Kediri Anjlok Usai Nataru 2026
Seorang petani, Dwinoto, mengatakan penyakit patek pada cabai muncul seiring kondisi lembap serta turunnya hujan.
Akibat serangan penyakit patek, ia mengaku mengalami kerugian.
Selain itu, hasil panennya menurun hingga 60 persen dibandingkan kondisi normal.
"Dengan modal lebih dari Rp 5 juta, keuntungan yang diperoleh sangat minim dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Usaha tani cabai cenderung mengalami kerugian. Dulu pernah bagus, kami bisa mendapatkan untung Rp 15 juta sampai Rp 20 juta," katanya, Selasa (20/1/2026).
Ia mengungkapkan, tanda tanaman cabai terkena penyakit patek, yakni timbulnya bintik-bintik hitam atau jamur pada buah cabai.
Jamur kemudian menyebar ke buah cabai lainnya dalam satu pohon.
Baca juga: Toko Petasan di Nganjuk Meledak dan Terbakar, Bermula dari Bakar Sampah Ditinggal ke Kamar Mandi
Buah cabai yang seharusnya siap dipanen pun justru mengalami pembusukan.
"Misal da satu cabai yang terkena di satu pohin, dalam dua sampai tiga hari hampir satu pohon terkena semua," ungkapnya.
Penyakit patek terjadi di lahan pertanian cabai seluas sekitar 10 hektare yang tersebar di seluruh wilayah Desa Jatigreges.
Sebagian petani memilih membiarkan tanaman cabai yang terserang tanpa penanganan khusus guna menekan kerugian.
Terlebih, biaya penggunaan obat-obatan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
"Sekira 10 hektare kondisinya sama semuanya kena patek. Akhirnya, beberapa petani memilih mengganti dengan tanaman padi," jelasnya.